SUARA PEMBARUAN DAILY

Mengapa Tidak Menanam Gandum?

Oleh Viktor Siagian

Tepung terigu bukan barang yang aneh bagi masyarakat Indonesia. Hampir seluruh masyarakat mengenal tepung terigu atau lebih dikenal dengan nama tepung roti. Sekarang, tepung terigu menjadi bahan perbincangan karena harganya naik lumayan tinggi, dari Rp 4.800 - 5.000/kg menjadi Rp 9.000 -9.500/kg.

Walaupun begitu, ketersediaan tepung terigu cukup tinggi, yang artinya dapat dibeli di pasar-pasar dan toko. Hanya harganya yang sedikit bikin kaget ibu rumah tangga karena naik sekitar 30 persen. Itu pun menurut pengusaha sudah harga maksimal yang bisa dinaikkan mengingat daya beli yang semakin lemah. Artinya, margin keuntungan pengusaha semakin kecil. Harga gandum di pasar internasional telah naik lebih dari 200 persen dari US$ 188/ton menjadi US$ 593 /ton.

Konsumsi tepung terigu di Indonesia cukup tinggi. Menurut Khudori, mencapai 15 kg/kapita/tahun, sedangkan menurut Winarno Zain, mencapai 16,8 kg/kapita/tahun dengan total impor mencapai 4 juta ton/tahun. Di samping untuk bahan baku roti tepung terigu juga untuk mi instan yang mencakup 80 persen penggunaannya. Total impor ini menaik terus setiap tahun, rata-rata 4 - 6 persen.

Pada masa yang akan datang, impor diprediksi akan naik seiring dengan semakin membaiknya tingkat pendapatan masyarakat. Akan lebih banyak penduduk yang mengonsumsi mi instan, roti, kue, dan sebagainya. Saat ini, hanya empat pengimpor resmi gandum di Indonesia, yaitu PT Bogasari Flour Mills, Sri Boga, Pangan Mas, dan Eastern Pearl. Bulog sebagai lembaga pemerintah sudah selayaknya ikut andil dalam mengimpor dan memasarkan tepung terigu ini agar harga lebih terkontrol.

Perlu Swasembada

Yang menjadi masalah, nilai impor terigu membengkak setiap tahun. Dengan harga saat ini US$ 593/ton dibutuhkan devisa hampir US$ 2,4 miliar atau Rp 22,1 triliun. Sungguh nilai yang besar untuk ukuran saat ini. Dengan kondisi seperti ini, di mana harga dunia diprediksi akan naik, apakah kita tidak perlu untuk berswasembada gandum? Jawabannya sangat perlu.

Kita seharusnya tidak menjadi pengimpor sepanjang masa. Dari hasil uji coba dan uji adaptif (penyesuaian) ternyata gandum sesuai ditanam di Indonesia pada ketinggian minimal 800 m dengan suhu berkisar 22 - 24 derajat Celcius. Indonesia memiliki sekitar 20 juta ha lahan dataran tinggi, tapi dari hasil kajian Departemen Pertanian hanya 2 juta ha yang sesuai untuk tanaman gandum. Daerah yang sesuai adalah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat (Hafsah Dj., 2002).

Negara-negara pengekspor gandum ke Indonesia, Amerika Serikat dan Australia yang mengekspor 80 persen. Selebihnya adalah Tiongkok, Argentina, India, dan bekas pecahan Uni Soviet, seperti Ukraina. Sedangkan negara terbesar penghasil gandum di dunia adalah Amerika Serikat dengan total produksi sekitar 60 juta ton, kemudian Kanada dan Rusia. Total produksi gandum dunia saat ini berjumlah 603 juta ton menurun 3 persen dibandingkan 2005 yang mencapai 621 juta ton. Total konsumsi dunia saat ini berjumlah 613 juta ton. Penyebab turunnya produksi karena sebagian negara produsen mengalami gagal panen akibat cuaca buruk dan pengalihan sebagian produksi ke bio fuel.

Tanaman gandum lebih cocok dibudidayakan pada musim kemarau dan dapat dipanen pada umur empat bulan. Hasil gandum saat ini di Indonesia berkisar 3 - 4 ton/ha, sedangkan Amerika Serikat menghasilkan 9 ton/ha. Produksi Indonesia masih lebih baik dari India yang produktivitasnya hanya 2,5 ton/ha.

