[HARARE] Penghitungan suara ulang akan dilakukan terhadap pemilu parlementer Zimbabwe yang digelar di belasan wilayah pemilihan, demikian ungkap sejumlah otoritas Zimbabwe, Minggu (13/4). Kepastian penghitungan ulang itu disampaikan setelah Partai ZANU-PF yang berkuasa menyatakan bertekad menolak hasil-hasil pemilu yang menyebabkan mereka kehilangan kendali atas parlemen untuk pertama kali dalam sejarah Zimbabwe. Sementara hasil pemilihan presiden yang digelar bersamaan dengan pemilu parlementer hingga kini belum diumumkan.
Di tengah krisis Zimbabwe yang mulai menginjak minggu ketiga, para pemimpin Afrika menggelar pertemuan tingkat tinggi darurat di Zambia, Sabtu (12/4). Deklarasi KTT, yang dikeluarkan menyusul berlangsungnya pertemuan yang berakhir Minggu pagi, tidak dapat memenuhi desakan oposisi Zimbabwe agar para pemimpin negara-negara tetangga menekan Presiden Robert Mugabe untuk segera mundur setelah 28 tahun berkuasa. KTT juga tidak berhasil memenuhi harapan negara-negara Barat, PBB, dan kelompok-kelompok HAM regional agar KTT, yang tidak dihadiri Mugabe, untuk sedikitnya mendesak dilakukannya pengumuman segera hasil pemilu 29 Maret.
Pemimpin oposisi, Morgan Tsvangirai, yang menghadiri KTT, mengklaim meraih kemenangan telak dalam pemilihan presiden Zimbabwe. Sejumlah penghitungan suara independen juga memperlihatkan Tsvangirai unggul dalam perolehan suara. Tetapi, suara yang diperoleh Tsvangirai tidak cukup memadai untuk menghindari terjadinya pemilu putaran kedua.
Komisi Pemilu Zimbabwe (ZEC) telah mengeluarkan hasil-hasil pemilu parlementer negara berpenduduk 210 juta tersebut. Hasil pemilu parlementer sebagaimana diumumkan komisi memperlihatkan Gerakan untuk Perubahan Demokratik (MDC) pimpinan Tsvangirai memenangkan 109 kursi sedangkan partai ZANU-PF pimpinan Mugabe meraih 97 kursi.
Sejak diumumkannya hasil pemilu, pemerintah menuding penghitungan suara pemilu parlementer diwarnai kecurangan. Sebanyak 11 pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pemilu ditangkap pemerintah. [AP/E-9]