tephanie Onggowinoto, pianis remaja usia 13 tahun menggelar resital karya Bach. Meskipun lebih sering menyabet juara dari kompetisi karya Mozart, Stephanie toh berhasil memukau penontonnya. Setiap hari, dia berlatih lebih dua jam.
Komposer asal Jerman, Johann Sebastian Bach (1685-1750) dikenal sebagai musisi yang religius. Dia banyak menghasilkan karya-karya untuk gereja seperti chorale, komposisi untuk organ, dan kantata. Tetapi, Bach juga mampu membuat komposisi yang sifatnya sekuler dengan jalinan tema dan subtema yang cepat dikenal dengan sebutan kontrapung.
Ketika menetap di Leipzig, Bach banyak menulis karya untuk kibor di antaranya adalah enam partita yang merupakan rangkaian tari-tarian. Karya fenomenalnya adalah Partita No.1. Dimulai dengan praeludium diikuti allemande, courante, sarabande, dan gigue.
Partita No.1 banyak menampilkan nada-nada yang variatif. Karya Bach yang sempat ditentang oleh kalangan gereja ini, ternyata dianggap sebagai musik dalam sebuah tema dan variatif yang paling agung dalam sebuah repertoar musik kibor.
Karya Partita No.1 Bach itulah yang mengawali resital piano tunggal pianis muda Indonesia, Stephanie Onggowinoto di Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (13/4) petang.
Jemari gadis berusia 13 tahun ini begitu lincah menari di atas tuts-tuts piano dalam memainkan karya pamungkas Bach, sebelum sang komposer ini meninggal dunia. Bunyi piano yang dimainkan Stephanie membuat ratusan penonton yang kebanyakan anak-anak dan pelajar ini terbawa ke alam yang damai. Selama 15 menit, Stephanie benar-benar membuai penonton dengan permainan Partita No 1 yang dibuat Bach dengan penuh emosi dan kelembutan.
Setelah Partita No.1, pianis kelahiran 19 Januari 1995 yang sudah beberapa kali mendapat penghargaan ini, memainkan Citra karya guru musiknya Johannes S Nugroho. Di sini, jemarinya lebih banyak bermain dengan nada tinggi dan sangat energik.
Sebelum jeda, penonton disuguhi permainan karya Claude Debussy (1862-1918), Two Preludes from Book 2, yaitu La Puerta Del Vino dengan irama lambat dan sedang, kemudian Feuz d'Artificie yang cepat dan bertenaga. Setelah istirahat 20 menit, Sonata in D Major, KV 576 karya Wolfgand Amadeus Mozart (1756-1791) berkumandang.
Konsentrasi yang lebih dalam terlihat ketika Stephanie memainkan dua karya komposer idolanya Franz Liszt (1811-1886) dari Hongaria, Etude de Concert No.2 "La Leggierezza" dan Hungarian Rhapsody No.11 di akhir pertunjukan. Pada dua lagu tersebut, Stehanie mampu menata emosinya dalam memainkan jemari tangannya. Sementara itu, Hungarian Rhapsody No 11 yang durasinya paling pendek (empat menit) namun sangat menantang dari karya-karya Liszt ini terdiri dari empat bagian dengan tanda tempo Lento a capriccio, Adante sostenuto, Vivace, dan Prestissimo.
"Saya sangat suka memainkan karya Liszt karena memiliki banyak karakter. Karya-karyanya juga selalu diakhiri dengan oktaf-oktaf yang megah, sehingga terdengar sangat modern ketimbang karya-karya komposer klasik lainnya," ujar Stephanie kepada SP seusai pertunjukan.
Untuk resital piano tunggal ini, Stephanie mengaku berlatih dengan serius selama dua jam setiap hari, sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu berlatih selama tiga jam. Kalau tidak ada kegiatan, dia melatih jemari tangannya di atas tuts-tuts piano selama 90 menit. Bagi Stephanie sendiri, resital piano yang digelar Konservatorium Musik Jakarta ini adalah satu dari tiga konser yang harus dilakukan sebagai syarat untuk bisa melanjutkan program pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu program diploma. Kini Stephanie adalah siswi Program Seniman Muda Koservatorium Musik Jakarta.
Hanya saja, sisa dua konser tidak mungkin bisa dilakukan Stephanie pada tahun 2008 ini karena sangat sibuk. Seperti yang dijelaskan ayahnya, Onggowinoto, selain mengikuti berbagai lomba di dalam negeri, Stephanie juga akan mengikuti lomba di luar negeri seperti Jerman dan Malaysia. Selain itu, dia juga akan ujian untuk bisa masuk National University of Singapore. [F-4]