SUARA PEMBARUAN DAILY

Pisau Aneh dalam Rumah

Oleh Ni Komang Ariani

Kamu harus mengakui bahwa di kepalamu bersembunyi iblis. Kamu jangan mungkir bila dalam diam-diammu kau menjelma serigala. Bila dalam sunyimu, taring-taringmu bersembulan. Bila dalam lemah lembutmu, kau memimpikan pisau berkilat-kilat di tanganmu.

Sudah lama aku penasaran dengan sebilah pisau yang ada di rumah. Pisau itu berujung runcing dan mengkilat. Setiap melihatnya aku merasakan jantungku berdesir. Pisau itu seperti ingin mengundangku berbuat jahat. Semakin kupandangi, pisau itu seperti memamerkan kilatnya yang membuat mataku silau. Bila sudah begitu, aku akan menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat. Berusaha mengusir aroma jahat yang ditiupkan. Atau dengan bergegas kuambil pisau berujung runcing itu. Kusembunyikan dalam-dalam di bawah tumpukan bahan makanan simpanan istriku. Aku akan secepatnya pergi dari dapur dan berusaha keras melupakan pisau aneh itu.

Aku sering bergidik mengingat bayangan-bayangan kejam yang dihadirkan pisau itu. Pisau itu seperti menuntunku untuk melukai orang-orang yang kucintai. Anak dan istriku. Aku menduga pisau itu pastilah bukan pisau sembarangan. Barangkali ada yang sengaja menaruhnya di rumah ini. Tapi siapa dan mengapa?

Ingin rasanya bertanya kepada orang-orang di rumah, apakah mereka merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan? Namun, aku khawatir mereka akan menganggapku aneh, bukan tidak mungkin mereka malah akan takut padaku. Menganggapku psikopat, yang harus digiring ke penjara atau rumah sakit jiwa. Duh...

*

Pagi ini aku sedang menyantap sarapanku dengan Nana, istriku. Tira, anakku yang berusia lima tahun sedang bermain dengan Mimi, pembantu kami.

"Na, boleh aku tahu di mana kau beli pisau itu?"

"Kenapa Mas, ada yang salah?"

"Pisau itu aneh. Bentuknya runcing seperti pisau pembunuh di film-film," kataku serius.

"Ha...ha...ha...!" Nana istriku hanya menertawakanku aku. "Ah Mas ini, ada-ada saja. Begini ceritanya Mas... Itu memang salah saya. Pisau itu saya beli waktu lagi ada diskon di supermarket. Nah, pas beli pisau itu saya mungkin lagi agak melamun atau apa, kok ya milih yang bentuknya begitu. Sebenarnya saya nyesel juga belinya, tapi karena pisaunya bagus, tajam dan tidak karatan, akhirnya saya tetap pakai juga. Nggak pa pa kan Mas?"

"Buang saja pisau itu, Na. Aku ngeri melihatnya. Jangan-jangan pisau itu ada rohnya. Bertuah gitu!"

"Ah Mas ini, mana mungkin pisau di supermarket bertuah. Kan tidak ada dukun yang meniupkan roh ke pisau itu!"

"Pokoknya buang pisau itu. Aku tidak mau melihat pisau itu di rumah ini lagi!" kataku ngotot.

Nana terdiam dan menatapku heran. Mungkin ia merasa bingung dengan kata-kataku yang keras. "Pisau kan murah, Na. Besok aku belikan yang baru di supermarket!" kataku lagi tandas tanpa memberi kesempatan pada Nana untuk membantah.

Dengan langkah ragu Nana beranjak menuju rak dapur. Ia mengambil pisau dapur yang aneh itu dan membungkusnya dengan kertas. Setelah terbungkus rapi, pisau itu dibuang istriku di tempat sampah. Aku menarik napas lega. Akhirnya aku bisa menyingkirkan pisau yang membuatku ngeri itu. Dengan bersiul kecil, aku tinggalkan rumah untuk pergi ke kantor. Aku yakin tidak akan diganggu lagi oleh pisau aneh itu.

*

Kau harus mengakui dalam jiwamu kau menyimpan gelap. Sisi kelam yang terselip rapi di dalam ruas-ruas hatimu. Kau jangan mungkir bila hasrat purba itu sering mengetuk-ngetuk jiwamu. Menuntutmu menjelmakan wujudnya. Menampakkan kilatan-kilatan bola mata merahnya; menyembulkan tanduk-tanduk runcingnya. Katakan bila engkau ingin mengenyahkan iblis dari kepalamu. Katakan kau ingin mengusirnya jauh-jauh dari benakmu. Kecuali kau diam-diam menikmatinya, mencintainya bersemanyam dalam hatimu...

