SUARA PEMBARUAN DAILY

Tenis

Pembentukan Tim Nasional Harus Adil

Deddy Prasetyo

[JAKARTA] Pembentukan tim tenis nasional untuk menghadapi turnamen penting seperti Piala Davis harus dilakukan secara fair (adil dan jujur). Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti) diimbau untuk membuat kriteria yang jelas dan perencanaan yang matang agar terbentuk tim yang tangguh.

Hal ini dikemukakan pelatih Klub Tenis Detec, Deddy Prasetyo di Jakarta, Selasa (15/4), menyikapi kekalahan tim Indonesia 2-3 dari tim Tiongkok pada kejuaraan tenis beregu putra Piala Davis. Dia setuju dengan pemikiran regenerasi pemain di tim nasional yang digagas oleh PP Pelti. Namun, dia mengingatkan regenerasi bukan berarti serta merta menyingkirkan pemain senior dan menggantikannya dengan pemain junior.

"Harus ada mekanisme seleksi serta promosi dan degradasi sehingga seluruh pemain memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih memperkuat tim nasional," kata dia.

Dedy mengusulkan perekrutan pemain dilakukan dengan lebih dulu mendahulukan peringkat mereka di kancah internasional (peringkat ATP/Asosiasi Tenis Profesional untuk putra dan WTA/Asosiasi Tenis Wanita untuk pemain putri). Bagi pemain yang tidak memiliki peringkat internasional ATP maupun WTA, dapat digunakan peringkat nasional Pelti (PNP).

Dia menyarankan PP Pelti merekrut 10 pemain untuk stok tim nasional. Peringkat pemain di tim nasional disusun berdasarkan peringkat ATP, WTA, dan PNP tersebut. Di samping itu juga dilihat rekor pertemuan antarpemain.

Seleksi

Penentuan empat pemain yang memperkuat tim Piala Davis misalnya, menurut dia, dapat dilakukan melalui seleksi sebulan sebelum kejuaraan berlangsung. "Di samping itu secara berkala dilakukan seleksi promosi dan degradasi. Dengan demikian para pemain termotivasi untuk mempertahankan prestasi mereka. Sementara pemain lain di luar sepuluh besar juga tertantang untuk dapat masuk tim nasional," Deddy memaparkan.

Bagaimana dengan pembiayaan tim? Menurut Deddy bila tidak ada kejuaraan, maka pemain peringkat kelima hingga 10 dikembalikan ke klub masing-masing, dengan status tetap sebagai pemain nasional. Sedangkan peringkat pertama hingga keempat difasilitasi dengan diterjunkan pada turnamen-turnamen internasional. Dia menyarankan biayanya dapat dirundingkan antara PP Pelti dengan klub masing-masing.

"Jangan seperti sekarang semua ditangani Pengurus Pelti sendiri. Ini namanya cari penyakit atau cari susah sendiri," tutur Deddy.

Deddy juga mengkritik penanganan pemain tim nasional yang seolah-olah dicabut begitu saja dari klubnya. Menurut dia, pelatih tim nasional tetap harus berkonsultasi dengan pelatih klub masing-masing pemain atau pelatih pribadinya. Konsultasi ini dimaksudkan untuk menyusun program yang sesuai dengan kualitas dan kapasitas pemain bersangkutan. [A-11]


Last modified: 15/4/08