[YOGYAKARTA] Kepala Dinas Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Suwarsih Madya mengatakan, meski DIY memiliki status sebagai kota pelajar, ironisnya terdapat 5.151 anak usia pendidikan dasar di DIY belum mengenyam pendidikan.
Hal itu menurut Suwarsih, Jumat (4/4), lebih disebabkan kemiskinan secara struktural, diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya.
"Menurut data yang kami miliki, tidak semua anak putus sekolah berasal dari keluarga miskin. Ada juga yang memang tidak punya keinginan sekolah dan terlebih lagi anak-anak yang merantau dari daerah lain ke Yogya untuk bekerja. Jumlahnya cukup signifikan. Golongan ini mencapai lebih dari 2.000," katanya.
Data itu belum termasuk anak jalanan dan penyandang cacat yang karena kemiskinan tidak disekolahkan di Sekolah Luar Biasa. Kurangnya kesadaran orangtua menyekolahkan anaknya bisa terlihat pula pada anak cacat di DIY yang tidak bersekolah.
Pendekatan
Selain langkah pendekatan kepada orangtua, dinas pendidikan mengupayakan program beasiswa. Namun, untuk itu tidak cukup hanya dilakukan pemerintah.
"Jelas yang menghambat adalah persoalan dana. Untuk itu kami tetap membutuhkan dana masyarakat," ujarnya.
Dinas Pendidikan DIY, akan terus melakukan pendekatan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota untuk terus melakukan pemantauan terhadap kantong-kantong penduduk miskin. Untuk anak dengan kebutuhan khusus, bobot pendidikan tidak harus sama dengan pelajar pada umumnya.
Dia mencontohkan, program sekolah terbuka yang digelar di lembaga-lembaga pendidikan masyarakat, ternyata tidak berpihak kepada siswa dengan kebutuhan khusus.
"Sekolah terbuka itu hanya masuk tiga kali dalam satu minggu. Tapi untuk ujian, mereka diberikan soal yang sama dengan siswa pada umumnya. Begitu juga, saat ini, siswa SD ternyata mendapatkan beban pelajaran yang tidak ringan. Kalau ini diterapkan juga pada siswa yang terlambat masuk sekolah, akan cukup berbahaya dan menurunkan minat sekolah," katanya. [152]