Tengah malam tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Perutku yang lapar rupanya tidak bisa diajak untuk meneruskan tidur. Aku tidak makan malam hari ini karena terlalu capek sepulang dari kantor. Selesai mandi jam tujuh tadi, aku langsung terkapar di tempat tidur. Nana rupanya tidak tega membangunku untuk makan malam. Sesaat kulirik Nana yang tertidur pulas dengan suara napas yang terdengar lirih. Sementara Tira, tidur sambil memeluk guling di ranjang mungilnya yang berpagar kasa lembut. Aku hanya tersenyum bahagia melihat kedua orang terkasihku.

Aku beranjak menuju dapur. Berharap ada makanan yang bisa mengganjal perutku yang keroncongan. Aku melonjak girang dalam hati menemukan sepotong cheese cake di dalam kulkas. Aha terobati juga perutku yang keroncongan. Segera saja aku sambar makanan favoritku itu dan langsung mengunyah dengan nikmat. Sambil mengunyah dengan nikmat, aku berusaha meraih gelas yang tersimpan di rak dapur.

Aku terkesiap meraba sesuatu yang runcing dan berkilat di sana. Serta-merta kutarik tanganku dari rak dapur dan seketika selera makanku lenyap. Pisau aneh itu ternyata masih tergeletak manis di rak dapur. Ia terselip di antara piring dan gelas yang tersusun rapi di sana.

Bulu kudukku meremang membayangkan cara pisau aneh itu bisa kembali berada di rak dapur. Padahal sudah sangat jelas Nana telah membuangnya. Kecemasanku bahwa pisau itu bukanlah pisau sembarangan semakin terbukti. Seketika sekujur tubuhku dilanda ketegangan. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Dan aku merasakan lagi aroma itu. Bayangan-bayangan aneh sekonyong-konyong berkelebat menyesaki kepalaku. Bayangan ketika pisau itu melukai istriku. Pisau itu menggores dadanya hingga berdarah. Lalu muncul lagi bayangan lain. Pisau itu melukai kepala Tira hingga bercucuran darah. Aku ter- diam dalam rasa takut yang sangat di dadaku.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang kumiliki, kuambil pisau itu dan memasukkannya ke kantong plastik. Dengan langkah-langkah lebar, aku menyeberangi halaman rumah menuju ke pintu depan. Kurasakan tanganku bergetar dan pisau itu terlihat berkilat-kilat ditempa cahaya lampu taman yang temaram. Dengan terburu-buru, aku buka gembok pagar dan menuju ke tempat sampah besar di depan rumah. Aku selipkan pisau itu ke bagian paling bawah tumpukan sampah. Menimbunnya dalam-dalam dengan sampah hingga sepenuhnya lenyap dari pandangan mataku. Secepatnya kukunci lagi gembok pagar dan terburu-buru masuk ke dalam rumah.

Setelah mengunci pintu depan, aku bergegas memeriksa semua jendela dan semua pintu. Memastikan semuanya telah terkunci rapat. Di setiap pintu aku pasang bangku tebal untuk menghalangi jalan masuk. Setelah semua selesai, aku jatuh terduduk di sofa dengan napas yang masih terengah-engah dan keringat dingin mengucur deras di kening.

Pikiranku masih tertuju pada pisau aneh yang baru kubuang di tempat sampah. Aku masih risau kalau-kalau pisau itu bisa kembali masuk rumah dengan misterius. Aku masih terus duduk di sofa TV dengan ketegangan memenuhi kepala ketika fajar mulai menyingsing. Tanpa sadar aku tertidur dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang suntuk.

*

Aku terbangun oleh suara ribut dari dapur. Itu suara Mimi dan istriku yang sedang berbincang-bincang. Suara cempreng Mimi terasa sangat mengusik telingaku yang baru sempat istirahat beberapa jam.

"Aneh sekali Bu. Padahal sudah jelas pisaunya saya taruh di rak dapur, kok ya tiba-tiba hilang."

"Pisau yang mana, Mi?" tanya Nana

"Itu lho Bu, pisau runcing itu!"

"Lho bukannya sudah saya buang di tempat sampah?"

