
sp/elly burhaini faizal
Para peserta tampak serius menyimak jalannya "Phnom Penh Interfaith Dialogue 2008", termasuk Jan Aritonang (depan kiri), pengurus PGI, yang menjadi salah satu anggota delegasi Indonesia.
endidikan, yang dikedepankan oleh tiap budaya dan agama mana pun, menjadi jalan terbaik dalam menumbuhkan sikap saling menghargai sejak dini. Presiden Federasi Dewan Islam Australia Ikebal Adam Patel mengatakan di dalam Islam, mengejar ilmu pengetahuan adalah tugas mulia. Perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad, sebagaimana diungkap dalam Al Quran adalah "Iqra" atau "Bacalah!"
"Perintah tersebut menegaskan bahwa umat manusia didorong untuk terus mengejar ilmu pengetahuan dan mencerdaskan diri," tukas Ikebal dalam presentasi di "Phnom Penh Interfaith Dialogue 2008", Phnom Penh, Kamboja, Kamis (3/4).
Dalam agama-agama yang lain, pendidikan juga dapat tempat utama. Mengejar ilmu pengetahuan bertujuan untuk meraih kebajikan untuk umat manusia. Dengan ilmu pengetahuan, manusia diharapkan tidak menghancurkan kebaikan-kebaikan yang ada di dunia. Pengetahuan juga harus dimanfaatkan untuk mendorong kesetaraan di antara umat manusia, tidak saling berebut dominasi dan kekuasaan demi kepentingan pribadi. "Di sinilah pendidikan berperan penting dalam menciptakan saling penghormatan antarpemeluk agama," ujar Ikebal.
Jan Aritonang dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) juga mengingatkan kembali bahwa pertemuan Waitangi, Selandia Baru, Mei 2007, telah menyepakati agar sekolah-sekolah memperkuat pengajaran toleransi antarkelompok. "Rekomendasi di bidang pendidikan ini yang akan ditindaklanjuti dari Phnom Penh Interfaith Dialogue 2008," tambah Jan, salah satu dari 19 delegasi Indonesia.
Dalam deklarasi Waitangi, masyarakat sipil serta kelompok-kelompok agama dan kepercayaan diminta untuk membangun kemitraan satu sama lain. Dalam hal ini, kerja sama dengan pemerintah perlu dikedepankan demi menciptakan keadilan sosial ekonomi, pemberdayaan minoritas, dan rekonsiliasi di antara kelompok-kelompok berkonflik.
Pengalaman Australia
Ikebal menuturkan tidak ada larangan sama sekali untuk mendirikan sekolah berbasiskan agama di Australia. "Sekolah-sekolah Islam di Australia bukan hal baru," ungkap Ikebal. Sekolah Islam pertama di negeri Kanguru tersebut didirikan oleh Australian Federation of Islamic Councils (AFIC) di Melbourne pada awal 1980an.
Tidak bisa dimungkiri, sekolah-sekolah yang berdiri di bawah naungan AFIC kini menjadi kebanggaan baik pemerintah federal maupun negara bagian. Mereka ikut berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dengan komunitas yang lebih besar. Sekolah Islam terbesar, yakni Malek Fahd Islamic School, kini memiliki 1.800 murid dan 120 guru.
Ada ribuan sekolah berbasis agama yang didanai oleh pemerintah. Selain tujuh sekolah Muslim, tercatat ada 4.700 sekolah berlatar belakang Gereja Inggris, 2.100 sekolah Katolik, 37 sekolah Yahudi dan 28 sekolah Metodis.
Penempatan sekolah-sekolah Islam ke dalam sistem pendidikan Inggris masih menjadi perdebatan hangat. Di Jerman, misalnya, pernah muncul desakan agar dilakukan penutupan terhadap salah satu sekolah Islam. Pasalnya, sekolah tersebut dinilai antidemokrasi. Selain tidak mengacu kurikulum Jerman, aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut tidak memakai bahasa Jerman yang merupakan bahasa resmi.
Keprihatinan serupa juga terjadi di sekolah-sekolah Islam di Belanda.
Menurut Ikebal, pengalaman tersebut tidak terjadi di Australia. "Jika sekolah Islam tidak sejalan dengan kurikulum departemen pendidikan di sebuah negara maka akan terjadi isolasi dan keterasingan bagi sekolah itu sendiri," komentar Ikebal.
Sekolah-sekolah Islam di Australia dirancang untuk menciptakan atmosfer yang harmonis. Murid-murid dididik untuk menghargai diri sendiri, berintegritas tinggi, tulus hati dan menghormati orang lain. "Identitas kami jelas. Tidak ada ambiguitas. Kami menerapkan standar tinggi sejalan dengan kurikulum," ia menandaskan.
Selain dilatih untuk mengembangkan tanggung jawab, para murid juga ditempa untuk mampu membangun hubungan yang konstruktif di tengah masyarakat. Maka, nyaris tidak ada problem ketika sekolah-sekolah berbasis Islam dibangun di tengah masyarakat Australia yang multikultur. [E-9]