SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Pelumas Naik Hingga 11 Persen

[JAKARTA] Akibat terus naiknya harga minyak mentah, harga bahan baku pelumas pun terimbas meningkat. Kenaikan harga pelumas di dunia berkisar antara 2-11 persen. Seperti ExxonMobil yang menaikkan harga tiga sampai delapan persen dan Shell naik lebih dari sepuluh persen. Di Indonesia kenaikan harga pelumas terjadi pada awal tahun berkisar lima persen.

Director and Head of Marketing and Origination Commodities Citicorp Investment Bank Singapore, Ravi Bala dalam keterangan tertulis, pekan lalu, menyatakan Asia sebagai penyebab kenaikan harga tersebut.

Dikatakannya, dalam Asian Base Oils and Lubricants Conference terlihat perkembangan permintaan akan minyak di Asia dan Tiongkok menjadi faktor kunci yang memicu kenaikan tersebut.

"Sekarang Tiongkok mengkonsumsi minyak sebesar sembilan persen dari total konsumsi minyak di dunia. Disusul Jepang dan Amerika Serikat. Permintaan minyak di wilayah Asia Pasifik sekitar 30 persen dari total konsumsi dunia, hampir dua kali lipat dari angka 25 tahun yang lalu," papar Ravi.

Tercatat pula pertumbuhan konsumsi minyak di Tiongkok meningkat lebih dari 10 persen per tahunnya sejak tiga tahun lalu. Tahun 2006 Cina dan Timur Tengah terhitung menghabiskan 60 persen dari total konsumsi minyak dunia.

Direktur Lembaga Pengkajian Pelumas Indonesia, N Putranti mengatakan, terbatasnya kapasitas kilang adalah penyebab utama tekanan suplai minyak di dunia. Naiknya harga minyak selain dipicu meningkatnya permintaan minyak di Asia, faktor lainnya adalah kapasitas kilang, issue geopolitical, meningkatnya minat investor di pasar minyak, dan perubahan product mix.

Naik Lagi

Menurut beberapa produsen pelumas nasional, jika harga minyak sudah menyentuh US$ 200 perbarel, maka harga pelumas diprediksikan akan naik lagi. Namun, selama harga minyak dunia masih berkisar US$ 100 per barel, harga belum akan berubah.

"Tetapi dengan melihat kecenderungan harga minyak yang terus menanjak, bahkan setahun terakhir ini melonjak sampai 28 persen, bukan tidak mungkin harga minyak mentah dalam waktu dekat akan menembus angka US$ 200 per barel," kata Putranti.

Menurutnya, masalah harga itu tidak menyurutkan prospek bisnis pelumas. Permintaan akan pelumas, diproyeksikan berkembang seiring dengan proyeksi perkembangan konsumsi energi secara umum yang mencapai 41,7 juta metrik ton di tahun 2010. Pertumbuhan permintaan di masa mendatang diperkirakan 2,3 persen per tahun dengan permintaan minyak secara umum hanya 1,5 persen.

"Wilayah Asia Pasifik akan menjadi pasar tercepat perkembangannya yang tentu saja didominasi oleh Tiongkok. Bahkan potensi pasar pelumas nasional menurut beberapa produsen pelumas nasional dapat tumbuh sebesar dua hingga tiga persen per tahunnya," ujar Putranti. [DLS/M-6]


Last modified: 14/4/08