SUARA PEMBARUAN DAILY

Lakshmi Mittal, dari India, ke Indonesia, lalu ke Inggris

 Lakshmi Mittal

Sekitar 30-35 tahun lalu, nama Lakshmi Mittal mungkin terdengar asing. Dia hanya seorang pria berkewarganegaraan India yang berimigrasi ke Sidoarjo, Jawa Timur, bersama keluarganya. Mereka mencoba peruntungan dengan menggeluti bisnis baja.

Tetapi siapa sangka, kini namanya dikenal luas, lantaran usaha bajanya mampu membuat dia mengantongi miliaran dolar AS.

Lakshmi merintis karier menjadi pengusaha baja ketika dia dan keluarganya mengambil alih perusahaan baja di Sidoarjo. Perusahaan tersebut, merupakan perusahaan besi baja yang terus mengalami kerugian.

Tetapi, tak butuh waktu lama bagi Lakshmi untuk menyulapnya menjadi ladang emas. Benar saja. Perusahaan baja yang dulu "berkeringat darah" menjadi batu loncatan yang mengantar Lakshmi ke dunia internasional.

Sayang, pada tahun 1994, saat bisnis keluarga itu tengah menanjak, sebuah perbedaan, membuat usaha itu pecah. Lakshmi lantas memilih jalan membesarkan usahanya sendiri, tanpa melibatkan keluarga.

Lakshmi pindah ke London, Inggris. Karier pria lulusan perguruan tinggi St Xavier, Kolkata, India, itu pun semakin melambung. Penghasilannya dari perusahaan baja Mittal Steel yang dipimpinnya, mengalir deras mengisi pundi-pundinya.

Kemudian, Lakshmi diberitakan menjadi orang terkaya di Inggris pada tahun 2005. Dia menjadi pejabat eksekutif tertinggi (chief executive officer), sekaligus presiden direktur untuk Arcellor Mittal. Perusahaan penghasil baja terbesar dunia itu, memiliki aset perusahaan baja di 15 negara, antara lain di Perancis, Belgia, Afrika Selatan, Polandia, Kazakhstan, Kanada, Amerika Serikat, Brazil, dan Meksiko, termasuk juga Indonesia.

Majalah Forbes, Maret 2008 lalu, kembali mengumumkan, Lakshmi sebagai orang nomor empat terkaya di dunia. Majalah Times bahkan telah menghitung total kekayaan yang diraih Lakshmi, yakni mencapai 19,25 miliar poundsterling, naik satu peringkat dibanding tahun sebelumnya, yang hanya mampu mengantongi 14,9 miliar poundsterling.

Tempat tinggalnya di Kensington Palace Gardens, Inggris, didesain seperti Taj Mahal, salah satu keajaiban dunia di India. Lakshmi membelinya dari bos Formula One, Bernie Ecclestone seharga 57 juta poundsterling. Rumahnya tersebut, sekaligus menjadi rumah termahal di dunia.

Tidak hanya sampai disitu, simbolisasi kesuksesan Lakshmi dalam bisnis tercatat melalui kisahnya ketika menikahkan putrinya, Vanisha, dengan sebuah pesta pernikahan paling mewah di abad ke-20 ini. Untuk pesta itu, konon kabarnya, dia rela menghabiskan dana US$ 60 juta atau sekitar Rp 540 miliar.

Mengenai kesuksesan, Lakhsmi hanya mengatakan, itu semua adalah hasil sebuah kerja keras. "Banyak orang bekerja keras. Karena itu, jika ingin sukses, kita harus bekerja lebih keras dan mendedikasikan diri pada tujuan yang ingin kita capai," tutur Lakshmi.

Kewarganegaraan

Nilai kekayaan yang diperoleh Lakshmi memang sangat menyilaukan. Tetapi, itu semua didapatnya dari perjuangan keras puluhan tahun.

Lakshmi lahir di Sadulpur, India, 15 Juni 1950. Dia terlahir di tengah-tengah keluarga yang sangat miskin. Saat kecil, dia dan keluarganya tinggal bersama keluarga besarnya dengan jumlah penghuni rumah 20 orang.

Mereka hanya tidur di atas lantai beralaskan rotan. Untuk memasak, mereka membuat perapian dari tumpukan batu bata di belakang rumah yang dibangun oleh kakeknya.

Setahun kemudian, Lakshmi dan keluarganya pindah ke Kolkata. Di sana, ayah Lakshmi, Mohan, mendapat peluang mengubah nasib setelah bermitra dengan salah satu rekan membuat sebuah usaha di bidang baja. Dan, inilah, rupanya awal Lakshmi berhubungan dengan sebuah usaha, yang kini membesarkan namanya.

Lakhsmi kemudian menikahi Usha. Mereka dikaruniai dua anak, Aditya dan Vanisha Mittal. Saat ini, Aditya menjabat sebagai direktur keuangan untuk Arcellor Mittal.

Masa-masa sulit yang pernah dijalani Lakshmi membuat dia ingin berbagi. Beberapa media menyebutnya, sebagai seorang yang dermawan.

Di Indonesia, peraih penghargaan "Steelmaker of the Year" oleh New Steel pada tahun 1996 dan "Person of the Year" oleh Financial Times pada tahun 2006 tersebut, pernah menyumbang US$ 500.000, atau sekitar Rp 4,5 miliar untuk Aceh yang diberikan dalam bentuk pembangunan rumah sakit.

Lakshmi juga sangat peduli pada prestasi genari muda India. Dia prihatin setelah menyaksikan tunas bangsanya hanya mampu meraih satu medali perunggu pada kejuaraan Olympic pada tahun 2000, dan medali perak di tahun 2004.

Karena itu, Lakshmi memutuskan untuk mendanai 10 atlet India berpotensi untuk mendapatkan Mittal Champions Trust dengan hibah US$ 9 juta atau sekitar Rp 81 miliar.

Meski demikian, aksi sosial Lakshmi juga tidak melulu mulus. Dia sempat tersandung masalah ketika sumbangsihnya kepada Partai Buruh diawal kepemimpinan Tony Blair berkuasa di Inggris memicu skandal politik. Ironisnya, saat ini, meski telah membuka usaha dan tinggal cukup lama di Inggris, pemerintah setempat belum menerima permohonan kewarganegaraan Inggris yang diajukan pria bernama lengkap Lakshmi Niwas Mittal.

Dia harus terus memperpanjang izin tinggalnya untuk dapat tidur nyaman di istananya di Kensington Palace Gardens.

[Christine N Nababan/Berbagai Sumber]


Last modified: 15/4/08