
Bencana alam gempa bumi dahsyat yang disusul gelombang tsunami telah meluluhlantakkan masyarakat Indonesia khususnya warga Aceh. Setidaknya lebih dari 250.000 orang tewas dalam peristiwa mengenaskan tersebut. Salah satu faktor yang menyebabkan jatuhnya banyaknya korban dalam peristiwa yang terjadi pada akhir tahun 2004 itu adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bencana alam terutama soal seluk beluk gempa bumi dan kemungkinan gelombang tsunami yang menyertainya.
idak kurang pemerintah Indonesia harus banting tulang mengatasi dampak dari musibah tersebut. Bahkan badan dunia PBB dan negara-negara lain ikut membantu melakukan penanggulangan dan rehabilitasi pascagempa dan tsunami tersebut. Namun, seperti kata orang bijak, "segala sesuatu ada hikmahnya", dalam gempa dan tsunami Aceh kita bisa menarik satu pelajaran sangat berharga.
Dengan kejadian alam yang tergolong berdampak luar biasa tersebut, banyak ahli yang mengadakan penelitian mengenai apakah yang sebenarnya sedang terjadi dan akan terjadi pada masa datang dengan fenomena alam tersebut?
Dari hasil penelitian itu dapat diketahui bahwa kawasan pantai barat Sumatera dan Selatan Jawa memang sangat rawan mengalami gempa bumi dengan magnitude yang besar yang dapat memicu terjadinya gelombang tsunami.
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) yang ditunjuk pemerintah untuk memberikan informasi mengenai fenomena-fenomena alam yang berhubungan dengan meteorologi, klimatologi dan geofisika, cukup repot menghadapi dampak dari gempa dan tsunami Aceh.
Tidak sedikit dari pejabat, politikus dan masyarakat mempertanyakan kinerja BMG dalam menjalankan fungsinya. Menurut analisis sejumlah masyarakat, jika BMG bisa mem- berikan informasi awal yang cepat dan akurat, niscaya korban jika dan kerugian harta benda bisa dimini- malisir.
Untuk mengetahui seluk beluk pekerjaan dan apa yang sudah dilakukan BMG untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait fenomena alam di Indonesia SP mewawancarai Kepala BMG, Sri Woro Budiati Hari- jono MSc usai rapat kerja dengan Komisi V DPR, Rabu (2/4) di Jakarta.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan alam di Indonesia saat ini?
Begini ya, perubahan iklim yang saat ini tengah melanda dunia juga berlaku di Indonesia. Iklim sudah berubah, kita harus bersiap-siap menghadapinya.
Kalau gempa bumi dan tsunami?
Sama saja, negara kita sangat rawan terhadap gempa bumi dan tsunami. Sama seperti iklim yang berubah, kita harus melakukan antisipasi secara dini.
Maksudnya?
Terjadinya pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim telah banyak memicu terjadi bencana alam di dunia. Banyak korban telah jatuh. Perlu ada tindakan pencegahan yang cepat dan akurat untuk mengurangi dampak bencana yang ke- mungkinan bisa muncul pada masa depan.
Untuk mengurangi dampak bencana yang akan timbul pada kemudian hari setidaknya ada dua jalan yaitu, adaptasi dan mitigasi. Adaptasi itu adalah sebuah proses menyesuaikan diri dengan kondisi alam sekitar. Sedangkan mitigasi adalah tindakan nyata yang dilakukan untuk mengurangi kerugian yang bisa timbul karena bencana.
Contohnya?
Misalnya seperti di sektor pertanian, masyarakat harus memperhatikan fenomena alam yang saat ini terjadi dan tidak bisa mengandalkan pengalaman bertani yang lalu-lalu. Gaya bercocok tanam para petani kita saat ini tidak bisa lagi statis seperti dulu karena musim hujan dan pola iklim di suatu daerah berbeda-beda, sangat variatif. Di Indramayu misalnya, ada enam pola iklim yang artinya dalam satu daerah Indramayu ada enam kali proses menanam padi di kecamatan yang berbeda-beda.
Apa kontribusi BMG dalam hal ini?
Sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah menganalisis dan menginformasi kondisi-kondisi meteorologi, klimatologi, dan geofisika, kami melakukan upaya sosialisasi kepada petani terkait pola tanam yang dihubungkan dengan curah hujan yang terjadi di daerah yang bersangkutan. Kami juga bisa memberikan alternatif potensi energi misalnya, energi angin di suatu wilayah. Terkait bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami kami juga memberikan informasi kepada masyarakat tentang daerah-daerah rawan gempa dan potensi terjadinya gelombang tsunami.
Sebenarnya apa yang membuat Indonesia akhir-akhir ini sering terjadi bencana alam?
Negara kita itu merupakan negara yang paling unik di dunia. Tidak ada yang seperti kita. Indonesia terletak di antara dua samudera besar dunia, yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, juga terletak di tengah-tengah dua benua, yakni Benua Asia dan Benua Australia. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap alam Indo- nesia.
Misalnya fenomena alam La Nina dan El Nino yang membawa dampak cuaca basah dan kering di Indonesia akibat fenomena suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Belum lagi kalau bicara tentang kondisi alam di dalam negeri tempat tersusun ribuan pulau yang dipisahkan selat-selat yang memiliki karakteristik alamnya masing-masing. Pokoknya sangat kompleks lah dinamika alam di negara kita ini.
Jika kondisi alam Indonesia ini begitu kompleks, apa bisa dikatakan potensi munculnya bencana alam juga lebih besar?
Ya begitulah. Tapi kita kan berusaha untuk menanggulangi agar bencana itu tidak terjadi, dan kalaupun terjadi, dampaknya bisa kita kurangi.
Apa yang bisa dilakukan BMG untuk mengurangi dampak bencana alam tersebut?
Kita terus berusaha meningkatkan kemampuan kita baik dari sisi infrastruktur peralatan dan teknologi maupun sumber daya manusia.
Apakah infrastruktur dan SDM yang kita miliki sudah maksimal menunjang kerja dari lembaga yang Anda pimpin?
Saya kira harus terus ditingkatkan. Dari sisi peralatan dan teknologi, kita memang sangat tergantung dari luar negeri karena alat-alat yang digunakan tidak diproduksi dalam negeri. Meskipun peralatan harus terus ditingkatkan, tetapi kita pun memaksimalkan yang sudah ada saat ini. Bahkan saat ini BMG sudah mendapat pengakuan secara internasional melalui sertifikat ISO 17025 dalam hal kalibrasi alat.
Kalau berbicara tentang sumber daya manusia, kita harus akui kita memang kurang. Mayoritas karyawan kita hanya lulusan SMA dan sangat sedikit yang sarjana S1, S2, bahkan S3 pun hanya ada 6 orang saja. Oleh karena itu, kami akan melakukan sejumlah kerja sama dengan institusi yang memiliki lembaga meteorologi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Namun tentu saja, sampai saat ini para lulusan itu lebih memilih ke perusahaan-perusahaan besar yang bergaji besar dibandingkan gaji pegawai negeri. Bisa dikatakan, kalau ada sarjana yang melamar ke BMG saja, itu sudah bagus.
Bagaimana Anda melihat pengetahuan sebagian besar masyarakat Indonesia mengenai bencana dan dampaknya?
Menurut saya, banyak masyarakat yang belum paham terhadap kompleksitas permasalahan cuaca dan akibatnya serta potensi bencana lainnya. Ketika ada bencana, saya banyak mendapat telepon, kenapa begini, kenapa terjadi begitu? Mendengar keluhan masyarakat seperti itu, saya tahu mereka belum paham, tapi saya tetap memberikan penjelasan sebisa yang saya lakukan.
Apa harapan Anda kepada masyarakat di Tanah Air?
Harapan saya, yaitu agar masyarakat menyadari terlebih dahulu kalau di sekitar mereka, berpotensi terjadinya bencana sangat besar. Dengan mengetahui dan memahami dengan sadar kalau mereka hidup dengan bencana, maka perlu dilakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengurangi dampak bencana yang bakal terjadi. Pemerintah akan melakukan tugasnya, tetapi tentu saja kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa adanya kerjasama dengan semua elemen masyarakat.
Dan terhadap BMG?
Saya memiliki visi, yaitu Indonesia harus menjadi negara maju dalam bidang tropikal atmosfer. Kita mampu dan bisa melakukannya.
Pewawancara: Erwin Lobo