dalam diriku
aku menanam sebatang pohon
dengan airmata, tumbuh
menjadi sebuah negeri
negeri seekor burung
maka, aku belajar
cara terindah seekor burung, mencintai sebatang pohon
cara terindah sebatang pohon, mencintai seekor burung
burung yang mengenakan setiap warna
pohon yang mencantumkan seluruh bunga
burung, pohon, yang menjaga nyala lilin tanah
maka, aku pun belajar
mencintai sebatang pohon
yang tertanam dalam diriku
tumbuh di tubuhku
gurun yang paling gersang ini
*
siapakah penyair
yang menjadi juru kunci gunung api
gunung yang menjulang dari tempat paling dalam
dan menghujam ke puncak tertinggi diriku
juru rawat kata-kata
yang menjagaku membisu
dengan mitologi negeri yang hilang
negeri yang kehilangan musim hujan
didirikannya
pada lahan terbuka yang paling luas
di tubuhku yang membentuk gurun
sebuah candi air
aku pandang reliefnya dengan mata terpejam
menyentuh air mata sedingin awan panas
dari tangisku sehening lava pijar yang mendaki
asap gelap dari guguran sayap kupu-kupu terbakar
kupu-kupu malam taman bunga bawah laut
aku genggam dengan tangan terbuka
berbaring, searah magnet bumi
aku mendengarkan tanah bergetar
menumbuhkan stalagmit dan stalaktit
aku tempuh lubang hitam jalan cerita
juru tulis jejak burung di kaki langit
menjadi penyair
menjadi juru kunci gunung api
gunung yang menjulang dari tempat paling dalam
dan menghujam ke puncak tertinggi diriku
*
(:I Made Suantha)
apakah rumah bagi seekor kupu-kupu
aku ukur
telapak kakiku menyibak ilalang
keningku mencium tanah
seluas bayang badan rebah
pohon tumbuh dan memberi sekuntum bunga
sekuntum. betapa tak terjangkau
oleh seorang pemburu madu dan nektar akar
juga ke tengah pentas dan ke dalam kanvas
sedalam sawah, akarnya mencari mata air tanah
serumit itu: dari hulu ke hilir, dari hilir ke hulu
sebatang pohon tumbuh
menjadi rumah kupu-kupu
aku pilih yang paling tinggi
setinggi sayap menangkupnya
apakah rumah kupu-kupu berwarna
serupa warna pada sayap
yang bergetar dan bersuara dalam hujan
o lagu alam.apa yang bisa aku tangkap maknanya
bunyi yang bersahutan
ketuk seseorang yang tersesat di malam buta
tapi pohon-pohon di Ubud
bersinar terang tengah malam
sebuah rumah kupu-kupu yang bercahaya
mataku tak menjeratnya
kecuali api, dalam upacara pembakaran mayat
pikirku, rumah itu terbakar
seperti dirimu, kau kenangkan diriku
terkelupas warnanya
terpana terpanah
apakah tak cukup bagimu sebuah rumah kupu-kupu
*