[JAKARTA] Sekitar 85 persen bangunan di Indonesia tidak memasukkan faktor gempa dalam perancangan konstruksi bangunannya. Akibatnya, ancaman ambruknya bangunan jika terjadi gempa menjadi sangat besar. Data itu diperoleh dengan melihat persentase bangunan yang didesain oleh para insinyur masih sangat rendah
"Bangunan atau gedung yang didesain insinyur itu hanya 15 persen dari bangunan yang ada saat ini. Namun, tidak semua bangunan yang dirancang insinyur itu aman terhadap gempa," kata Ketua Asosiasi Ahli Rekayasa Kegempaan Indonesia (AARKI), Adang Surahman, pada Konferensi Internasional tentang Gempa Bumi dan Mitigasi Bencana 2008, di Jakarta, Senin (14/4), mengatakan,.
Kondisi ini, kita Adang, cukup memprihatinkan, apalagi mengingat ancaman gempa di sebagian besar wilayah Indonesia masih cukup tinggi. Dia mengatakan, jika masyarakat memasukkan faktor gempa ke dalam perancangan bangunan secara tepat, biaya yang dibutuhkan untuk menciptakan bangunan yang aman dari gempa hanya tujuh persen lebih besar dari nilai bangunan yang tidak memasukkan faktor gempa.
Menurut Adang, untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak akibat bangunan roboh karena gempa, dalam setiap perancangan bangunan baru harus memasukkan faktor gempa di dalamnya. Sedangkan untuk bangunan lama, diperlukan penguatan-penguatan di beberapa struktur bangunan.
Dia mencontohkan, Kota Bandung di Jawa Barat, dalam rentang waktu mulai saat ini hingga 80 tahun ke depan sedang dalam ancaman gempa yang cukup besar. Gempa yang diprediksi akan terjadi tersebut merupakan gempa dua ratus tahunan. "Gempa dahsyat di Bandung terjadi 120 tahun lalu. Jadi gempa yang sama kira-kira akan terulang, bisa saja hari ini sampai 80 tahun lagi," ujarnya.
Adang memprediksi, jika pemerintah dan masyarakat tidak melakukan perbaikan-perbaikan bangunan untuk menahan getaran gempa, korban yang mungkin jatuh berjumlah sekitar 2.500 orang dengan estimasi penduduk sesuai tahun 1996. "Kemungkinan terjadinya gempa dahsyat di Bandung sekitar 60 persen," katanya.
Sementara itu, Ketua Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung (ITB), Wayan Sengara, mengatakan, Pemerintah harus proaktif melakukan penguatan-penguatan struktur bangunan untuk mencegah dampak bencana yang semakin besar. [E-7]