![]()
SP/Ignatius Liliek
Penyanyi Soprano, Christine T Lubis bersama dengan pianis Teo Minaroy tampil membawakan komposisi "Jerusalem" karya Komposer F Mendelssohn pada pertunjukan "The Seven Last Words Of Christ" di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (13/4).
Kisah derita Yesus menjelang ajal dipentaskan dalam opera The Seven Last Words of Christ di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Minggu (13/4) malam. Jerit luka dan ratapan kematian mengakhiri caci maki dari para penghujat. Rangkaian penyanyi tenor dan sopran bersahut-sahutan.
ergelaran yang dikemas dalam bentuk opera ini mampu menggambarkan penderitaan Tuhan Yesus melalui tujuh kata terakhirnya, sebelum disalibkan di Golgota. Masih dalam tema Paskah, Susvara Opera Company bekerja sama dengan GKJ merangkai cerita dari sosok yang dirajam, dihujat, dan disalibkan dunia. Dia yang tidak berdosa justru harus mati tersalib menanggung dosa semua manusia. Dalam opera ini dilukiskan bahwa seorang Juru Selamat pun menderita karena harus menanggung beban berat di pundaknya, yakni kayu salib.
Rangkaian cerita dalam opera yang berlangsung dua setengah jam merupakan karya asli dari Theodore Dubois. Dia menuliskan semua rangkaian dalam bahasan latin. Cerita ini merupakan rangkaian dari delapan gerakan yang terdiri dari introduksi dan satu gerakan untuk setiap kata Tuhan Yesus di kayu salib.
Karya ini merupakan bentuk meditasi melodis di saat penderitaan terakhir Tuhan Yesus. Ucapan Tuhan Yesus saat penderitaan terakhirnya dibawakan oleh penyanyi tenor dan bariton. Sementara, sebagai pencerita diwakili penyanyi soprano dan tenor, dan kata-kata rakyat yang menghujat, serta murid-murid Yesus dibawakan oleh chorus.
Pementasan opera dibagi dalam dua tahapan, pertama berisi cerita yang dikemas dalam bentuk nyanyian oleh para solis. Mereka masing-masing membawakan kisah Tuhan Yesus, ketika Dia mulai ditangkap sampai disalibkan.
Para solis yang tergabung dalam Susvara Opera menyanyikan cuplikan dari oratorium-oratorium ternama karya komposer dunia. Sebut saja karya komposer Messias (G F Haendel), Elijah (F Mendelsshon), St. Paul (F Mendelsshon), dan Stabat Matter (G Rossoni). Sementara, para penyanyi yang hadir malam itu, yakni Catharina W Leimena (Mezzosopharono), Indra Listyanto (tenor), Joseph Kristianto (baritone), Christine T Lubis (soprano), dan Novanda Bulu (soprano). Para penyanyi diiringi dentingan piano Aditya S Pradana dan Teo Minaroy.
Suasana Kudus
Menurut Music Director Catharina W Leimena, kisah pengkhianatan rasul sampai penyaliban Yesus menginspirasi banyak komponis. Bentuk komposisi musik itu disebut Passion (Pasi). Salah satu yang terkenal adalah Mateus Passion, Johannes Passion karya Johann Sebastian Bach (1685-1750). Tetapi Susvara Opera Company memilih karya Theodore Dubois yakni Les Sept Paroles du Christ.
Usai babak pertama yang berisi nyanyian para solis, di babak kedua ditampilkan cerita yang masih dikemas dengan lantunan suara khas para solis. Sebagai pembuka, ditampilkan tiga wanita tua berkerudung berjalan di jalan setapak. Jalan tersebut sepi, hanya dedaunan kering yang berjatuhan dari pohon menemani tiga wanita tersebut. Wajah mereka memancarkan guratan kesedihan. Satu dari mereka kemudian bernyanyi tentang penderitaan Tuhan Yesus sebelum akhirnya disalibkan.
Opera arahan sutradara Henky Solaiman kemudian mengantarkan penonton memasuki suasana kudus, saat Imam Agung yang sedang berkorban mencurahkan darah-Nya. Dia bersedia mati di kayu salib untuk menjadi pendamai dan pengampunan dosa manusia.
Berlatar tiga kayu salib, cerita utama pun ditampilkan. Para solis bergantian membawakan cerita tujuh kata terakhir Tuhan Yesus dalam lantunan lagu. Kata pertama Tuhan Yesus, yakni Ya Bapa ampunilah mereka dibawakan sempurna dalam bentuk nyanyian. Suasana hening dan khidmat terpancar dalam opera tersebut.
Suasana mencekam mulai terasa ketika seorang solois menyanyikan lagu yang menceritakan kata keempat Tuhan Yesus. Dia mengucapkan, Ya Tuhan, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku. Melalui kata tersebut tergambar, sosok Kristus yang juga lemah dan membutuhkan bantuan dan pertolongan dari Bapa.
Kemudian, lantunan lagu yang mencekam mulai mereda saat dua ucapan terakhir Yesus. Dia mengatakan Ya Bapa ke dalam tanganMulah, Kuserahkan nyawaKu. Kata terakhir yang Dia ucapkan, yakni Sudah selesai.
Setelah para solis selesai membawakan nyanyian tujuh kata-kata Tuhan Yesus, petir dan gempa pun hadir dalam panggung. Opera menggambarkan suasana sama seperti yang ada dalam kitab suci, yakni ketika sang Juru Selamat meninggal, dunia pun ikut terguncang. Setelah itu, babak baru kehidupan pun dimulai, dan pementasan ditutup dengan sembah sujud para pemain opera untuk Kristus. [EAS/N-4]