SUARA PEMBARUAN DAILY

Syafrudin Menjelajahi Kegelisahan Anak-anak

repro

Lukisan "Kapal Kertas" dipamerkan di Rumah Seni Palet, Kebayoran Baru, Jakarta.

[JAKARTA] Dunia anak-anak merupakan dunia yang penuh dengan kejujuran, keluguan, dan keceriaan. Di mana pun dan kapanpun seorang anak berada, karakter mereka sama, dengan kata lain sifat anak-anak adalah universal. Tapi di balik semua keceriaan, terdapat kegelisahan yang terkadang orang dewasa tidak pernah mengetahuinya.

Kegelisahan itulah yang coba diungkapkan pelukis kelahiran Tegal, Syafrudin lewat goresan lukisannya yang dipamerkan di Rumah Seni Palet, Jakarta, 11-25 April 2008.

Pada pameran tunggal pertama kalinya itu, lulusan Seni Rupa IKIP Jakarta 1997 tersebut memamerkan 22 karya lukis yang dituangkan dengan cat minyak. Semua karya lukis yang dipamerkan menggambarkan dunia anak-anak. "Saya mencoba mengungkapkan kegelisahan dunia anak-anak," katanya di acara pembukaan pameran, di Jakarta, Jumat (11/4).

Kegelisahan dunia anak-anak terlihat pada karya Syafrudin berjudul "Di antara sosok penumpang KRL" di atas kanvas minyak berukuran 100 cm x 100 cm. Seorang anak kecil bertelanjang dada dalam posisi tubuh telentang sedang membawa mangkuk meminta belas kasih penumpang kereta api listrik (KRL).

Para penumpang digambarkan dengan bentuk kaki-kaki bersepatu, seolah-olah tak peduli kehadiran sang anak di dekatnya.

"Banyak anak-anak tak punya waktu untuk bermain, bahkan sebagian dari anak-anak menjadi seorang pekerja," kata pelukis yang juga pemilik sanggar Mutiara Art and Craft itu.

Menurut Syafrudin, kegelisahan anak yang ditangkapnya dilatarbelakangi kesehariannya berinteraksi dengan anak-anak. Dia mencoba mendalami dan melakukan uji coba di kanvas kecil. "Saya mempersepsikan, dan membuat karakter dengan meminjam gaya anak-anak," katanya.

Syafrudin mengatakan, lukisan-lukisan yang digoreskan hanya meminjam gaya anak-anak bukan mencontek gambar anak-anak, sedangkan tekniknya adalah teknik orang dewasa. Dia merasa berdosa jika menyontek gambar anak-anak.

Warna-warna yang digunakannya juga melukiskan dunia anak yang penuh dengan suasana bermain yang penuh warna. Pada lukisan berjudul Menjaga Keseimbangan, pria yang pernah mengajar di beberapa Taman Kanak-kanak itu menggunakan warna-warna terang seperti merah dan kuning.

Seniman asal Yogyakarta yang juga hadir di acara pembukaan pameran, Yuswantoro Adi mengatakan cara menggambar Syafrudin sudah menggambarkan dunia anak-anak.

Namun, karena pameran perdana, masih terdapat beberapa kelemahan yang harus di perhatikan. "Persoalannya Syafrudin bukan anak-anak dan dia menggambar dengan gaya anak-anak, di situ dia akan menjadi menarik bila idiom anak-anak diperkaya kembali karena dia bukan anak-anak lagi," katanya.

Menurut Yus, lukisan pelukis yang akrab disapa Syaf itu adalah karya anak-anak tetapi dengan pendekatan orang dewasa. "Saya melihat komposisi dia, cara dia menggambar enak, yang membuat karyanya berbeda dengan lukisan anak-anak adalah background-nya, warnanya, teknik, cuma itu saja," kata Yus.

Yus mengatakan, seharusnya Syafrudin lebih banyak mengolah masalah-masalah sosial karena ada persoalan sosial lain yang ada di seputar anak-anak, seperti pendidikan.

"Pendidikan mahal, itu persoalan anak-anak lho saya dulu ujian biasa. Sekarang sampai perlu bimbingan belajar, psikolog untuk ujian nasional. Sekolah kok susah. Saya pikir itu persoalan yang menarik kalau Syafrudin mau mengangkatnya," ujarnya.

Kendati demikian, secara keseluruhan Yus mengakui, Syafrudin bukan tipikal pelukis yang hanya sekedar "lari" dari dunia seni lukis, sehingga menggambar dengan gaya anak-anak.

Senada hal itu, seniman lainnya, Dik Doank, yang terlihat datang bersama istri dan kedua anaknya mengatakan, lukisan-lukisan Syafrudin, sudah berbicara pada pengunjung yang menyaksikan karyanya. [K-11/SYH/N-4]


Last modified: 15/4/08