
erburu mode merek dunia tak harus ke kawasan German des Pres, Saint Sulpice, dan Rue de Rennes di Paris. Lupakan Singapura, atau Hong Kong. Di Jakarta, kini bertebaran butik yang menjual karya desainer dunia dan merek ternama dan siap memenuhi hasrat belanja siapa pun. Mulai dari pusat perbelanjaan mewah hingga di kawasan, seperti Jalan Senopati, Barito, Panglima Polim, Lamandau, dan Radio Dalam di Jakarta Selatan.
Mau cari brand-brand internasional, seperti Hugo Boss, Maxmara, Chloe, Emporio Armani, Glow Living Beauty, Pull and Bear, Mango, hingga Zara. Atau karya perancang dunia dari Deoenico Dolce dan Stefano Gabbana (Dolce Gabbana), hingga yang terbaru Jean Paul Gaultier semua sudah ada di Jakarta. Masing-masing hadir dengan daya pikat tersendiri bagi para fashionista.
Seperti Dolce & Gabbana yang membuka butik seluas 258 meter persegi di Grand Indonesia East Mall pada Maret 2008. Di sana pengunjung akan menemukan berbagai kemeja, gaun, sepatu, ikat pinggang, serta tas untuk pria dan wanita. Untuk koleksi musim semi dan panas 2008, Dolce & Gabbana menawarkan gaun berbahan antara lain dari sutra, tafeta, organsa, dan brokat Venesia. Sedangkan, untuk kemeja dan celana pria, dipilih wol, katun, sutra, dan denim. Koleksi tas lebih menonjolkan keunikan aksesori. Tas Miss Easy Way, misalnya, mengutamakan detail zip muka, sedangkan Miss Romantique memiliki dompet koin eksternal dengan tutup gesper.
Sedang Jean Paul Gaultier membuka butik pertamanya di Indonesia di Plaza Indonesia awal April 2008. Menempati areal seluas 131,57 meter, butik ini hadir dengan konsep desain menyerupai kuil Buddha. Untuk pencinta fashion di Indonesia, perancang yang disebut Raja Adibusana Paris ini menampilkan koleksi busana pria dan wanita.
Jika kedua butik ini tampil dengan konsep menarik, Zara yang sudah masuk terlebih dulu membuka butik di Plaza Indonesia dan Pondok Indah Mal 2 itu mencoba dengan konsep berbeda. Mereka menetapkan harga produk Zara di Indonesia lebih murah dibandingkan di negera-negara tetangga. Harga sebuah blus untuk dikenakan sebagai bagian dalam blazer, misalnya, hanya Rp 59.000 dan blus dengan bordiran sekitar Rp 120.000. Dengan mengeluarkan uang Rp 2 juta, para lelaki bisa mendapatkan sebuah jas dengan kualitas baik. Beda halnya dengan Jean Paul Gaultier yang koleksinya mulai dari harga Rp 5 juta hingga Rp 125 juta lebih. Langkah untuk pasang harga murah juga dilakukan Mango.
Saat ini, Indonesia memang makin dilirik oleh para perancang dunia sebagai pasar mode yang potensial. Sasarannya, tentu saja perempuan profesional atau mereka yang termasuk golongan berduit dan sadar mode. "Orang-orang Indonesia hobi berbelanja, biasanya mereka pergi ke Malaysia atau Singapura untuk berburu mode dan merek dunia. Bahkan, 30 persen dari pelanggan butik ternama di Singapura adalah orang Indonesia," kata Presiden Director PT Busana Glamor Perkasa, Chandra Wijadja yang memegang lisensi resmi merek Jean Paul Gaultier di Indonesia itu.

SP/Alex Suban
Butik Socialite di Kawasan Kebayoran Baru menjual merek dunia.
Ternyata tak hanya pusat perbelanjaan yang ramai dengan merek dunia. Sejumlah kawasan di Jakarta Selatan tadi juga ditaburi butik yang menyajikan produk dengan brand ternama seperti Channel, Moschino, Prada.
Secara berkala, pemiliknya akan berbelanja ke luar negeri sehingga butik-butik itu senantiasa memajang barang-barang baru. Harganya mulai ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Penampilan butik di kawasan ini juga banyak menyerap konsep di pusat mode dunia, seperti Saint Germain des Pres, Saint Sulpice dan rue de Rennes di Paris. Bahkan di kawasan Kebayoran Baru toko-toko elite tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Masing-masng butik memiliki target pembeli yang terbeda.
Selain brand internasional, beberapa perancang lokal pun turut bersaing dengan berbagai koleksi mereka di rumah mode masing-masing. Seperti ada House of Adjie dan Rumah Dian yang saling bersebelahan di Jalan Barito I, Jaksel. Koleksi Adjie tidak jauh dari kebaya-kebaya yang menawan, termasuk rancangan untuk pesta pernikahan. Permainan payet-payet dan manik-manik menyala menjadi pemanis kebaya rancangannya. Sedangkan, Rumah Dian berkonsep one stop shop yang isinya baju, perhiasan baik mutiara maupun berlian, sepatu, tas, dan sebagainya.
Ada juga rumah mode Dipa Sumawijaya, tak jauh di Jalan Panglima Polim. Dipa yang pada awalnya merancang evening dress dan pakaian resmi untuk pria kini mulai merambah jenis-jenis semiformal. Biasanya untuk pakaian pria, baju dijahit sesuai pesanan. Selain itu, untuk butik kelas menengah di kawasan yang sama ada Bule and Lusi.
Para pemburu mode (atau merek) memang tidak peduli dengan berapa jumlah uang yang mereka keluarkan asalkan produk yang mereka inginkan dapat digenggam. Artis Diana Pungky, misalnya, menjadi salah seorang yang begitu senang akan kehadiran Zara di Indonesia. "Saya memang fanatik memakai Zara. Sebelum ada di Jakarta, saya belanja di Singapura," katanya.
Jadi, tak perlu jauh-jauh lagi berburu mode dunia. Siapa tahu suatu saat nanti jika ingin berbelanja fesyen di Kebayoran Baru tidak perlu kendaraan, bisa berjalan kaki seperti di kawasan mode Paris. [W-10]