![]()
AP Photo/Carolyn Kaster
Bakal calon presiden dari Partai Demokrat Senator Hillary Rodham Clinton (kedua dari kiri) berkampanye dari pintu ke pintu bersama Alexandra Sestak (kiri bawah), putri Senator Joe Sestak di Drexil Hill, AS, Minggu (13/4).
[GRANTHAM] Bakal calon Presiden Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton menyampaikan kritik internal terhadap partainya, Partai Demokrat yang dinilai terlampau elitis dan tidak terjangkau rakyat kebanyakan.
Kritik Hillary disambut hangat para hadiri yang memenuhi forum. "Sikap Partai Demokrat yang terlampau elitis dan tidak terjangkau perlu segera diatasi," tegas Hillary.
Hal itu disampaikan dalam "Compassion Forum" di Messiah College dekat Harrisburg, Pennsylvania, Minggu (13/4) atau Senin WIB. Pennsylvania akan jadi tempat penyelenggaraan pemilihan pendahuluan (primary) Demokrat pada 22 April. Pada kesempatan itu, baik Hillary maupun Obama berupaya menjangkau simpati para pendukung mereka dengan menyampaikan pandangan-pandangan mereka seputar isu-isu keagamaan.
Kritik Hillary disampaikan untuk merespons komentar pesaingnya Barack Obama. Obama dalam pernyataan kontroversial pekan lalu menyebutkan, perasaan frustasi akibat kesulitan ekonomi orang-orang yang bermukim di kota-kota kecil semakin tajam. Mereka akhirnya mengekspresikan perasaan dengan menggunakan "senjata atau agama".
Hillary mengatakan kata-kata Obama "sangat elitis dan bersifat memecah-belah". Hillary mendesak senator Illinois tersebut segera memberikan penjelasan.
Hillary yang mengasosiasikan diri sebagai sekutu kelas menengah juga mengatakan komentar-komentar Obama mencirikan pandangan stereotip Partai Demokrat yang enggan bersentuhan dengan orang kebanyakan.
Ia mengisyaratkan Partai Demokrat mungkin harus berjuang sangat keras untuk dapat memenangkan pemilu bulan November apabila Obama menjadi kandidat tunggal.
"Anda tidak perlu berpikir terlampau jauh ke belakang untuk mengingat bahwa sejumlah pria berbobot yang mencalonkan diri sebagai presiden ternyata dipandang banyak kalangan sebagai sosok elitis dan tidak mau bersentuhan dengan nilai-nilai dan kehidupan jutaan warga Amerika," kata Hillary, merujuk Senator John Kerry dari Massachusetts, yang kandas dalam pilpres tahun 2004.
"Saya pikir sangat penting bagi Demokrat untuk betul-betul memfokuskan perhatian pada masalah ini, dan menegaskan bahwa Demokrat tidak bersikap elitis. Kita harus berdiri dan berjuang bagi seluruh rakyat Amerika," kata Hillary.
"Partai Demokrat, jujur saja, dinilai banyak warga Amerika sebagai partai yang tidak memahami dan menghormati nilai-nilai dan cara pandang terhadap kehidupan," ungkap Hillary.
Isu Agama
Hillary dan Obama menjawab berbagai pertanyaan tentang pengaruh agama dan kepercayaan baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun kesibukan mereka di tengah masyarakat.
Dalam forum yang diperuntukkan membahas isu yang terbilang jarang diangkat dalam kampanye, dua kandidat Gedung Putih tersebut membicarakan bagaimana Tuhan hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka juga mengungkapkan seberapa banyak mereka membaca Alkitab. Dua pesaing juga berbicara tentang sejumlah isu sulit, seperti aborsi, penahanan nafsu, serta hak asasi manusia (HAM) yang semua itu dibingkai dalam konteks kepercayaan.
Hillary, yang mendapat giliran pertama, ditanya apakah kehidupan sudah dimulai sejak terjadinya pembuahan. Para penentang aborsi berpendapat pengguguran kehamilan dalam usia kehamilan berapapun sama halnya mengakhiri sebuah kehidupan.
"Saya yakin potensi kehidupan sudah berawal sejak terjadinya pembuahan," tegas Hillary. Tetapi, menurut dia, kehamilan bukan melulu soal potensi terjadinya sebuah kehidupan.
Kehamilan juga berarti adanya keterlibatan dengan orang-orang lain. "Saya menyimpulkan, setelah pergulatan pikiran dan hati saya selama bertahun-tahun, bahwa tugas kita di tengah bangsa yang pluralistik ini adalah agar para individu dipercaya sepenuhnya untuk membuat keputusan tentang hal ini secara bertanggung jawab. Sebab, campur tangan pemerintah terkait hal-hal semacam ini akan sangat sulit dipertahankan di tengah masyarakat kita yang terbuka," tegas Hillary. [AP/CNN/E-9]