[SEATTLE] Pemimpin spritual Tibet Dalai Lama, mengulangi ancamannya untuk mengundurkan diri jika kekerasan di Tibet semakin tidak terkendali. Dia juga membantah tuduhan bahwa dirinya sedang berusaha memisahkan wilayah di kawasan Himalaya itu dari Tiongkok.
"Seluruh dunia tahu Dalai Lama tidak mencari kemerdekaan, atau pemisahan. Jika kekerasan menjadi tidak terkendali, maka satu-satunya pilihan saya adalah mengundurkan diri," ucapnya, dalam konferensi pers di sela-sela kunjungannya di Seattle, Amerika Serikat (AS), Minggu (13/4).
"Saya mau mengulangi hal itu. Jika mayoritas orang-orang memilih kekerasan, maka saya akan mundur," tukasnya. Dia menyebut, hanya berkomitmen untuk mengejar hak otonomi Tibet. Dalai Lama juga membantah tudingan bahwa dirinya berada di balik kerusuhan di Tibet. "Perjuangan kami tertuju pada segelintir orang di kursi kepemimpinan Tiongkok, dan bukan dengan rakyat Tiongkok," tambahnya.
Presiden Tiongkok Hu Jintao, Sabtu (12/4), membantah aparat keamanannya melakukan kekerasan di Tibet, serta menyangkal segala tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). "Konflik kami dengan komplotan Dalai, bukan terkait etnis, agama atau HAM. Itu persoalan menjaga keamanan persatuan nasional dari upaya pemisahan," tegasnya.
Sementara di Dublin, Duta Besar Tiongkok untuk Irlandia Liu Biwei meninggalkan acara konferensi tahunan Partai Hijau di Dundalk, Sabtu (12/4) malam, setelah Menteri Lingkungan Irlandia John Gormley, yang juga pemimpin Partai Hijau mengutuk pelanggaran HAM di Tibet, dalam pidatonya di konferensi itu. Gormley juga menyebut Tibet sebagai negara.
Polisi Tiongkok menahan sembilan biksu Buddha yang dituduh terlibat dalam pengeboman gedung pemerintah di Tibet. Kantor berita pemerintah, Xinhua, Sabtu (12/4), menyebut para biksu dari kuil Tongxia, mengaku meledakkan gedung pemerintah pada 23 Maret lalu. [AP/AFP/B-14]