
ehari-hari Evelyn Suleeman (51) sudah disibukkan dengan kegiatan mengajar dan meneliti, selain sebagai ibu rumah tangga. Ia dosen di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Sesekali ia tampil sebagai pembicara di berbagai forum seminar. Sering kali ia melayani permintaan wawancara beberapa majalah keluarga, untuk mengupas masalah-masalah sosiologi keluarga.
Lalu, sejak sebuah mimpi menghampirinya tahun lalu, kini ia punya kesibukan lain. "Saya ingin menjadikan lingkungan Indonesia lebih bersih dan hijau dalam jangka waktu sepuluh tahun," katanya.
Keinginan itu berkembang menjadi komitmen dan tekad untuk menyosialisasikan kampanye peduli lingkungan. Evelyn, yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga pencinta lingkungan, dan mengakui di dalam jiwanya sempat melekat jiwa petani, memulainya dari lingkungan terdekat dengannya. Lingkungan rumah.
Kehijauan tanaman mendominasi pemandangan ketika menginjakkan kaki di rumahnya yang sederhana di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, pada Sabtu 29 Maret lalu. Tak satu sudut pun terlewat. Mulai dari pohon berukuran sedang sampai besar tumbuh subur di halaman rumahnya. Belum lagi tanaman hias di pot-pot gantung, juga bibit-bibit tanaman yang diperbanyak di beberapa baris gelas plastik bekas kemasan minuman mineral. Selain itu, ibu dari seorang anak bernama Gabriel Ekaputra (17) itu juga menanam tanaman-tanaman berkhasiat obat agar taman yang ia buat juga bisa berfungsi sebagai apotek hidup.
Di tengah-tengah kesegaran pemandangan asri di sekeliling teras rumah itu Evelyn mengajak berbincang. Kelelahan masih membayang di air mukanya. Ternyata, sore itu ia belum sempat beristirahat barang sejenak setelah melakukan kegiatan yang padat sepanjang hari. Sambil mengawali percakapan, ia mengaku sempat salah naik kereta dalam perjalanan pulang dari Depok.
Kendati demikian, keramahannya mampu menebar kehangatan. Terlebih ketika topik pembicaraan sampai pada kegiatan-kegiatan dan pengalamannya selama menyosialisasikan lingkungan hidup.
Evelyn yang juga menjabat sebagai staf di badan penelitian Insan Hitawasana Sejahtera (IHS) itu sering kali disibukkan dengan kegiatan ke luar kota. Pada saat seperti itu ia selalu berusaha mendapatkan kesempatan menjadi pembicara di sebuah komunitas.
Dengan bercanda, ia menuturkan, meski dalam durasi singkat sekali pun, ia bersikukuh minta waktu untuk menjadi pembicara. Ia ingin menyampaikan permasalahan lingkungan beserta solusi-solusinya. Semua itu semata-mata untuk menyadarkan masyarakat setempat, meski mungkin hanya segelintir orang, agar lebih menghargai lingkungan.
Pada usianya yang ke-52 Desember mendatang, Evelyn masih mengerjakan setumpuk kegiatan. Tidak jarang ia menempuh perjalanan jauh baik di dalam ataupun luar kota. Ia selalu memilih menggunakan jasa transportasi umum. Evelyn dan suaminya, Trisno Subiakto Sutanto (45) yang berprofesi penulis, bersepakat tidak membeli kendaraan pribadi.
"Lantan Bentala"
Idealisme perempuan yang menyelesaikan program S2 jurusan sosiologi keluarga di Michigan University, Amerika Serikat itu, begitu tinggi jika menyangkut kesadaran lingkungan. Komitmen ia wujudkan dengan menyatukan perkataan dan perbuatan. Selain "menghijaukan" lingkungan rumah, ia mengelola dan memilah sampah rumah tangganya, mengubah sampah basah tak berguna di dapurnya menjadi kompos untuk tanaman-tanaman koleksinya. Di halaman yang tidak seberapa besar, ia juga mengumpulkan sampah-sampah kering untuk dijual.
Di sekitar lingkungan perumahan tempat tinggalnya, Evelyn dikenal sebagai sosok yang sangat telaten bercocok tanam. Tetangganya bahkan pernah menyerahkan tanaman yang sudah sekarat untuk ia rawat. Benar saja, tanaman itu kembali segar di tangan ajaib perempuan berparas keibuan yang berpenampilan sederhana itu.