Gandum memang seperti kedelai lebih cocok di daerah subtropis dan daerah dingin. Di Eropa dan Amerika, gandum ditanam baik pada musim dingin dan musim panas (Puslitbangsosek, Deptan, 2007). Proses pemeliharaannya lebih mudah dibandingkan dengan padi. Gandum dapat tumbuh baik pada lahan kering dan relatif sedikit hama dan penyakitnya. Jika harganya Rp 2.000/kg petani sudah diuntungkan. Satu ton gandum akan dapat diproses menjadi 750 kg tepung roti dan sisanya untuk pakan ternak.

Karena tanaman ini belum memasyarakat, maka penyuluhan sangat diperlukan. Penjelasan cara budidaya, hama penyakit, harga jual, dan pasar penampungan sangat diperlukan, sehingga petani tertarik untuk menanamnya. Saat ini hanya Provinsi Jawa Timur yang sudah mulai banyak membudidayakan gandum. Produksi gandum Jawa Timur mencapai 15.000 ton/ tahun. Tanaman ini akan dikembangkan pada lahan seluas 126.060 ha, yakni di daerah Malang, Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Lumajang, Blitar, Kediri, Trenggalek, dan Pacitan.

Target 2015

Secara keseluruhan, tanaman gandum sudah tersebar di 15 provinsi di Indonesia dan targetnya pada 2015 mampu mencukupi 10 persen dari kebutuhan nasional.

Daerah-daerah mana saja yang layak untuk budi daya gandum? Tentunya daerah-daerah pegunungan yang belum banyak dimanfaatkan dapat menjadi daerah pengembangan gandum. Pada intinya di daerah pegunungan yang belum berkembang budi daya hortikultura.

Salah satu kendala nantinya, apakah usaha tani gandum Indonesia dapat bersaing dengan usaha tani gandum di Amerika Serikat yang produktivitasnya lebih tinggi? Jika tidak mampu bersaing maka barang impor gandum akan tetap membanjiri pasar domestik karena harga lebih murah. Mungkin hal ini salah satu penyebab mengapa pemerintah belum berani mengembangkan gandum di Indonesia.

Untuk itu, penelitian uji coba varietas baru yang produktivitasnya lebih tinggi sangat diperlukan. Andaikan gandum dapat menghasilkan lima ton per hektare mungkin akan lebih mudah untuk mengembangkannya. Saat ini varietas yang berkembang adalah varietas Nias dan DWR 162 dengan potensi hasil 3 - 4 ton/ha. Pemerintah sedang melakukan uji coba untuk varietas gandum yang sesuai di dataran rendah.

Jika pemerintah memang serius mengembangkannya maka pola pengembangan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dengan pola pertanian rakyat, pola usaha komersial yang melibatkan pengusaha skala besar, atau pola pengembangan badan usaha milik negara (BUMN), seperti PT Pertani dan Sang Hayang Seri dapat dilibatkan. Kelak jika sudah berkembang di masyarakat, BUMN ini dapat kembali ke bisnis inti sebelumnya.

Pada pola skala komersial ini pemerintah sudah memberikan lampu hijau untuk berinvestasi di sektor tanaman pangan dengan memberikan hak guna usaha lahan seluas 5.000 ha. Apalagi dengan tingginya harga pangan saat ini semakin merangsang pihak swasta untuk berinvestasi. Contohnya, harga beras di pasar dunia sudah mencapai US$ 700/ton. Naiknya harga beras juga seharusnya mendorong pengembangan industri gandum di Indonesia.

Untuk menjamin harga, petani dengan importir melalui fasilitator pemerintah dapat membuat kontrak pembelian harga jual, sehingga petani dapat memperkirakan keuntungannya. Pemerintah membantu petani menentukan harga jual yang layak, pengusaha mendapatkan jaminan dari pemerintah bahwa petani akan memenuhi komitmennya sekalipun harga pasar lebih tinggi dari harga kontrak pada waktu panen.

Jika ini dapat berlangsung dengan baik maka permasalahan pasar dari petani dan pasokan gandum untuk importir dapat diatasi. Membudidayakan gandum di negeri sendiri berarti lebih menjamin pasokan gandum untuk kebutuhan domestik. Sebab jika hanya bergantung pada impor kita tidak akan mengetahui bagaimana kepastian suplai pada masa yang akan datang. Bisa saja jatah ekspor untuk Indonesia dialihkan untuk bahan baku bio fuel.

Jika semua negara pengekspor gandum melakukan hal yang sama berarti mengancam pasokan ke dalam negeri yang akhirnya akan menaikkan harga. Tidak itu saja, tapi juga mematikan industri mi instan, roti, kue berbahan baku roti, dan sebagainya. Sebagai bukti, pada 2008 Indonesia hanya mendapat jatah 3,3 juta ton gandum impor.

Penulis adalah Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Badan Litbang Deptan, Palembang


Last modified: 15/4/08