"Ya itu Bu. Saya sayang. Sehari-hari dipakai bagus. Kalau Ibu tidak suka, mau saya bawa pulang, buat Si Mbok di rumah. Kebetulan pisau di rumah kami sudah pada tumpul. Rencananya hari ini, saya mau minta izin bawa pisau itu ke Bekasi sekalian mengunjungi Si Mbok. Jadi saya simpan dulu. Eh, malah hilang!"

Aku menahan napas mendengar percakapan di dapur. Rupanya Mimilah yang membawa pisau itu kembali ke rak dapur. Diam-diam aku merasa lega karena kecemasanku pada pisau aneh itu tidak terbukti. Barangkali aku memang hanya berhalusinasi. Mungkin aku harus bertemu seorang psikiater.

*

Aku tahu kau diam-diam memelihara iblis dalam jiwamu. Kau ternakkan agar ia terus tumbuh dan bertambah besar. Kau biarkan ia mengambil sebagian dari jiwamu, seperti kau menikmati kilatan- kilatanku dan memuja ketajamankanku. Lihatlah bagaimana kutiupkan gemuruh dalam iblismu. Agar amuknya semakin berkobar. Agar ia mengisap dalam-dalam isi otakmu. Tumbuh dan semakin gendut. Dan iblis itu menjadi kepalamu.

Dua bulan berlalu dan rumahku aman tenteram saja tanpa peristiwa yang aneh. Aku hampir melupakan ketakutanku pada si pisau aneh, kalau saja siang itu, telingaku tidak tergelitik oleh teriakan seorang penjual pisau di depan rumah. Nana sangat sering mengeluh mengenai pisau baru yang aku belikan. Tumpul, katanya. Tidak tajam seperti pisau sebelumnya. Keluhan serupa juga dilontarkan Mimi. Entah mengapa majikan dan pembantu itu begitu kompak menyukai pisau aneh itu.

Dengan enggan aku beranjak memanggil si penjual pisau. Aku ingin membeli pisau baru. Siapa tahu si penjual pisau keliling menjual barang-barang yang berkualitas cukup baik? Buktinya banyak ibu-ibu di komplek ini yang telah menjadi langganannya.

Kuperhatikan si penjual pisau sekilas. Kaos putih dan celana hitam yang dikenakannya cukup bersih, namun sinar matanya memancarkan sorot mata yang dalam. Ah, aku tak mau ambil pusing. Toh, tujuanku hanya membeli sebilah pisau. Sebilah pisau yang dianggap cukup tajam oleh Nana dan Mimi pembantuku.

Aku meneliti aneka jenis pisau yang bertumpukan di depanku. Satu gerobak milik si penjual, penuh dengan pisau dengan berbagai bentuk dan rupa. Aku benar-benar tidak tahu harus memilih yang mana. Tanganku perlahan membolak-balik tumpukan pisau itu sambil menimbang-nimbang dalam hati.

Di tengah lamunan dan penyesalan bahwa ternyata aku tidak tahu apa pun soal pisau, ekor mataku menangkap kilatan sebuah pisau di bagian pojok gerobak. Pisau berujung runcing yang sangat aku kenal. Seketika tubuhku menggigil. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku meninggalkan si penjual pisau dan bergegas masuk ke dalam rumah.

Pisau aneh itu lagi... Aku yakin pisau aneh itulah yang menyembul di salah satu sudut gelap gerobak si penjual pisau. Meskipun hanya sebagian kecil ujungnya yang terlihat, aku sangat mengenali pisau aneh itu. Ada dua goresan kecil di dekat ujungnya yang runcing.

Tiba-tiba udara yang kuhirup terasa pengap. Jari jemariku yang berayun-ayun di dekat tubuhku, bergetar hebat. Aku yakin, pisau aneh itu selalu mencari jalan untuk bisa kembali ke rumahku. Ia sepertinya membawa misi yang belum selesai. Seketika aku bergidik.

Tanpa memberi penjelasan apa pun, kuperintahkan Nana, Tira, bahkan Mimi untuk mengemasi pakaiannya masing-masing. Kami akan berkunjung ke rumah Oma di Bogor. Tampangku yang kusut tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk bertanya atau membantah. Aku syukuri kepatuhan mereka. Kami barangkali akan tinggal beberapa hari di Bogor. Setelah itu, barulah aku pikirkan, apakah kami akan kembali ke rumah ini atau betul-betul pindah ke rumah baru.


Last modified: 11/4/08