SUARA PEMBARUAN DAILY

Roda Kehidupan

Amin Selamatkan Slank?

Didit Majalolo

Kelompok musik Slank saat tampil di lobi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin (24/3), menyajikan lagu-lagu bertema antikorupsi.

Amin selamatkan Slank? Amin yang satu ini bukan Amien Rais yang komentarnya selalu layak kutip. Amin yang satu ini, politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Nama lengkapnya Al Amin Nur Nasution. Namanya terkenal sejak menikah dengan pedangdut Kristina, bukan karena kiprahnya sebagai politisi.

Amin yang satu ini ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Ritz Carlton di Jakarta, Rabu (9/4) dini hari. Pemimpin KPK mengatakan, Amin ditangkap karena diduga menerima suap dalam proyek alih fungsi hutan lindung Bunyu di Riau menjadi area ibu kota Kabupaten Bintan.

Penangkapan Amin terjadi setelah beberapa hari sebelumnya tersiar kabar bahwa teman-teman Amin di parlemen berniat melakukan tindakan hukum terhadap Slank.

Slank, dalam kacamata politikus Gayus Lumbuun, telah mencemarkan nama baik mereka. Nama baik anggota DPR. Nama baik mereka yang merasa wakil rakyat, dan memang media sering menyebut mereka wakil rakyat.

Lalu apa hubungan antara Slank dan Amin? Narasi di atas belum jelas menerangkannya. Urusannya berkaitan dengan lagu berjudul Gosip Jalanan. Petikan lagu itu, "Mau tahu gak mafia di Senayan. Kerjanya tukang buat peraturan. Bikin UUD...Ujung-ujungnya Duit..."

Isi lagu yang sejatinya telah beredar sejak 2004 itulah yang rupanya membuat gerah para politisi. Mereka tidak terima. Bisa dimengerti jika muncul perlawanan dari Senayan, kawasan yang sering diidentikkan sebagai kawasan milik para politisi.

Argumen para politisi, sebagaimana dikatakan Gayus Lumbuun yang sekarang menyandang jabatan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR, lagu Slank, kurang lebih ialah, merusak kehormatan DPR.

Rencana DPR melakukan tindakan hukum terhadap Slank, meredup setelah muncul berita penangkapan Amin. Tidak ada penjelasan dari Gayus soal batalnya rencana para politisi untuk melakukan tindakan hukum terhadap Slank. Tidak ada keterangan mengenai hubungan antara penangkapan Amin dan batalnya langkah politisi itu.

Gayus yang biasanya terampil memberikan komentar, sebagaimana dimuat di sejumlah media massa hanya memberikan keterangan singkat mengenai pembatalan langkah hukum terhadap Slank. Intinya, biar rakyat yang memberikan penilaian terhadap isi lagu itu.

Kalau Bisa

Memang tidak semua rakyat bisa dimintai pendapat mengenai isi lagu itu. Tapi, coba buka mesin pencari google. Ketik Slank. Komentarnya nyaris seragam. Mengecam rencana DPR melakukan langkah hukum terhadap Slank. Sebagian besar, komentar yang datang dari Slankers itu, mendorong agar Slank tidak takut menghadapi manuver para politisi. Slankers adalah komunitas penggemar Slank, dan mereka selalu menuliskan kelompok musik kesayangannya dengan huruf besar.

"Untuk SLANK, jangan takut... Harusnya DPR sadar dan ini bisa diambil pelajaran, dan kesempatan introspeksi diri. Ga usah kebakaran jenggot, buktikan bahwa DPR bersih, kalau emang bisa!" Itu bunyi salah satu komentar penggemar Slank.

Komentar senada muncul di situs Liputan6.com. "SLANK gak salah, orang SLANK gak nyebut-nyebut DPR koq. Kalo ada yang merasa kupingnya panas karena tersindir, berarti memang realitanya begitu dong... SLANK itu jujur polos dan apa adanya. Te- rus berkarya buat SLANK, salam NgePLUR (Peace Love Unity Respect)".

