SUARA PEMBARUAN DAILY

Deprivasi di dalam Penjara

Judul: Menyingkap Sisi Gelap Penjara

Penulis: David J Cooke, Pamela J Baldwin & Jaqueline Howison

Alih bahasa:Hary Tunggal

Editor: Sihol Manullang

Penerbit: Gramedia (2008)

Setelah sekian puluh tahun menunggu, inilah naskah/buku dalam bahasa Indonesia pertama tentang kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang dibahas secara teoretis, kemudian dikombinasi dengan pengalaman orisinal dari dalam LP. Uniknya lagi, buku ini diterjemahkan dan diedit oleh yang orang-orang yang "berpengalaman" dengan LP. Ilustrasi paling ringkas, buku ini mirip produk penelitian participatory action research (par).

Selama ini, naskah-naskah dalam bahasa Indonesia, umumnya adalah pengalaman an sich mantan narapidana. Semisal bukunya Prof Dr Rahardi Ramelan MSc ME (kini Ketua Umum Persatuan Narapidana Indonesia), juga karya sastrawan Arswendo Atmowiloto. Buku mereka bagus sebagai suatu catatan pengalaman, tetapi bukan jenis buku yang membahas penjara secara teoretis. Buku ini, dua-duanya sekaligus.

Betapa pentingnya buku ini, bisa dilihat dari sedikitnya tiga fakta. Pertama, Gramedia mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membeli hak penerbitan buku ini dalam bahasa Indonesia. Kedua, sambutan masyarakat melalui Stasiun Televisi Metro TV, yang merasa layak meluncurkan buku ini dalam acara Kick Andy, dan sambutan hangat praktisi/ilmuwan pemasyarakatan dan kriminologi. Ketiga, buku langsung susah dicari, berarti langsung ludes di pasar.

Judul asli buku ini adalah Psychology in Prisons (Routledge, London, 1993). Karena realitas LP masih relatif tidak berubah, maka buku ini selalu terasa hijau, ever green. Alih bahasa buku ini bermula, tatkala dua orang narapidana di LP I Cipinang berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada diri mereka setelah masuk penjara. Mereka bertemu buku ini. Agar bermanfaat bagi banyak orang, mereka mengerjakannya dalam bahasa Indonesia.

Buku ini bertutur tentang tiga hal. Pertama, apa yang terjadi pada seseorang yang dimasukkan ke dalam penjara. Kedua, "siapakah" yang melakukan kejahatan dan mengapa mereka melakukan kejahatan. Ketiga, bagaimana cara efektif menangani para penghuni penjara: mereka yang dari berbagai latar belakang, berbagai sebab masuk penjara, kesemuanya harus ditangani secara spesifik.

Apa yang terjadi ketika seseorang masuk penjara? Ternyata, adalah deprivasi (lawan dari privasi). Kalau orang di rumah/kamar sendiri, tentu mempunyai privasi. Namun ketika seseorang dimasukkan ke dalam penjara (yang dihuni puluhan orang per kamar), orang tak lagi punya privasi, yang terjadi adalah deprivasi.

Efek deprivasi itulah yang muncul dalam banyak hal. Mulai dari stres (agaknya, kalimat yang lebih tepat adalah setengah gila), mudah tersinggung, mudah marah, mudah lupa, dan banyak lagi - pada pokoknya dekat dengan kelainan perilaku, lain dibanding sebelum masuk penjara. Tadinya penyabar, setelah di penjara menjadi pemarah atau mudah tersinggung. Maka buku ini bukan hanya cocok dibaca narapidana dan sipir penjara, melainkan juga masyarakat biasa yang setiap saat bisa masuk penjara.

Kenapa semua orang setiap saat bisa masuk penjara? Karena setiap manusia pernah melakukan kejahatan/pidana minimum satu kali dalam seumur hidupnya - namun hanya sebagian kecil saja yang tertangkap.

Ada tiga faktor pengaruh sehingga seseorang melakukan tindakan kriminal. Pertama, pengaruh awal: seperti latar belakang dan keturunan. Kedua, keadaan masa kini, di mana ia tinggal, apakah ia memiliki pekerjaan, adakah krisis dalam hidupnya? Ketiga, keadaan sesaat sebelum melakukan tindakan kriminal, apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, apakah tindakannya berisiko, seberapa mudahnya melakukan tindakan kriminal itu. [Paulus Benny Situmorang, pencinta buku "Sunderland, Inggris"]


Last modified: 11/4/08