SUARA PEMBARUAN DAILY

Orasi Budaya Sri Sultan

Kebinekaan Belum Dipahami

SP/Adi Marsiela

Sri Sultan Hamengku Buwono X membacakan orasi budayanya dalam sarasehan kebudayaan di Hotel Grand Preanger, Jumat (4/4). Sultan mengatakan pembangunan bangsa harus dilandasi semangat Sumpah Pemuda yang mengedepankan keragaman untuk menjadi satu dan bukan pada Sumpah Palapa yang didasari semangat penaklukan.

[BANDUNG] Bangsa Indonesia tidak pernah dapat mengakhiri konflik dan ancaman perpecahan sepanjang hampir 63 tahun usia kemerdekaan. Salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan memahami diri sendiri, dalam pengertian sebagai bangsa yang bineka atau beragam.

Hal tersebut dinyatakan dalam orasi budaya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Sarasehan Kebudayaan di Bandung, Jumat (4/4). Turut hadir sebagai pembicara dalam acara itu budayawan Sunda Ajip Rosidi.

"Sejalan dengan itu, selama ini kita tidak memiliki strategi kebudayaan untuk bangunan berkelanjutan hidup bersama," tutur Sultan yang hadir bersama istrinya.

Masyarakat yang plural di dunia ketiga, sambungnya, acapkali jatuh pada ketidakstabilan yang rawan disintegrasi. Indonesia yang plural, juga tidak ada jaminan dapat menyatukan potensi disintegrasi tersebut dari figur politik sentral.

Sultan mencontohkan lengser-nya Presiden Soeharto telah menyulut sumbu konflik. "Karena ketiadaan pemimpin panutan yang menjadi perekat," ungkap dia.

Ke depan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu mengajak agar pola pandang terhadap pluralisme tidak lagi sama seperti pola pandang saat Gadjah Mada menaklukkan wilayah. Sumpah Palapa, kata dia, bertolak belakang dengan aspirasi bangsa pluralistik, yang pada abad ke-20 ditegakkan melalui Sumpah Pemuda.

"Pengakuan akan adanya pluralitas dan kesediaan menghormati kemajemukan Bangsa Indonesia, lebih menjamin persatuan dan kesatuan dalam waktu yang kukuh dan lestari," tegas Sultan.

Sultan mengungkapkan, latar belakang suku-suku telah berkembang dengan sejarah lokal yang panjang. Hal tersebut merupakan khasanah keragaman yang kemudian menemukan momentum penting untuk bersatu membentuk Indonesia.

"Bhinneka Tunggal Ika adalah sumber semangat, kearifan, dan kekuatan bangsa yang dapat menyadarkan bangsa ini setiap menghadapi cobaan, kemelut, dan krisis. Ini dapat menjadi paradigma gerakan kebudayaan yang melandasi hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara," papar Sultan.

Terkait hal itu, Ajip Rosidi mengungkapkan, peristiwa perang Bubat selalu dianggap sebagai pemicu ketegangan antara etnis Sunda dan Jawa, meski tidak terbuka. Padahal, bila hal itu tidak dibesar-besarkan dan masyarakat kedua etnis selalu berpikir ke depan serta membuang pikiran sempit, masalah disharmoni budaya tersebut sudah jauh hari hilang.

Perang Bubat seharusnya dianggap sebagai sejarah yang tidak difanatikkan, setelah terbentuknya negara Indonesia. Menurut dia, memang pendiri bangsa sempat menggunakan mitos-mitos untuk membangun semangat dan menyadarkan kalau Indonesia ini bangsa yang besar.

"Sayangnya ini malah diteruskan. Seharusnya kita harus lihat harmonisasi antara Jawa dan Sunda yang ditulis dalam naskah Wangsakerta dari Cirebon pada abad ke-17," ujarnya. [153]


Last modified: 5/4/08