SUARA PEMBARUAN DAILY

Kolaborasi untuk Nihilisme Togog

SP/Fuska Sani Evani

Pentas tari kontemporer karya tiga koreografer Yogya, Bimo Wiwohatmo, Anter Asmorotedjo, dan Satrio Ayodya, berpadu cantik dengan dalang Ki Seno Nugroho serta musik digital Izumi Nagano dan Boedhie Pramono, menggandeng 30 anak korban gempa dari Gantiwarno Klaten, mengusung judul "Togog". Tari berdurasi 90 menit ini dipentaskan di Gedung Kesenian Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (11/4) malam.

Tiga koreografer Yogya, Bimo Wiwohatmo, Anter Asmorotedjo, dan Satrio Ayodya melakukan kolaborasi. Terciptalah "Togog" berdurasi 90 menit. Tari kontemporer yang terinspirasi dari perubahan roda zaman yang tetap saja berujung nihilisme.

Pada sebuah pitutur, Dewa Togog yang berbusana rakyat jelata, tugasnya mendampingi tokoh-tokoh 'kiri' yang berwatak jahat. Togog dikenal sebagai dewa penjaga yang ditugaskan di dunia dan berfungsi sama seperti Semar.

Dalam berkiprah, Togog mengalami beberapa dekade perubahan sosial. Togog pun merasakan orde kalabendu yang penuh dengan keseragaman. Togog dalam perenungannya pun merasakan sebuah dialektika orde perubahan. Tapi perubahan itu tetap membingungkan. Dari keseragaman perubahan menjadi keterbukaan. Namun, anehnya setiap pendapat selalu menjadi nihil.

Karya Kolaborasi tiga koreografer, Bimo Wiwohatmo, Anter Asmorotedjo, dan Satrio Ayodya, berpadu cantik dengan Dalang Ki Seno Nugroho serta musik digital Izumi Nagano dan Boedhie Pramono, berupaya mengubah tafsir rutinitas dunia pertunjukan.

Dipentaskan di Gedung Kesenian Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (11/4) malam, pergelaran tari kontemporer yang melibatkan 15 penari Yogya dan 30 anak-anak korban gempa dari Desa Soka Gantiwarno Klaten, muncul sebagai sebuah usaha menampilkan sajian karya seni tari, musik dan wayang kulit yang unik dan berbeda.

Gerak dinamin yang menjadi ciri Anter, terbias apik dan bersimbiosis dengan ide Bimo dan Satrio. Mereka bertiga seolah hendak bertutur bahwa dalam jagad dunia seni, apapun itu tetap sama-sama penting.

Sindir sampir yang tertuang dalam bahasa pewayangan, ungkapan-ungkapan Ki Seno, membuahkan sebuah pengertian khusus. "Ada pil yang kalau diminum bikin pusing. Ya, itu pilkada," ucap Ki Seno.

Apakah demikian? Sedikit menyitir "goro-goro" Gareng-Petruk, Ki Seno pun tak kalah getir mewartakan apa yang selama ini terpendam dan terkubur. Dialektika kehidupan berbangsa, hati nurani dan simpul-simpul kemaslahatan, muncul sebagai sebuah ironi dan ikon.

Dalam pergelaran berdurasi 90 menit ini, keseriusan, kelenturan dan bahasa verbal menjadi sebuah kolaborasi yang berdedikasi kepada manusia modern. Berangkat dari spiritualitas Togog yang termarginalkan, mendorong manusia menjadi individu-individu bebas dan lepas. Selendang sindir sampir yang dituangkan dalam gerak dan pitutur, setidaknya mampu membuka kesadaran bahwa pola berpikir yang cenderung mengkotak-kotakkan manusia dalam sebuah primodialisme sempit, hingga menimbulkan konflik sosial.

Mengembalikan Sikap

Sebuah proses perenungan kembali akan nilai-nilai kemanusiaan, mengembalikan sikap saling menghargai dan menghormati sesama manusia, tak luput dalam kehadiran kesenian yang mengedepankan nilai estetika dan keharmonisan. Sebuah ruang bagi proses perenungan barangkali yang menjadi garis akhirnya.

Tari, musik dan wayang kulit. Produk kesenian yang menggunakan gerak dan bunyi sebagai sumber dan media untuk berekspresi, memiliki kekuatan yang potensial menjadi proses penyadaran nilai-nilai humanisme tersebut.

Togog adalah sebagai gambaran usaha penggapaian tangga perenungan anak wayang dalam memaknai isyarat batin. Sering pula kita hanya mampu membaca yang tersirat saja tanpa mau melihat lebih dalam lagi akibat kuatnya budaya aksi reaksi tanpa menyediakan ruang perenungan sebagai penjaga keseimbangan hidup.

Karya pementasan Togog, bisa pula dianggap sebagai pengakuan atas kerapuhan diri dalam menghadapi benturan-benturan hubungan antara sesame. Akan tetapi pengakuan akan kelemahan diri adalah juga sebuah kekuatan daya hidup dalam memaknai.

Dengan spirit dan filosofi tentang Togog dipadu dengan beberapa aliran musik, tari dan wayang kulit dimuarakan dalam karya perenungan lintas etnik, diharapkan melahirkan harmonisasi gerak dan nada batin.

Boleh jadi, penonton hanya akan terpukau oleh kesatuan gerak dan musik yang berjalan beriringan. Namun pesan moral yang tergarap apik dalam dialog verbal ki dalang, sedikit banyak menyingkap perbendaharaan hidup.

Orang barangkali sering lupa, siapa Togog dan siapa Semar. Keduanya memang dewa. Keduanya mewakili dua sisi yang saling berebut dalam sanubari. Sosok Togog yang divisualkan Eko Purnomo, mencobai perenungan akan adanya nilai-nilai global yang berkembang bersama kekuatan ekonomi dan kekuatan modal. Perubahan sosial budaya serta termarginalkannya berbagai nilai tradisi, menjadi sebuah konsekuensi atas, perkembangan dan perubahan zaman.

Bimo Wiwohatmo, menggagas karya seni kolaboratif tersebut dengan alasan yang spesifik selain keinginan dari para personel yang mayoritas berprofesi sebagai seniman juga memberikan penyadaran batin. [SP/Fuska Sani Evani]


Last modified: 13/4/08