
ejutan Liga Champions musim ini terhenti seiring tumbangnya tim underdog, Schalke 04 dan Fenerbahce di babak perempat final. Kini, lambang supremasi tertinggi klub sepakbola Eropa itu hanya diperebutkan oleh tiga klub Inggris, yaitu Manchester United (MU), Chelsea, Liverpool, dan satu klub Spanyol, Barcelona.
Melihat sejarah, hanya Chelsea yang belum pernah mencicipi trofi terhormat itu. Liverpool tercatat sebagai tim yang paling sering merajai Eropa dengan lima trofi. Sementara MU dan Barcelona sama-sama mengoleksi dua gelar juara.
Pada laga semifinal nanti "The Reds" Liverpool akan melawan "The Blues" Chelsea, sedangkan Barcelona menghadapi "Red Devils" MU.
Melihat statistik dan hasil undian, Chelsea tampaknya akan menjalani laga berat menghadapi tim yang pernah lima kali menjadi kampiun di daratan Eropa, sebelum menuju partai puncak.
Kedua tim bukan baru pertama kali bertemu di babak empat besar Liga Champions. Tahun 2005 dan 2007, ketika masih ditangani Jose Mourinho, Chelsea sempat mencoba merobohkan Liverpool. Namun, kecerdasan "The Special One", julukan Mourinho, belum cukup tajam merobek tembok tradisi. Pada 2005, Chelsea tumbang dengan agregat 0-1 (0-0, 0-1). Drama adu penalti pada 2007, kembali menempatkan Chelsea sebagai korban.
Meski mempersembahkan dua trofi Liga Inggris pada musim 2004-2005 dan 2005-2006 Mourinho tak pernah memberikan gelar juara ajang paling bergengsi Eropa itu. Kegagalan ini juga yang membuat Mourinho, yang mengarsiteki klub asal London Barat sejak 2004, meninggalkan Stamford Bridge, markas Chelsea, awal musim 2007-2008.
Pekerjaan rumah Mourinho itu kini dilimpahkan pada sang suksesor asal Israel, Avram Grant. Kalau Grant bisa mempersembahkan trofi Liga Champions musim ini, Roman Abramovic, pemilik Chelsea, pasti tidak keberatan memperpanjang karier mantan pelatih tim nasional Israel itu.
Menilik materi pemain, Chelsea tak mengalami banyak perubahan. Tim saat ini dihuni oleh sebagian dari mereka yang merasakan kegetiran kalah dari Liverpool. Pertemuan Merah dan Biru pada 22 April nanti akan menjadi ajang balas dendam John Terry dkk terhadap Steven Gerrard cs.
Berbeda dengan Chelsea, selain mengejar gelar keenam, Liverpool malah ingin menjaga tradisi "selalu menang" atas lawannya itu di Liga Champions. Persiapan sudah dilakukan Rafael Benitez, pelatih Liverpool, dengan mendatangkan mesin gol baru, Fernando Torres dari Atlético Madrid pada awal musim ini. Penyerang berusia 24 tahun ini mencetak 82 gol dari 214 penampilannya bersama Atletico.
Usaha Benitez mendatangkan pemain seharga 26 juta Euro ini tidak percuma. Torres langsung menjelma menjadi algojo baru di daratan Inggris. Sejak bergabung di Anfield, markas Liverpool, hingga laga kedua babak perempat final Liga Champions kemarin, Torres sudah mencetak 29 gol dalam 36 laga yang dilakoni "The Reds" di semua ajang. Torres akan menjadi tumpuan Liverpool melanjutkan dominasinya atas "The Blues".
Laga lain yang akan mempertemukan MU dan Barcelona juga menjanjikan tontonan menarik. MU berambisi menyandingkan gelar Liga Champions dengan Liga Utama Inggris. Sementara, Barcelona yang sedikit menjauh dari gelar juara Liga Spanyol, tentu akan mati-matian merebut trofi Liga Champions sebagai satu-satunya kompensasi yang layak menutupi kegagalannya di liga.
Perpaduan Harmonis
MU punya perpaduan pemain muda dan tua yang harmonis. Kehadiran Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez tak lantas membuat Gary Neville, Paul Scholes, dan Ryan Giggs merasa tersingkir. Tenaga muda dan pengalaman senior menjadikan MU menjadi tim yang solid, cepat, tajam, namun tetap tenang.
Selain itu, MU terbukti mampu bermain konsisten ketika tidak diperkuat pemain pilarnya. Misalnya, ketika tampil menghadapi AS Roma dalam laga kedua babak perempat final Liga Champions, "Setan Merah" mampu menang meski tidak diperkuat Ronaldo dan Rooney. Sistem rotasi pemain yang diterapkan pelatih Sir Alex Ferguson, terbukti mampu mengembangkan tiap individu dalam timnya tanpa ada yang menjadi besar kepala.
Ronaldo dan Rooney, dua pemain muda MU paling menonjol saat ini, tak pernah mengeluh bila sesekali dibangkucadangkan. Namun, bila tugas memanggil, keduanya akan mampu tampil maksimal untuk tim.
"Meski berposisi penyerang, Rooney tak pernah ragu memberi umpan kepada rekannya bila memang itu akan berguna bagi klub. Ia juga tidak rewel ketika melihat Ronaldo yang berposisi sebagai gelandang mencetak gol lebih banyak darinya yang penyerang. Sebaliknya, Ronaldo juga tak pernah besar kepala, meski ia sadar ia adalah andalan tim saat ini," ungkap Sir Alex mencontohkan kekompakan dan kedewasaan sikap pemain mudanya.
Ronaldo sudah mencetak 37 gol dalam 39 laganya bersama MU musim ini di semua ajang. Dengan pencapaian itu, Ronaldo tentu akan menjadi fokus perhatian Frank Rijkaard, pelatih Barcelona, pada laga pertama babak semifinal di Stadion Nou Camp, markas Barcelona, 23 April men- datang.
Dengan buruknya konsistensi penampilan Barcelona pada musim ini, maka Frank Rijkaard harus memperbaiki pertahanan El Barca sambil mencari strategi untuk mematikan pergerakan Ronaldo. Selain itu, pelatih yang pernah bermain untuk AC Milan ini juga harus mencari alternatif serangan efektif bagi Thierry Henry dan Samuel Eto'o.
Dalam dua laga babak perempat final melawan Schalke, Barcelona hanya mencetak dua gol. Anehnya, kedua gol itu bukan diciptakan barisan para penyerang senior "El Barca", melainkan oleh striker muda Bojan Krkic dan bek Yaya Toure.
Barcelona kini menghuni posisi tiga klasemen Liga Spanyol dengan raihan 59 poin atau tertinggal tujuh poin dari pemuncak klasemen, Real Madrid. Langkah menuju juara akan semakin sulit mengingat Liga Spanyol hanya menyisakan tujuh laga lagi. Melihat konsistensi penampilan Real Madrid, maka target Liga Champion menjadi alternatif realistis tahun ini. Bila gagal, maka bisa jadi musim ini akan menjadi akhir kepelatihan Rijkaard di Nou Camp. [Albertus Tjatur Wiharyo]