"Kutuliskan lagu ini, kupersembahkan kepadamu; Walaupun tiada indah, syair lagu yang kugubah. Kuingatkan kepadamu akan janjimu padaku; Hanyalah satu pintaku jangan kau lupakan itu. Sewindu terasa sudah, duhai gadis pujaanku, cintaku hanya padamu"
Potongan lirik lagu berjudul Gubahanku milik Broery Pesolima atau Broery Marantika ini terkenal di awal 1980-an. Penyanyi yang melegenda ini terkenal dengan gaya bernyanyi soulfull, sehingga pendengarnya mampu terbuai dalam syair-syairnya. Selain piawai melantunkan lagu, Broery juga memiliki kharisma panggung yang luar biasa, serta talenta yang jarang dimiliki penyanyi lain.
Sebagai penghargaan pada sang maestro, maka pada 1 Agustus 2008 diadakan acara bertajuk Tagline Well Never Forget, di Balai Sarbini, Jakarta. Acara yang berlangsung pukul 19.00 WIB ini bertujuan memberi perhatian dan penghargaan bagi seorang maestro Indonesia. Konsep dari acara ini adalah mengajak masyarakat bersatu memberi perhatian pada pahlawan, khususnya mereka yang berjasa di bidang seni dan budaya. Perjalanan hidup Broery akan ditampilkan sekilas, sehingga para penonton yang datang seolah kembali ke masa lalu.
Beberapa penyanyi seangkatan Broery direncanakan hadir dalam acara ini. Seperti penyanyi Bob Tutupoli, Diana Nasution, dan Dewi Yull. Selain penyanyi senior, artis lain yang ikut meramaikan acara ini Harvey Malaiholo, Keris Patih, Tompi, Rio Febian, Ello, Ruth Sahanaya, Gita Gutawa, Yovie Nuno.
Broery Pesolima adalah sosok penyanyi yang namanya mulai memudar saat ini. Terlebih lagi, selama sewindu Broery meninggalkan industri musik untuk selamanya. Awalnya, dia terjun ke industri musik Indonesia pada tahun 1964 dengan mengikuti kontes nyanyi Radio Republik Indonesia (RRI). Broery pun memulai karir profesional pada tahun 1968.
Penyanyi yang dikenal sebagai maestro musik ini, pada eranya merupakan sosok berpengaruh dan memberi warna pada industri musik Indonesia, serta dunia musik internasional. Bahkan Broery adalah salah satu dari segelintir artis Indonesia yang merilis album dengan label dari negara lain. Jauh sebelum artis-artis Indonesia mendapat penghargaan dari negara lain, Broery sudah berhasil meraihnya.
Warisan yang ditinggalkan Broery pada musik Indonesia, yakni lagu-lagu yang mempunyai nilai seni serta pesan luhur. Dalam lagunya dia seolah berpesan Indonesia harus bersatu dan melepaskan semua keterbatasan dalam berekspresi.
Namun, Broery tidak sendiri, dia bersama para pahlawan musisi ternama pada saat itu mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Sebut saja Remy Leimena, The Pro's (Dimas Wahab (bas), Pomo (tiup), Enteng Tanamal (gitar), Fuad Hasan (drum)), A Riyanto, Bob Tutupoli, Adibah Noor, Irma Pane, Vina Panduwinata, Chrisye, Dewi Yull dan musisi-musisi lainnya.
Keunikan dari Broery adalah dia mampu menyanyikan hampir semua genre musik, mulai dari pop, jazz bahkan keroncong dengan tanpa cela. Lagu-lagu yang dinyanyikannya menjadi hidup bahkan menjadi hits di Indonesia dan di luar negeri. Ketika artis-artis sekarang mungkin hanya mampu menjadi 'jago kandang', Broery justru menunjukkan prestasi luar biasa di negeri orang. Kemauan untuk belajar, bereksplorasi, serta mengembangkan pengetahuan dalam bermusik membawa Broery menjadi penyanyi yang kaya keterampilan dan berwawasan luas. [EAS/N-4]