SUARA PEMBARUAN DAILY

Berlusconi Menangi Pemilu Italia

AP - Silvio Berlusconi

[ROMA] Pemimpin konservatif Silvio Berlusconi meraih kemenangan mutlak dalam pemilu parlementer Italia, Senin (14/4). Kemenangan tak urung menempatkan miliuner sekaligus pendukung setia Amerika Serikat tersebut untuk menduduki jabatan perdana menteri Italia yang ketiga kalinya.

Kemenangan dalam pemilu parlementer Italia yang digelar Minggu dan Senin, menandai kembalinya Berlusconi yang kini berusia 71 tahun ke puncak kekuasaan secara gemilang. Keberhasilan Berlusconi sekaligus membalas kekalahan yang dia terima dua tahun lalu dari tangan kubu kiri tengah, sehingga membuat dia tergusur dari kursi perdana menteri.

"Saya tergerak, saya merasa punya tanggung jawab sangat besar," ungkap Berlusconi dalam pernyataan yang disampaikan per telepon kepada RAI, sebuah televisi publik. Berlusconi, yang juga seorang raja media massa, hingga kemarin masih belum tampil di depan publik. Dia menerima hasil-hasil pemilu parlementer dari vilanya di luar kota Milan.

Kemenangan tersebut membuktikan betapa panjang usia karir politik politisi konservatif itu. Sedemikian panjang karir politik Berlusconi sehingga Bild, suratkabar Jerman yang bersirkulasi sangat besar, pada Senin (14/4) membandingkan ia setara dengan sebuah karakter yang tidak pernah tamat riwayatnya dalam film-film "Highlander".

Pemilu parlementer pekan ini adalah kampanye nasional berturut-turut Berlusconi yang ke-5 sejak 1994, ketika dia mulai menginjakkan kaki ke kancah perpolitikan dari yang semula hanya berkutat di kerajaan medianya dan ini diperkirakan bernilai US$ 9,4 miliar. Berlusconi berhasil mengatasi tantangan-tantangan terhadap kepemimpinannya yang dilontarkan sekutu-sekutu konservatifnya, serta selamat dari persidangan-persidangan yang mengadili perkara kriminal serta tuduhan terjadinya konflik kepentingan selama dia menjabat sebagai PM Italia periode-periode sebelumnya.

Pada masa jabatan yang terakhir, Berlusconi berhasil mencatat rekor karena mampu menjalankan pemerintahan selama lima tahun, sebelum kekalahan akhirnya dia alami pada 2006. Pada periode tersebut, Berlusconi membuat kesalahan-kesalahan internasional serta keputusan-keputusan tidak populer, seperti mengirimkan 3.000 tentara ke Irak tanpa memperdulikan protes ribuan warga Italia yang memadati jalan-jalan di seantero negara tersebut. Pasukan Italia akhirnya ditarik menyusul memanasnya gelombang protes anti perang Irak.

Sahabat AS

Dalam masa pemerintahan yang baru ini, Berlusconi telah menepis kemungkinan untuk mengirim kembali pasukan Italia ke Irak. Tetapi, persahabatan Berlusconi dengan AS tampaknya tidak perlu diragukan lagi.

Berlusconi pernah mengatakan, dia sepakat dengan AS tidak perduli apapun posisi yang diambil Washington. Dia menyebut Presiden AS George W Bush sebagai seorang sahabat. Kembalinya Berlusconi ke puncak kekuasaan tampaknya akan membuat hubungan Italia dan Washington menjadi semakin hangat, tidak bergantung pada siapa akan menjadi presiden AS mendatang.

Pemerintahan PM Romano Prodi selama ini punya hubungan yang lebih dingin dengan Washington. Dan Prodi tercatat tidak pernah berkunjung ke Gedung Putih, meskipun dia berkali-kali bertemu dengan Bush di Roma dan berbagai pertemuan internasional yang lain.

Berlusconi juga menegaskan ia adalah salah satu dari sekutu terdekat Israel di Eropa. Pada Senin (14/4), Berlusconi mengatakan dia akan melakukan kunjungan luar negeri pertamanya dalam masa kepemimpinan dia yang ke-3 ke Israel, untuk ikut merayakan 60 tahun berdirinya Israel. Kunjungan itu, menurut dia, untuk memperlihatkan dukungan pada Israel "yang merupakan satu-satunya negara demokrasi nyata di Timur Tengah".

Di Senat yang beranggotakan 315 kursi, Berlusconi akan memegang kendali atas 167 kursi, sedangkan saingan terkuatnya, WalterVeltroni mengendalikan 137 kursi. Berlusconi menangguk keuntungan dari kemarahan warga Italia akibat kemandekan ekonomi negara itu, serta ketidakpopuleran pemerintahan Prodi.

"Saya pikir ini adalah pilihan untuk melawan buruknya kinerja pemerintahan Prodi dalam dua tahun terakhir ini," kata Franco Pavoncello, seorang profesor ilmu politik di John Cabot University, Roma. [AP/E-9]


Last modified: 15/4/08