SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Tanggapan Cigna International

Sehubungan dengan suara pembaca yang dikirim Ibu Anita ke SP tanggal 18 Maret 2008, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Karena keterbatasan informasi yang ada di redaksi, kami tidak dapat melakukan investigasi atas keluhan tersebut. Untuk itu, tanggal 25 Maret 2008 kami telah mendatangi rumah Ibu Anita untuk meminta kelangkapan data, akan tetapi kami belum berhasil bertemu dengan Ibu Anita. Kami hanya bertemu dengan orang tuanya yang tidak dapat memberikan informasi lebih lengkap selain informasi mengenai nomor telepon. Sampai saat ini kami belum berhasil menghubungi beliau di nomor telepon yang diberikan tersebut.

Walaupun demikian, kami telah meninggalkan surat konfirmasi bahwa Cigna akan membantu menyelesaikan permasalahannya dengan meninggalkan nomor telepon kami yang dapat dihubungi. Sampai sekarang kami menunggu data yang lebih lengkap dari Ibu Anita agar keluhannya dapat segera diselesaikan.

Syarifah

Marketing Communication Officer PT Asuransi Cigna

Titipan Kilat atau Titipan Salah Kirim

Pada tanggal 15 November 2007 orang tua saya (Panji), mengirimkan berkas kwitansi senilai Rp 8,2 juta rupiah dan berkas laporan lainnya melalui TIKI (Titipan Kilat) cabang Bandar Lampung di salah satu Gerai di Tulang Bawang yang beralamat di depan Pasar Unit II Tulang Bawang. Berkas tersebut di kirim kepada Bapak Budiharto dengan alamat Toko Cerlang Prabumulih Palembang sebagai laporan keuangan perusahaan.

Saat ke kantor TIKI, berkas tersebut belum dimasukkan ke dalam amplop dan mengharapkan TIKI menyediakan amplop di kantornya. Ternyata di kantor TIKI tersebut tidak menyediakan amplop. Akhirnya, ayah saya meminta tolong kepada petugas TIKI mengamplopinya. Kemudian menyerahkan kepada petugas TIKI bundle berkas yang sudah di steples rapi beserta lembaran alamat yang sudah rapi dengan ketikan komputer. Petugas TIKI pun menyanggupi untuk membantu membelikan amplop, dan untuk itu ayah saya memberikan uang Rp 5000. Ayah saya mempercayakan penrimannya kepada petugas TIKI tersebut saya pun mempercayai petugas TIKI tersebut.

Setelah 4 atau 5 hari, berkas tersebut sampai pada tujuan yaitu Bapak Budiharto. Namun, setelah di buka isinya bukanlah berkas yang dimaksud tetapi justru berkas surat cerai. Bapak Budiharto kaget kenapa justru surat cerai yang dia terima. Ayah saya dimarahi Bapak Budiharto selaku atasannya. Karena isinya berbeda, BapakBudiharto melakukan pengecekan ke TIKI Prabumulih. TIKI mengakui ada kesalahan pengiriman. Berkas surat cerai tersebut harusnya dikirim ke Semarang. Bapak Budiharto pun akhirnya mengembalikan surat cerai tersebut kepada TIKI.

Tentu saja ayah saya ingin agar berkasnya segera dikembalikan TIKI karena sangat penting. Pihak TIKI berjanji akan mencari berkas Bapak saya yang hilang, tetapi hingga sekarang pun berkas tersebut belum kunjung ditemukan. Terakhir ayah saya melakukan pengecekan ke TIKI pertengahan Februari 2008. Pihak TIKI menyatakan apabila berkas tersebut tidak ditemukan mereka akan menggantinya 10 kali biaya pengiriman. Bukan hanya kerugian material yang harus ditanggung ayah saya namun juga kerugian moral di perusahaan, mengingat berkas tersebut merupakan pertanggungjawaban terhadap perusahaan perihal keuangan perusahaan.