Situs berita Liputan6.com yang melakukan polling soal kemarahan politisi terhadap Slanks secara sederhana mengajukan pertanyaan mengenai siapa yang lebih dipercaya, DPR atau Slank. Polling yang tidak ilmiah dan hanya mengandalkan opini para pengakses situs itu hingga Senin (14/4) pukul 16.35 WIB layak diperhatikan politisi.

Sembilan puluh delapan persen atau 4.441 pengakses situs itu menyatakan lebih percaya kepada Slank. Suara untuk DPR datang hanya dari 61 pengakses (1 persen). Empat puluh lima pengakses lainnya bersikap abstain.

Lepas dari perkembangan positif untuk Slank, reaksi personel Slank sejak awal sudah bisa diduga. Seperti gaya keseharian mereka saat membawakan lagu-lagu, Bimbim, Kaka, Ridho, Abdee, Ivanka, bersikap santai. Mereka malah berencana membuat lagu dengan tema yang sama dalam waktu dekat ini. Ya, soal praktik korupsi dan tingkah laku para politisi di Senayan, tentunya.

Pekan ini mereka akan lebih sibuk menggelar konser di sejumlah tempat di dalam negeri dan di Timor Leste. Mereka juga tengah melanjutkan rencana tahun 2003 untuk membuat film dokumenter tentang Slank yang digarap sutradara Garin Nugroho. Singkat kata, Slank tidak punya kesibukan seperti para politisi. Kelompok musik yang pada 1983 bernama Cikini Stones Complex (CSC) itu dengan ringan sesekali mengikuti pemberitaan yang berkaitan dengan mereka.

Uniknya, menyusul berita penangkapan Amin Nasution, terjadi hujan dukungan dari teman-teman Amin di parlemen kepada Slank.

Empat Tahun

Lagu Gosip Jalanan sejatinya sudah berusia empat tahun. Mungkin karena kesibukannya, politisi di Senayan tidak sempat mendengar lagu karya Slank itu. Lagu itu kembali diingat saat Slank pentas di gedung KPK, Senin (24/3) lalu.

Penampilan Slank di KPK jelas merupakan sikap personel Slank untuk ikut serta menggalakkan pemberantasan korupsi dengan KPK. "Kita akan terus bernyanyi dan menyadarkan bahwa korupsi adalah tindak kejahatan dan pengkhianatan," ujar vokalis Slank, Kaka, saat naik pentas di KPK.

Penampilan Slank di KPK itulah yang rupanya membuat politisi kegerahan. Padahal, jika mau meluangkan waktu mendengar lagu-lagu Slanks, politisi bukan hanya bisa menikmati lagu Ku Tak Bisa. Masalah yang terjadi di masyarakat dan kritik sosial Slank sudah muncul dalam lagu Hey Bung, Birokrasi Kompleks.

Penulis buku Simfoni Indonesia, Antologi Lagu untuk Negari, Arief J Wicaksono malah memilih tiga lagu Slank dalam buku itu. Buku karya mantan jurnalis HU Suara Pembaruan itu membuktikan bahwa lagu-lagu bermuatan kebangsaan dan nasionalisme bukan hanya monopoli Cornel Simanjuntak, WR Supratman, dan Ismail Marzuki. Harry Roesli lewat lagu Jangan Menangis Indonesia, Iwan Fals dan Franky Sahilatua lewat Di Bawah Tiang Bendera, dan juga Slank, telah menyumbangkan sesuatu untuk bangsa ini.

Tiga lagu Slank yang terpilih dalam buku itu berjudul Hujan, Bendera Tiang, dan Indonesiakan Una. Penggalan lagu Indonesiakan Una begitu sederhana dan memotret kenyataan sehari-hari, "Manusia di sini mulai tidak manusiawi. Dan kebenaran mulai jadi barang opini..."

Mungkin ada baiknya kita bersama mendengar lagu-lagu Slank yang mudah dicerna sambil menanti bukan hanya kelanjutan kasus dugaan suap Amin Nasution. Kita nantikan pengusutan kasus dugaan aliran dana Bank Indonesia ke beberapa anggota DPR yang beritanya agak menghilang menyusul penangkapan Amin. [SP/Aa Sudirman]


Last modified: 15/4/08