[JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua elemen bangsa untuk menyatukan energi dalam membangun bangsa. Menurutnya, selama ini banyak energi yang terbuang, bahkan sebaliknya, melahirkan energi negatif. Presiden juga meminta agar demokrasi di Indonesia dibangun secara damai.
Pernyataan Presiden Yudhoyono itu disampaikan saat membuka Musyawarah Besar Ke-2 Kosgoro 1957 di Jakarta, Kamis (3/4). Pada kesempatan itu hadir juga Wakil Presiden (Wapres) yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Muhammad Jusuf Kalla, sejumlah menteri, pengurus DPP Partai Golkar, dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Kolektif Kosgoro 1957 yang juga Ketua DPR Agung Laksono. Acara itu dihadiri ribuan massa dan kader organisasi massa salah satu pendiri Golkar tersebut.
Presiden menegaskan bahwa energi positif lahir dari jiwa yang terang, bukan dari jiwa yang gelap. Selama 100 tahun kebangkitan nasional, kata Presiden, dilewati dengan kegelapan. Oleh karena itu, pada 100 tahun ke depan harus dilewati dengan jiwa yang terang sehingga bisa melahirkan energi-energi positif.
Sehubungan dengan itu, dia meminta semua pihak untuk tidak menggunakan cara-cara Machiavelian yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan-tujuan politik. Politik harus dibangun secara beradab dan bermoral.
Apalagi, 2008 ini merupakan tahun politik dan suhu politik akan panas. Lalu, 2009 merupakan tahun pemilu dengan persaingan yang keras. Presiden berharap, meskipun persaingan tinggi, tetapi persatuan dan keamanan harus tetap terjaga. Demokrasi harus dibangun secara damai, sehingga Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga akan semakin dihormati bangsa-bangsa lain.
Pendapat serupa disampaikan Agung Laksono. Dalam sambutannya, Agung menegaskan bahwa Kosgoro 1957 menentang cara-cara Machiavelian dalam sistem politik Indonesia. Dia mengajak semua kelompok masyarakat untuk membuat hal-hal yang baik saja untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Pada bagian lain, Presiden juga menegaskan bahwa bangsa yang bersemangat akan menjadi bangsa yang menang. Sebaliknya, bangsa loyo akan menjadi bangsa yang kalah. Oleh karena itu, dia mengajak seluruh elemen untuk menjadi bangsa yang semangat agar kemudian menjadi bangsa yang menang, terutama dalam pembangunan. Dia meminta Kosgoro 1957 menjadi pelopor dan berharap bisa ditiru oleh organisasi massa lain.
Dukungan
Pada kesempatan itu, Agung Laksono juga menegaskan dukungan Kosgoro 1957 terhadap seluruh program pemerintah yang dipimpin Yudhoyono-Kalla. Kosgoro 1957, kata dia, akan berjuang agar program-program pemerintah bisa terwujud. Namun, dia menegaskan bahwa Kosgoro 1957 sebagai organisasi massa tidak akan berubah menjadi partai politik karena aspirasi politik ormas itu disalurkan melalui Partai Golkar.
Tetapi sebagai organisasi massa, Kosgoro 1957 akan tetap bersikap kritis, korektif, namun tetap konstruktif terhadap pemerintah. Terkait dengan itu dia meminta pemerintah segera mengatasi kemiskinan dan mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.
Menanggapi itu, Presiden Yudhono menegaskan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi dengan iklan dan poster, tetapi harus dengan kerja nyata. Karena itu, dia menegaskan bahwa pemerintah akan terus bekerja keras mengurangi jumlah orang miskin dan pengangguran. [A-21]