SUARA PEMBARUAN DAILY

Terungkap, Misteri Perempuan Mata-mata Inggris dalam PD II

www.64-baker-street.org

Pearl Cornioley (kiri) bertemu Ratu Elizabeth II.

Rahasia seorang perempuan mata-mata yang menyamar sebagai penjaja kosmetik dalam Perang Dunia II akhirnya terungkap. Perempuan tersebut, Pearl Cornioley, membantu memimpin perlawanan di Prancis yang ketika itu diduduki Nazi.

Sejumlah catatan yang dideklasifikasi oleh Arsip Nasional Inggris, Senin (31/3), menyebutkan Cornioley berhasil mengakali Nazi. Salah satunya dengan menyamarkan pesan-pesan rahasia di keliman roknya serta membantu sejumlah pilot kapal terbang kabur untuk menyelamatkan diri. Misteri ini terungkap setelah Cornioley meninggal dunia pada 24 Februari lalu.

Dari dokumen-dokumen itu terlihat bahwa Cornioley adalah mata-mata yang cepat menyesuaikan diri. Ia juga tidak pernah melupakan keluarganya di Inggris. Ucapan selamat ulang tahun dalam kartu-kartu bertuliskan tangan, maupun berbagai kado Natal, secara rutin disampaikan para pejabat di London kepada ibu dan saudara-saudara perempuan Cornioley.

Arsip Nasional mempublikasikan dua paket informasi, yang menjelaskan secara terperinci pelatihan Cornioley sebagai agen khusus, aktivitas-aktivitasnya di tengah perang, serta perjuangannya untuk mendapat pengakuan dari pemerintah. Cornioley, yang menggunakan nama Genevieve Touzalin selama berada di Prancis, sebelum jadi mata-mata memang menjalani pendidikan di Paris.

Ia akhirnya meloloskan diri dari Prancis menjelang invasi Nazi dan kembali ke Inggris melalui Spanyol. Begitu kembali ke Inggris, ia bekerja singkat di Kementerian Udara di London. Tetapi Cornioley menggunakan keahliannya berbahasa Prancis untuk mendapat tugas sebagai agen eksekutif operasi-operasi khusus (Special Operations Executive/SOE). Ia adalah salah satu dari 40 wanita yang bertugas di unit itu.

Kementerian Udara menjadi bagian dari Kementerian Pertahanan pada era 1960-an. Pada masa itu, SOE tergabung ke dalam Agen Intelijen Rahasia Inggris (Secret Intelligence Service/SIS) yang lazim disebut MI6.

Pada awal pelatihannya dengan SOE, para pengawas menyebutkan Cornioley belum berani dan terampil untuk menjadi agen intelijen. Tetapi, ia bisa menutupi kelemahan itu dengan pembawaan yang secara sosial sangat menonjol, punya bakat terpendam untuk menggunakan berbagai senjata, serta berdaya ingat sangat kuat.

"Ia piawai menggunakan pistol dan berbagai senjata lain. Barangkali, ia adalah penembak terbaik, entah dari kalangan laki-laki maupun perempuan, yang pernah kami miliki," demikian disebutkan.

Gigih

Cornioley, yang dinilai perempuan sangat gigih dan berani, terjun menggunakan parasut ke dalam wilayah Prancis dan menyaru sebagai perempuan penjaja kosmetik untuk menyampaikan pesan-pesan kode kepada para anggota Perlawanan Prancis. Menyusul tertangkapnya pemimpinnya, Cornioley mengambil alih kepemimpinan selnya di departemen Indre di wilayah utara lembah Loire River, sekitar 90 kilometer arah tenggara deretan pantai Normandy.

Ia melakukan gangguan pada jaringan kereta Paris-Bordeaux lebih dari 800 kali dan menyerang sejumlah konvoi pada bulan Juni 1944, bulan yang sama dengan invasi D-Day. Secara keseluruhan, ia memimpin 3.000 pejuang Perlawanan Prancis dalam misi perang gerilya.

Cornioley membuktikan betapa dirinya sangat penting sehingga Nazi menjanjikan satu juta Franc bagi siapa pun yang bisa menangkap perempuan mata-mata itu.

"Ia benar-benar perempuan yang tangguh. Ia berani menerobos garis Gestapo, membantu para pilot pesawat kabur menyelamatkan diri, serta membikin Nazi kebingungan di lapangan," ungkap Mark Dunton, seorang sejarawan pakar Perang Dunia II.

Prasangka Perempuan

Catatan dari Arsip Nasional Inggris juga memperlihatkan perjuangan Cornioley yang tanpa henti untuk menghadapi apa yang disebutnya "prasangka terhadap perempuan". Ia menolak penghargaan dari Pemerintah Inggris atas pengabdian luar biasa bagi negara. Cornioley menilai penghargaan itu cenderung diberikan kepada warga sipil ketimbang personel militer. Ia menuduh Inggris menolak memberikan penghormatan secara militer kepada dirinya gara-gara diskriminasi seks. "Ia benar-benar berjuang untuk mengangkat kaum perempuan," pendapat Dunton.

Cornioley dalam kehidupan selanjutnya memang dianugerahi berbagai pengakuan. Ratu Elizabeth II menganugerahkan Commander of the Order of the British Empire dalam sebuah kunjungan ke Paris tahun 2004. Dua tahun kemudian, Royal Air Force juga memberikan lambang "sayap parasut" yang didambakan banyak orang pada 2006 di rumah peristirahatannya di Paris. Ia juga menerima Legion d'Honneur dari pemerintah Prancis.

Ia bertemu dan jatuh cinta dengan Henri Cornioley, seorang tahanan perang Prancis yang berhasil meloloskan diri dan bergabung dengan Perlawanan. Mereka menikah dalam sebuah upacara yang digelar secara diam-diam di London setelah perang untuk selanjutnya menghabiskan sisa hidup mereka di Prancis. Henri wafat pada 1999. [AP/E-9]


Last modified: 5/4/08