Oleh Agus Wiyanto
akta seputar Paskah menunjukkan bukti historis, yaitu kubur sudah terbuka dan kosong (Matius 28: 2,6), yang disambung dengan bukti otentik kedua, ada Malaikat, yang diutus Allah di sekitar kubur, dan menegaskan kesaksian kitab suci bahwa Yesus sudah bangkit (Matius 28:6).
Puncaknya, diikuti dengan penampakan Yesus yang bangkit kepada para murid-Nya dalam berbagai peristiwa dan tempat yang terpisah, yang menunjukkan Yesus benar-benar bangkit secara ragawi (Yoh 20:19,23 dan 21: 6). Penampakan ini sungguh menguatkan para murid-Nya.
Kristus bangkit, itulah iman Paskah yang mengubah realita kehidupan manusia. Dari para murid yang tercerai berai, hidup dalam kesendirian yang diliputi ketakutan, dan berjalan tanpa pengharapan, kini mereka dipersatukan kembali dalam komunitas murid Yesus yang punya semangat baru. Teks Injil Matius menggambarkan para murid diingatkan untuk berkumpul kembali di Galilea, bukan untuk reuni dengan Guru yang bangkit, tetapi untuk menerima tugas pengutusan Yesus yang dipercayakan di bahu mereka ( Matius 28:7, 10,16)
Kalau dahulu, kuasa kebangkitan Paskah mampu menyentuh iman para Murid-Nya, dan memberikan semangat baru yang terus menyala di hati mereka, kini pun kuasa yang sama masih dialami oleh setiap orang percaya.
Dari kebangkitan menuju Pentakosta memaparkan ada beberapa peristiwa penting, yang dikemas dalam liturgi gereja. Ibadah ini berlangsung sejak Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan, pada hari pertama Minggu itu, dan terus berlangsung hingga 50 hari sesudahnya dalam sukacita Paskah.
Masa raya Pentakosta dirayakan sebagai klimaks yang mengantar perjalanan masa raya Paskah. Sayangnya, perayaan di gereja hanya berhenti pada Minggu Paskah pertama saja, yang disiapkan dengan lebih meriah dan spesial. Memasuki Minggu Paskah kedua, suasana berjalan seperti biasa lagi. Mengutip Athanasius dari Alexsandria (296-373) menyebut Paskah sebagai Minggu Agung (magna Dominica), sebab peristiwa kebangkitan Kristus dirayakan pada saat kalender Yahudi merayakan perayaan musim menanam, dan berselang 50 hari, sesudahnya, telah membuahkan persekutuan umat percaya sebagai hasil tuaiannya.
Paskah menjadi induk dari segala hari raya gereja. Paskah yang semula dirayakan Paskah Yahudi 14 Bulan Nisan. Dahulu menggambarkan pembebasan umat Israel dari Mesir melalui tangan Tuhan yang berkuasa, telah mendapatkan makna baru, yaitu "pembebasan umat Tuhan dari kuasa dosa melalui sengsara, mati, dan kebangkitan Yesus Kristus".
Leo I menyebut Paskah sebagai pesta segala pesta (festum festorium). Lihat penyebutan "sepekan sesudah perayaan Paskah" yang dipakai, bukan Minggu pertama sesudah Paskah, melainkan Minggu Paskah ke 2, ke 3 dst, menunjukkan selama 50 hari adalah tetap dalam sukacita hari-hari Paskah, dan umat mengalami peneguhan karena perjumpaan dengan Yesus yang bangkit.
Minggu Paskah II : "Quasimodo Geniti Infantes", bagaikan bayi yang baru dilahirkan ( I Petrus 2: 2), Ini mengingatkan anggota gereja dan mereka yang merayakan baptisan, diajak bersama dengan Rasul Thomas yang tidak begitu saja percaya kepada kesaksian para rasul tentang kebangkitan Yesus, sebelum membuktikan dengan indranya sendiri. Pada akhirnya memang Thomas mengakui dan menyatakan imannya: Ya Tuhanku dan AllahKu (Yoh 20:19-31).
