[BOGOR] Warga Perumahan Taman Yasmin Bogor, Kelurahan Cilendek Timur, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, melayangkan surat pengaduan ke Kapolri Jenderal Sutanto menyusul tindakan kepolisian setempat berbuat tidak adil dan maraknya aksi perampokan yang sudah meresahkan warga.
Warga juga mengancam akan membubarkan keberadaan Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) dan membentuk Pam Swakarsa sendiri jika pengaduan mereka tidak diindahkan Kapolri. "Percuma ada ketua RW dan ketua RT sebagai ujung tombak keberadaan warga di perumahan ini yang sekarang merasa tidak aman dan tenteram hingga meresahkan warga penghuninya yang berjumlah ribuan Kepala Keluarga (KK) ", ujar Nano Ketua RW 09 di Perumahan Taman Yasmin Bogor kepada SP, Minggu (13/4).
Warga sepakat melayangkan surat ke Kapolri di Jakarta pada Jumat (11/4) lalu yang ditandatangani para tokoh masyarakat di perumahan itu yang juga sebagai tokoh masyarakat di kota hujan ini. Isi surat itu di antaranya, maraknya aksi perampokan yang menjarah rumah-rumah warga setempat dan hingga kini belum ada yang berhasil diungkap aparat kepolisian.
Selain itu, kata dia, adanya kasus unik ketidakadilan yang menimpa warga yang semula bermaksud menolong tetangganya seorang dokter wanita dari ancaman teror, ternyata oleh pihak Polresta Bogor malah orang yang menolong dan yang ditolong itu dijadikan tersangka. Hal itu diduga karena sang pelapornya berduit tebal, hingga hukum bisa dibolak-balik Bahkan, sang tersangka juga diminta sejumlah uang oleh oknum Jaksa berinisial L dari Kejaksaan Negeri Kota Bogor dengan iming-iming kasusnya bisa diringankan.
Hal senada dikatakan Jono, salah seorang tokoh masyarakat lain di perumahan itu. Bahkan, dia akan melaporkan ke Kejaksaan Agung atas ulah oknum jaksa yang bermain kasar meminta sejumlah uang kepada salah seorang warganya yang sedang berhadapan dengan masalah hukum.
Kekecewaan warga atas buruknya kinerja Polresta Bogor itu, lanjutnya, menyusul adanya kasus yang menimpa Bambang Bachtiar salah seorang warga yang bermaksud menolong dokter Diana Hanum yang juga masih saudaranya yang tinggal di perumahan itu. Ketika dokter itu diteror dengan cara diikuti mobil warna hitam hingga persis di depan rumahnya.
Karena ada yang meneror, sang dokter berteriak minta tolong. Mendengar teriakan itu, Bambang keluar dari rumahnya dan menghentikan mobil yang meneror saudaranya. Namun pelaku teror berinisial SA malah keluar dari dalam mobilnya sambil membentak dan mengancam akan mengadukan kasus perbuatan tak menyenangkan ke polisi. [126]