Puput Puspananda

Telepon: 081328020030/(0274)7818337

"Kecopetan" di ATM BCA

Saya adalah pemegang kartu ATM dari Tabungan Tahapan BCA, dengan nomor: 0141 0001 0356 XXXX. Pada tanggal 6 Februari 2008, sekitar pukul 18.30, saya melakukan penarikan tunai ATM di BCA Cabang Taman Semanan Indah (pecahan Rp 50.000). Saat itu, salah satu dari dua unit mesin ATM dalam kondisi rusak, sehingga terjadi antrean panjang di ATM yang satunya lagi.

Saya menarik Rp 1 juta. Setelah itu, saya mendengar suara penghitungan uang yang tidak seperti biasanya. Kecurigaan saya terbukti, karena uang yang keluar ternyata hanya Rp 300.000, dalam kondisi terjepit dan berantakan. Saya langsung mengecek saldo untuk mengetahui berapa saldo saya yang terdebet. Dan ternyata, saldo saya telah terdebet Rp 1 juta.

Karena uang yang saya butuhkan lebih dari Rp 300.000 pada saat itu, dengan sangat terpaksa saya melakukan penarikan lagi dengan pilihan Rp 300.000, dengan asumsi mesin tidak bekerja sempurna karena penarikan saya sebelumnya untuk nominal pilihan yang besar. Untuk penarikan yang kedua kalinya ini, uang saya keluar utuh Rp 300.000.

Pada saat itu, ada Saptam BCA yang menganjurkan saya untuk segera menelepon ke Halo BCA. Setelah saya telepon, saya mendapatkan nomor laporan 5359757. Customer service yang bersangkutan menginformasikan bahwa saya akan menerima berita paling lambat dalam 14 hari kerja, atau paling lama tanggal 27 Februari 2008. Pada tanggal 13 Februari, saya mengecek lagi ke Hallo BCA dan diinformasikan masih dalam proses investigasi. Kemudian, tanggal 19 Februari 2008, saya menghubungi Hallo BCA kembali, berbicara dengan Sdri Yulia, yang menginformasikan bahwa surat dari BCA telah dikirim ke alamat saya.

Tanggal 20 Februari 2008, saya menerima surat dari BCA yang menginformasikan bahwa transaksi yang saya lakukan berhasil, dengan demikian keluhan saya tidak dapat ditanggapi. Tanggal 21 Februari 2008, saya menghubungi Hallo BCA kembali. Saat itu, sekitar pukul 9.30, saya berbicara dengan Sdri Nita. Saya menyatakan tidak dapat menerima kondisi/penyelesaian seperti yang diinformasikan dalam surat, karena memang kenyataannya uang saya tidak saya terima utuh, masih kurang Rp 700.0000. Saya meminta BCA kembali melakukan investigasi di tempat dengan mengecek recorded (CCTV). Saya sungguh kaget atas informasi yang saya peroleh, katanya tidak semua CCTV di ATM BCA aktif! Sdri Nita menginformasikan bahwa BCA akan mengecek ulang dan mengabari saya secepatnya.

Tanggal 25 Februari 2008, saya dihubungi oleh Sdri Vira sekitar pukul 11.35. Dia meminta saya menginformasikan kronologis atas penarikan ATM saya tersebut. Dia berjanji untuk melakukan investigasi lanjut. Tetapi sampai sekarang, saya belum menerima kabar dari BCA. Peristiwa ini sungguh mengesalkan saya. Saya betul-betul "kecopetan" di ATM BCA sendiri. Hati-hati melakukan transaksi di ATM BCA, di mana uang tidak keluar secara utuh saat penarikan dan belum tentu uang juga akan dikembalikan utuh. CCTV yang diharapkan akan membantu pun, belum tentu bekerja aktif.

Ivy

Taman Semanan Indah Jakarta Barat


Last modified: 15/4/08