Minggu Paskah III: "Misericordias Domini"-atau Kasih Setia Tuhan-Maz 89:2a, Maz 33:5b, dengan pembacaan Injil tahun A, Luk 24: 13-35 yang menekankan Penampakan Tuhan kepada para 2 murid di Emaus.
Minggu paskah IV: "Jubilate" atau bersoraklah soraklah bagi Allah hai seluruh bumi, bacaan Injil tahun A terambil dari Yohanes 10 tentang Yesus sebagai gembala yang baik.
Minggu Paskah V : "Cantate Domino Canticum Novum", atau nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan Maz 98, suatu nyanyian Paskah yang Agung. Pembacaan Injil mau menjelaskan ada hal baru dari Paskah. Yesus adalah jalan kebenaran dan Hidup (Yoh 14: 1-14) dengan melakukan pekerjaan Allah yang Yesus lakukan.
Minggu Paskah VI: "Ragate", bertema doa permohonan kepada Tuhan. Mintalah dan kamu akan menerimanya. Minggu ini adalah minggu menjelang kenaikan Yesus ke sorga, pembacaan Alkitab diarahkan kepada persiapan perpisahan Yesus dengan umat-Nya dan janji untuk memberikan Roh Kudus. Pembacaan Injil berfokus pada Yoh 14: 15-21 di mana Yesus menjanjikan Roh penghibur yang akan menolong umat-Nya hidup di tengah dunia.
Paskah VII: Setelah ditengahi dengan kenaikan Yesus ke sorga pada hari Kamis, Minggu Paskah 7 bertema "EXCAUDIA" atau dengarkanlah seruan yang ku sampaikan Maz 27:7 pembacaan injil tahun A berbicara tentang persekutuan pertama para rasul sesudah Yesus naik ke sorga (Kis 1: 6-14). Persekutuan ini menjadi kebiasaan Gereja berdoa Sembilan malam atau Novena, antara kenaikan Yesus sampai dengan Pentakosta.
Pentakosta
Pentakosta berasal dari bahasa Yunani yang berarti "hari ke lima puluh". Tradisi perayaan ini berasal dari tradisi hari raya tujuh minggu atau hari raya buah bungaran dalam perjanjian lama (Kel 34:22;Ul 16:9-11); atau disebut juga hari raya "masa menuai" (Kel 23:16) yang jatuh pada hari kelimah puluh, atau tu- juh minggu sesudah umat Israel merayakan perayaan Paskah.
Menurut tradisi, musim panen orang Israel berlangsung selama lima puluh hari. Hari pertama jatuh pada hari Paskah. Pada perayaan Paskah tersebut, orang Israel mempersembahkan hasil panennya yang pertama kepada Tuhan, sedangkan pada hari Pentakosta menandakan selesainya seluruh panen yang telah mereka dituai.
Pada hari sukaria itu (Ul 16:11) orang Israel menyatakan terima kasihnya karena berkat tuaian gandum dan jelai dan menyatakan rasa hormatnya kepada Tuhan yang telah memberkati mereka. Suasana pujian syukur mengungkapkan terima kasih dipanjatkan sebagai wujud hormat kepada Tuhan yang telah memberkati seluruh hidup kita.
Perayaan hari Pentakosta, pada kemudian hari menjadi perayaan terbesar orang Yahudi ini, kemudian diberikan makna teologis yang lebih dalam lagi, yaitu menjadi sebuah pesta dan momentum peringatan pemberian hukum Allah yang diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai. Puncaknya, Setelah peristiwa turunnya Roh Kudus (Kisah 2) pesta Yahudi ini berubah menjadi perayaan hari raya kristen, yaitu memperingati turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus.
Pentakosta sebagai kelanjutan Paskah. Biji gandum yang ditanam dalam kematian Kristus berbuah pada saat Paskah.Yesus sebagai buah sulung yang sudah dibangkitkan Allah (I Kor 15:20). Pada saat Pentakosta, roh Kudus dicurahkan kepada orang percaya dan lahirnya gereja perdana. Gereja yang hidup sesudah Pentakosta mendapatkan tugas pengutusan menjadi saksi kebaikan Tuhan di bumi dan terus berkarya membawa damai, keadilan, kasih, dan pembebasan bagi semua orang.
Penulis adalah Rohaniwan, pendeta di GKI Cinere.