[JAKARTA]Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid menyayangkan sikap pemerintah yang tidak mau mendengarkan aspirasi petani. Sikap ngotot pemerintah mengijinkan impor gula rafinasi dalam jumlah besar tanpa mekanisme kontrol yang jelas dan ketat terhadap distribusinya sangat membahayakan industri tebu rakyat.
Dihubungi SP, Jumat (4/4) di Jakarta, dia mengkhawatirkan dibiarkannya penetrasi gula rafinasi ke pasar umum akan menghancurkan industri tebu rakyat. Padahal saat ini sedikitnya ada 10 juta orang yang hidupnya bergantung pada kelangsungan industri gula berbasis tebu rakyat.
"Kalau peredaran gula rafinasi tidak dikontrol secara ketat bisa mengancam tebu rakyat. Ini akan menjadi masalah sosial dan ekonomi baru, mau bekerja apa mereka nanti kalau industri tebu rakyat hancur," katanya.
Karena itu, dia mendesak agar peran industri gula rafinasi dikembalikan ke fungsi semula. Dibangunnya industri gula rafinasi tidak lain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gula bagi industri makanan dan minuman bukan pasar umum, katanya. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan gula rafinasi malah dijual ke pasar umum yang selama ini menjadi pasar gula putih yang berbasis tebu rakyat.
Pantauan SP di Jakarta dan Bogor menunjukkan, gula rafinasi juga dijual di sejumlah minimarket. Beberapa minimarket menjualnya sebagai bagian dari paket promosi dimana setiap konsumen yang berbelanja minimal Rp 50.000 dan kelipatannya ditawarkan membeli gula rafinasi sebanyak 0,5 kilogram hanya dengan harga Rp 1.000.
Merembesnya gula rafinasi ke pasar umum semestinya disadari pemerintah sejak awal. Menurut hitungan Wachid, kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman sebenarnya hanya 900.000 tiap tahun. Tetapi, produksinya tahun ini ditargetkan 1,7 juta ton. Kelebihan produksi gula rafinasi sekitar 800.000 ton itulah yang dijual ke pasar umum.
Akibatnya, saat ini peredaran gula rafinasi berbasis gula mentah impor terus mendesak pasar gula konsumsi yang berasal dari tebu rakyat hingga ke pasar rumah tangga. Hal itu lambat laun akan mematikan industri gula berbasis tebu rakyat sekaligus hancurnya perkebunan tebu rakyat, katanya. [L-11]