SUARA PEMBARUAN DAILY

Pasar Barang Antik Jalan Surabaya Terancam Digusur

DPRD Minta Ditunda 3 Tahun

Abimanyu

Puluhan kios barang antik berjajar di sepanjang Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Rencana Pemprov DKI Jakarta menggusur kios-kios tersebut, dikhawatirkan akan menghilangkan salah satu lokasi tujuan wisata utama di Jakarta. Gambar diambil Jumat (4/4).

[JAKARTA] Pasar barang antik yang terletak di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, terancam tinggal kenangan, menyusul rencana penggusuran oleh Pemprov DKI Jakarta. Alasannya, keberadaan pasar di atas trotoar itu telah mengambil alih hak pejalan kaki.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta HM Ilal Ferhard kepada SP, di Jakarta, Kamis (3/4) mengungkapkan, pihaknya sudah mendengar rencana penggusuran pasar itu awal 2008 lalu. "Informasi yang kami terima, penggusuran akan dilakukan karena pasar itu berada di atas trotoar, pas di pinggir kali. Fungsi trotoar sudah berubah. Jadi pasar akan dipindahkan, dan jalur itu dikembalikan fungsinya," ujar Ilal.

Dia menjelaskan, DPRD belum mendapat alasan lain yang kuat dari Pemprov DKI soal penggusuran itu, termasuk lokasi baru bagi pedagang. Menurutnya, Pemprov DKI sebaiknya berpikir ulang untuk menggusur pasar tersebut.

Apalagi, pasar itu merupakan salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara. "Sejak saya kecil, pasar itu sudah ada. Jadi menggusur sesuatu yang sudah dikenal dan bagus, seharusnya harus dipikirkan matang," ujar wakil rakyat dari Partai Demokrat yang juga mantan pilot tersebut.

Dia menyarankan, Pemprov menunda penggusuran itu selama tiga tahun, dengan terlebih dulu meminta masukan dari semua instansi terkait, terutama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Saran serupa juga dia sampaikan kepada Sylviana Murni, saat dilantik menjadi Wali Kota Jakarta Pusat.

Sementara itu, Kepala Biro dan Protokol Pemprov DKI Jakarta, Arie B Soedarto mengaku belum mengetahui rencana penggusuran Jalan Surabaya tersebut. "Saya belum dapat kabar mengenai rencana itu. Sampai saat ini saya belum tahu ada rencana bahwa pedagang di Jalan Surabaya akan digusur," katanya.

Menanggapi hal tersebut, para pedagang barang antik di Jalan Surabaya menolak bila mereka digusur. "Tempat ini merupakan salah satu sumber penghasil devisa DKI. Orang asing sudah tahu tempat ini. Kalau digusur, Jakarta akan kehilangan tempat wisata," kata Daniel (27), seorang pedagang barang antik di Jalan Surabaya.

Dia mengaku pernah mendengar kabar penggusuran, sekitar empat tahun silam. "Kalau isu penggusuran sebenarnya sudah sering, ada sekitar 3 sampai 5 kali," ujarnya.

Ketua Kelompok Pedagang Barang Antik dan Koper Jalan Surabaya, Mumu Hidayat sependapat dengan Daniel. Dia menolak rencana Pemprov DKI yang akan menggusur kawasan Jalan Surabaya. "Tempat ini tidak mengganggu masyarakat sekitar dan tidak ada keluhan dari warga sekitar. Selain itu, tempat ini tidak menimbulkan kemacetan, kesemerawutan dan tidak merusak fasilitas umum," tegasnya.

Dmumu tidak yakin Pemprov DKI Jakarta bakal menggusur lokasi itu. Sebab, Maret lalu para pedagang memperpanjang izin usahanya untuk satu tahun ke depan.

Sejarah keberadaan pasar barang antik di Jalan Surabaya bermula ketika beberapa pedagang barang loak menemui Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, pada 1974. Mereka meminta agar diperbolehkan memiliki tempat berjualan barang-barang loak. Atas persetujuan Ali Sadikin, para pedagang menempati Jalan Surabaya sebagai tempat usaha. Awalnya, mereka hanya boleh menggunakan tenda. Kemudian seiring waktu, pemerintah mem- buatkan bangunan semi-permanen.

Kini, Jalan Surabaya menjadi tujuan wisata. Banyak turis asing yang menjadi pembeli setia. Bahkan Bill Clinton, saat masih menjabat Presiden Amerika Serikat, pernah membeli saksofon di Jalan Sura- baya. [Y-4/RBW/B-15]


Last modified: 5/4/08