
Rumgapres/Abror Rizki
Presiden Susilo bambang Yudhoyono memberi pernyataan pers tentang film "Fitna" yang dibuat politikus sayap kanan Belanda Geert Wilders di kantor Presiden, Jakarta, Senin ( 31/3) malam. Presiden melarang beredarnya film dan mencekal Geert Wilders untuk datang ke Indonesia. Presiden meminta masyarakat tidak bertindak anarki menanggapi film itu, serta mengucapkan terima kasih atas ketegasan Duta Besar Belanda di Jakarta yang juga menolak penayangan film itu.
Selama tiga bulan perayaan Kawalu, saat warga Baduy Dalam menutup diri karena menjalankan ritual kepercayaan agama yang dianutnya, pengunjung dilarang masuk perkampungan Baduy Dalam meliputi Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Ketua Wadah Masyarakat Baduy (Wambi), Kasmin, Kamis (3/4), menjelaskan, pada perayaan Kawalu warga Baduy Dalam yang berpakaian khas putih-putih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Warga juga menjalankan ibadah puasa selama tiga bulan. Namun demikian, cara puasanya berbeda dengan umat Islam sebulan penuh. "Kalau warga Baduy Dalam berpuasa hanya tiga kali dalam tiga bulan selama melaksanakan Kawalu," katanya di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Sedangkan, Ketua Lembaga Hukum Adat Baduy Jaro 12, Saidi (65), mengatakan, saat ini perayaan Kawalu telah memasuki bulan karo (kedua), karena bulan pertama (kasa) sudah dilalui. Sedangkan bulan tiga (katiga) diperkirakan jatuh pada Mei mendatang.
Selama Kawalu ini, kata Saidi, warga Baduy Dalam menutup diri karena menjalankan ritual kepercayaan agama yang dianutnya, sehingga warga luar tidak diperbolehkan untuk mengunjunginya, termasuk pejabat daerah dan negara. Hal itu keputusan Lembaga Adat. Karena itu, pihaknya meminta semua warga dari luar hendaknya menghormati keputusan lembaga adat tersebut. "Jika pengunjung nekat mendatangi Baduy Dalam tentu dikenai sanksi hukuman oleh pemuka adat. Setelah Kawalu kami melaksanakan perayaan Seba dengan mendatangi bupati dan gubernur Banten membawa hasil bumi," kata Saidi. [Ant/A-15]
Empat orang tokoh muda Muslimah Indonesia berada di Canberra selama lima hari mulai Sabtu (5/4) guna ikut membangun persaudaraan kedua bangsa melalui program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia (AIME). Koordinator AIME Canberra, Teddy Mantoro mengatakan, keempat peserta AIME gelombang pertama ini akan bertemu dan berdialog dengan kalangan pejabat dan akademisi Australia serta anggota masyarakat dan diplomat Indonesia.
Keempat Muslimah Indonesia yang mengikuti program yang diselenggarakan Lembaga Australia-Indonesia (AII) Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia itu adalah Artati Haris, Jubaedah Yusuf, Melati Adidamayanti, dan Yulianingsih Riswan.Teddy Mantoro mengatakan, Artati Haris merupakan aktivis Muslimah Muhammadiyah di Jakarta yang kini aktif mendukung kegiatan pusat dialog dan kerja sama antarperadaban, sedangkan Jubaedah Yusuf adalah dosen dan peneliti di Universitas Paramadina.
Melati Adidamayanti aktif sebagai pekerja sosial dan pendiri Yayasan Martabat yang membantu penanganan anak-anak jalanan, sedangkan Yulianingsih Riswan merupakan peneliti di Pusat Studi-Studi Agama dan Lintas Budaya UGM. Selama di Canberra mereka berkesempatan bertemu dengan tokoh sepuh masyarakat Indonesia Achdiat K Mihardja serta menghadiri dialog tentang minoritas Islam dan fobia Islam di Australia dengan para anggota berbagai organisasi keislaman Indonesia.
Keempat tokoh muda Muslimah Indonesia ini juga akan bertemu beberapa anggota Parlemen negara bagian Australian Capital Territory (ACT), Pengamat Islam Universitas Nasional Australia (ANU), Prof Virginia Hooker, dan Pakar Teologi Universitas Charles Sturt Prof James Haire. Seterusnya mereka juga dijadwalkan bertemu dengan Jenny Cartmill dan Kate Taylor dari AII, Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra Dr R Agus Sartono MBA. Dr Teddy Mantoro mengatakan, sepanjang 2008 akan ada tiga gelombang peserta AIME. Para peserta gelombang kedua dijadwalkan tiba di Australia pada Mei 2008. [Ant/A-15]
Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan. "Kualitas pendidikan agama dan keagamaan akan terus ditingkatkan," katanya pada acara pelantikan pejabat eselon II di lingkungan Departemen Agama di Jakarta, Rabu (2/4). Hal itu, menurut dia, antara lain akan dilakukan dengan membenahi sistem pendidikan agama dan keagamaan, termasuk lembaga, fasilitas dan sumber daya manusia pendukungnya. "Kekurangan yang selama ini dihadapi akan ditutup, untuk itu banyak sekali lahan yang harus digarap," katanya.
Pada kesempatan itu Menteri Agama menjelaskan pula bahwa terbitnya peraturan pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan merupakan sebuah langkah maju dalam upaya peningkatan pendidikan agama dan keagamaan.
Keberadaan PP yang merupakan tuntutan dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tersebut, katanya, merupakan titik terang bagi penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan. Dalam peraturan tersebut, antara lain disebutkan bahwa pemerintah atau pemerintah daerah diwajibkan memberi bantuan sumber daya pendidikan pada pendidikan keagamaan. "Tapi PP itu tentunya tidak bisa secara serta merta bisa memperbaiki pendidikan agama dan keagamaan, aturan teknis yang lain yang diperlukan harus dipersiapkan untuk mendukungnya," kata Menag. [Ant/A-15]
![]()
SP/Luther Ulag
Dua orang umat kristiani memasuki Gereja Naiono, Kecamatan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (3/4) sore. Sekalipun tempat ibadah sangat sederhana terbuat dari bambu, umat kristiani setempat tetap khususk beribadah.