SUARA PEMBARUAN DAILY

Mengupayakan Masyarakat Mandiri di Sumbawa Barat

Kebahagiaan yang dirasakan Presiden Direktur PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) Patrick Hickey adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat di sekitar kawasan Pertambangan Batu Hijau yang dilakukan PT NNT di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Dulu jumlah penduduk di Kecamatan Sekongkang dan Jereweh hanya sedikit dan miskin, sekarang jumlahnya sudah sepuluh kali lipat dan kehidupan mereka juga makin baik," ujarnya dalam suatu percakapan dengan 13 wartawan dari Jakarta yang berkunjung ke PT NNT beberapa waktu yang lalu.

Memang kalau diamati, Desa Maluk di Kecamatan Sekongkang, kawasan yang dekat dengan Pertambangan Batu Hijau yang menghasilkan konsentrat tembaga dan emas, saat ini sangat ramai. Selain sebagai nelayan, penduduk di sana sekarang mulai terbiasa dengan perdagangan.

Hampir di setiap sudut desa ditemukan warung makan dan tempat penjualan voucher pulsa isi ulang yang merupakan bisnis paling menarik di daerah itu. Hanya sayangnya, mereka yang menggunakan telepon seluler dengan provider Indosat, tidak bisa berhubungan dengan dunia luar, karena tidak ada sinyal di sana.

PT NNT telah menyumbang berbagai fasilitas untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah itu, seperti membangun puskesmas, gedung serba guna, perbaikan jalan, membangun pasar, termasuk kawasan wisata di Pantai Maluk.

Namun sayangnya, ada kesan masyarakat di sana terlalu menggantungkan seluruh kehidupannya kepada PT NNT. Bahkan, untuk seluruh fasilitas yang telah di bangun NNT tersebut, jika ada kerusakan, tidak ada upaya dari masyarakat untuk memperbaikinya. Perbaikan juga diserahkan kepada PT NNT. Padahal, fasi- litas sosial itu yang menggunakan adalah masyarakat daerah itu sendiri.

Memasuki kawasan penambangan NNT akan terasa sekali suasana Amerika di sana. Semua yang berada di kawasan itu mengikuti disiplin yang tinggi. Tidak ada pengemudi yang menyerobot jalur orang lain.

Semua berhenti di setiap ada tanda stop menunggu kendaraan dari arah berlawanan melintas terlebih dahulu. Begitu juga dengan penggunaan alat pengaman seperti helm, rompi, kaca mata, penutup telinga serta sepatu pengaman.

Perubahan

Namun, setelah keluar dari kawasan pertambangan dan masuk ke desa Maluk, suasana langsung berubah. Jalan-jalan banyak yang berlubang, rumah-rumah penduduk dibangun tidak beraturan dan terkesan asal dibangun, serta pengemudi kendaraan sudah tidak disiplin lagi.

Bisnis penyewaan rumah yang begitu marak untuk menampung para pendatang dan kar- yawan PT NNT membuat pem- bangunan rumah di Desa Maluk terkesan dilakukan tanpa te- rencana.

Bentuknya tentu sangat beraneka ragam dan setiap ada tanah kosong, selalu diusahakan mendirikan bangunan di situ. Rumah-rumah untuk disewakan itu dibangun seadanya karena bahan bangunan memang sangat mahal karena harus didatangkan dari Surabaya atau Denpasar.

Secara umum, kawasan itu memang mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah beroperasinya PT NNT. Hanya saja, karena masyarakat sangat menggantungkan kehidupannya dari kegiatan NNT seperti menyewakan rumah untuk karyawan NNT, menyediakan tempat makan juga bagi karyawan NNT termasuk kontraktornya serta berdagang pulsa telepon seluler untuk kebutuhan karyawan NNT.

Dikhawatirkan masyarakat tidak akan bisa mandiri. Pada suatu saat nanti, jika penambangan NNT berakhir, kesunyian kembali melanda daerah itu. Keadaan akan menjadi lebih parah, karena selama ini rakyat terbiasa berdagang dengan pembelinya karyawan PT NNT yang jumlahnya cukup banyak.

Untuk itu, diperlukan pemikiran dari pemerintah daerah setempat, termasuk PT NNT sendiri, bagaimana agar perekonomian kawasan itu tidak menjadi terpuruk pada saat PT NNT se- lesai melakukan penambangan di sana.

"Hal itu memang menjadi salah satu pemikiran di NNT dan upaya-upaya ke arah itu sudah mulai dilakukan dengan berbagai pelatihan kepada masyarakat," kata Baiq Idayani, dari Public Relations NNT dalam sebuah percakapan dengan SPdi Mataram.

Selama ini masyarakat di sana menggantungkan hidupnya sebagai nelayan dan petani padi. Sekarang dengan banyaknya pendatang mereka banyak beralih profesi, meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan atau petani yang selama ini mereka geluti.

Kita khawatir, jika nanti usaha pertambangan itu berakhir, daerah yang selama ini begitu bergairah, kembali menjadi redup karena masyarakat di sana tidak mampu membuat usaha menunjang kehidupan mereka, selain melayani kebutuhan PT NNT.

Kita berharap, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan PT NNT, tidak lupa mencari upaya agar masyarakat di sana mampu mandiri, bahkan lebih maju dari yang sekarang mereka rasakan dengan kehadiran NNT. [M-5]


Last modified: 4/4/08