
Film : In The Name of Love
Sutradara : Rudi Soedjarwo
Pemain : Acha Septriasa, Vino G Bastian, Luna Maya, Lukman Sardi, Nino Fernandez, Vino G Bastian, Ario Bayu, Christine Hakim, Cok Simbara, dan Roy Marteen.
Skenario :Cassandra Masardi
Genre :Drama
Produksi :Variant Circle Production
In the Name of Love menghadirkan perjuangan cinta anak konglomerat yang saling bermusuhan. Seperti halnya kisah Romeo dan Juliet. Namun kisah klasik itu diangkat dengan gaya Indonesia dan seting masa kini. Tak ada adegan minum racun bersama.
udulnya memang berbahasa Inggris, tetapi film ini asli produksi lokal. Sutradara Rudi Soedjarwo bekerja sama dengan penulis skenario Cassandra Masardi membuat bagian pertama dari kisah In the Name of Love. Sejumlah bintang tenar bermain dalam film ini, seperti Christine Hakim, Roy Marteen, dan Cok Simbara.
Ide cerita In the Name of Love awalnya digagas oleh sutradara Rudi Soedjarwo. Rudi ingin menyajikan drama tentang cinta yang harus diperjuangkan apa pun tantangannya. Meski mengaku tidak mencontek perseteruan keluarga Montague dan Capulet karya William Shakespear, namun Rudi menghadirkan perseteruan keluarga Satrio Hidayat dan Triawan Negara.
"Memang klasik. Tapi, tema cinta harus tetap ada. Cinta kelihatan indah, nyaman, dan aman. Tapi, semua itu bisa berubah jadi bencana ketika dihadapkan pada kepentingan mempertahankan harga diri," papar Rudi yang pernah menyutradarai film Pocong, Pocong 2, 40 Hari Bangkitnya Pocong, Mengejar Mas-Mas, dan Cintapuccino.
Kisah perseteruan cinta anak-anak keluarga kaya seperti Romeo dan Juliet sebenarnya juga pernah diangkat dalam beberapa film-film mafia Italia. Tentunya dengan berbagai adaptasi yang menyertainya. Rudi pun menuangkan kisah ini dengan gaya lokal, seperti pertemuan antara Abimanyu dengan Saskia di kampus.
Berawal Dari Cinta
Abimanyu (Vino G Bastian) dan Saskia (Acha Septriasa) adalah sosok yang mirip dengan Romeo dan Juliet. Mereka menjalani cinta yang dilarang oleh kedua keluarganya. Abi adalah keturunan Satrio Hidayat (Cok Simbara) dan Saskia adalah keturunan Triawan Negara (Roy Marteen).
Sebenarnya asal muasal perseteruan keluarga Satrio Hidayat dan Triawan Negara berawal dari persaingan mereka memperebutkan seorang gadis bernama Citra (Christine Hakim). Saat muda, Satrio jatuh hati pada Citra, namun tidak berani melamar karena merasa tidak mapan. Akhirnya, Triawan-lah yang berhasil mempersunting Citra.
Dalam kehidupan selanjutnya, dua laki-laki itu kembali bersaing dalam urusan bisnis. Bahkan mereka sering saling menjatuhkan di depan khalayak umum. Sejak saat itulah pertarungan di antaranya menjadi tidak pernah surut.
Bahkan ketika Satrio menikahi Kartika dan memiliki tiga anak, ia menularkan rasa bencinya kepada anak-anaknya. Begitu pula Triawan.
Namun, nasib berkata lain. Abimanyu dan Saskia malah bertemu dan mereka saling jatuh cinta. Menyadari cintanya akan menemui tantangan hebat, semangat perjuangan mereka tak lekang oleh aturan-aturan keluarga.
Gelap
Seperti halnya kisah Romeo dan Juliet, drama yang dituangkan dalam In The Name Of Love adalah kisah yang suram dan sendu. Pertemuan cinta mereka hanya menjadi tragedi keluarga. Rudi pun menuangkan mood ceritanya dengan gambar-gambar meminimalkan cahaya.
"Memang sengaja saya bikin dark. Kalau mau nonton film percintaan yang cerah dan colorfull, saya sarankan jangan nonton film ini," ujar Rudi yang berkibar namanya saat menyutradarai Ada Apa Dengan Cinta.
Selain menyajikan gaya baru dalam genre drama percintaan, Rudi juga melakukan terobosan menggabungkan pemain-pemain senior dan pemain muda. Nama-nama, seperti Christine Hakim, Roy Marten, dan Cok Simbara memang sudah jadi jaminan tersendiri. Selain itu Rudi juga menghadirkan pemain-pemain muda yang berbakat, seperti Lukman Sardi, Acha Septriasa, Vino G Bastian, dan Nino Fernandez. Para pemain muda ini pun tidak kalah bagusnya dibanding pada senior mereka dalam film ini. Mereka berhasil mengangkat karakter mereka dengan baik.
Rudi menyebutkan ia sudah lama ingin menggabungkan tiga generasi aktor/aktris dalam filmnya. Menurutnya, gabungan aktor-aktris terbaik dari zamannya pasti akan menghasilkan film yang bagus.
Namun secara umum, In the Name of Love kurang berhasil menimbulkan rasa yang menggugah. Kisah tragedi yang dihasilkan terasa datar saja. Kisahnya pun terasa jauh dari realita sehari-hari. [SP/Kurniadi]