"Tumbuhan punya nyawa, sama seperti manusia. Mereka pun butuh perhatian dan perlu diperlakukan layaknya makhluk hidup. Saya yakin, jika kita memperlakukan bumi ini dengan baik, bumi pun akan baik kepada kita," ujarnya.
Demi mewujudkan mimpi menjadikan Indonesia lebih bersih dan hijau itu Evelyn tak henti memutar otak mencari cara untuk dapat membagikan informasi berharga kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Langkah pertama yang terlintas di benak adalah mengumpulkan teman-teman sesama pengajar Sosiologi UI untuk bersama-sama berpikir dan menemukan cara terbaik. Ia mendapatkan masukan dari teman-temannya itu untuk mengajak orang-orang yang punya kepedulian kepada lingkungan dengan menulis newsletter atau surat dalam format berita yang dikirimkan melalui surat elektronik (e-mail).
Dibantu suaminya, tercetuslah nama Lantan Bentala untuk newsletter yang dipublikasikan melalui e-mail itu. Lantan diambil dari bahasa Minang berarti "memelihara". Bentala berasal dari kata Melayu Kuno, berarti "bumi". Jika dirangkai, Lantan Bentala bermakna "memelihara bumi".
Menyebarkan berita melalui e-mail itu sekaligus membuatnya tidak perlu membuang-buang kertas. "Kertas itu kan dibuat dari pohon. Bagaimana bisa mewujudkan Indonesia yang hijau kalau perilaku saya masih tidak mencerminkan rasa peduli lingkungan?" katanya. "Dengan menggunakan e-mail pula orang bisa dengan mudah mem-forward newsletter kepada teman-teman mereka," ia menambahkan.
500 Pelanggan
Edisi pertama newsletter Lantan Bentala dipublikasikan pada Maret 2007. Dua minggu sekali Evelyn rutin menulis dan mengirimkan newsletter kepada teman-temannya. Tidak jarang ia mendapatkan respons baik, sampai sesekali berujung pada suatu pertemuan untuk membicarakan topik yang ditulis dalam newsletter edisi berikut.
Satu dari sekian banyak respons yang masuk dalam kolom interaktif Lantan Bentala dikirimkan David Widihandojo, "Terima kasih atas ajakannya, saya benar-benar sudah rindu melihat Indonesia yang ber- sih, hijau, dan segar. Ge- rakan Anda bagaikan angin segar yang bertiup di tengah gurun yang kering kerontang."
Dari lima orang yang berpartisipasi dan berasal dari kalangan teman-teman Evelyn sen- diri, kini tercatat kurang lebih 500 pelanggan newsletter. Mereka setia menanti tulisan Evelyn tentang isu lingkungan hidup setiap Senin, dua minggu sekali.
Materi-materi yang berbicara tentang isu lingkungan hidup, bencana, atau persoalan lingkungan yang sedang terjadi di seluruh penjuru dunia tidak luput dari perhatiannya. Ia mengangkat isu-isu lingkungan seperti pembalakan hutan, polusi udara, polusi air, pembajakan sumber daya laut, juga mengajak masyarakat membudayakan pemilahan sampah, sampai isu terakhir tentang pemanasan global yang digaungkan penerima Hadiah Nobel Al Gore.
Evelyn mengemas isu-isu tersebut menggunakan bahasa yang luwes sehingga lebih menarik dan mudah dimengerti pembaca setianya. Pada edisi ketiga, misalnya, di bawah judul "Masih Adakah Harapan Indonesia Bisa Hijau Lagi?", ia mengupas tentang perbandingan sistem penanganan kebersihan di beberapa negara di dunia dengan Indonesia. Keluwesan bahasa tercermin dari cuplikan kalimat yang berbicara tentang ibu kota Swedia, Stockholm, "Ibu kota Swedia, sebuah negara yang terkenal superbersih -dengan penduduk sekitar 1 juta, masih saja 'super' ketat dengan aturan lalu lintasnya."
Kini, Lantan Bentala telah diresmikan sebagai yayasan dan telah memiliki akte dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Meski program-programnya masih sederhana, dan penyebarluasan newsletter terbatas, Lantan Bentala terus mengarah pada perwujudan sadar lingkungan dalam masyarakat.
Apa pun akan dilakukan Evelyn untuk mewujudkan mimpinya. "Waktu saya tinggal sembilan tahun, sudah lewat satu tahun sejak mimpi itu menjadi beban dalam kehidupan saya. Jiwa dan raga akan saya kerahkan untuk menjadikannya kenyataan," ujar Evelyn. [Wiwin Wirwidya Hendra]