![]()
Didit Majalolo
Resti (kanan) dan Rais terbaring di ruangan UGD RSCM, Jakarta, Kamis (3/4). Keduanya menderita luka bakar cukup parah, karena dibakar oleh tersangka Dodi, mantan kekasih Resti.
isah cinta mirip Romeo dan Juliet terulang lagi di Bekasi, Jawa Barat. Resti (23) dan Rais (23), yang baru saja berjanji menjalin tali kasih sebagai sepasang kekasih, kini berjuang melawan maut di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.
Keduanya menderita luka parah di sekujur tubuh setelah dibakar mantan pacar Resti, Dodi, saat keduanya sedang menonton layar tancap di Pasar Pagi, Jln Kepatang Raya, RT 13/14, Kelurahan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Rabu (2/4) malam.
Dodi, sang mantan pacar ternyata memendam rasa cemburu. Tak ada yang menyangka, pria pendiam dan tenang itu dan yang sudah dikenal akrab keluarga Resti, ternyata cemburu berat. Seperti kesurupan, Dodi membakar Resti dan Rais yang tengah asyik menonton layar tancap. Warga yang turut menyaksikan layar tancap itu pun kaget. Mereka kemudian membawa korban ke RSUD Bekasi. Namun, karena keterbatasan peralatan, kedua sejoli dirujuk ke RSCM.
Kamis (3/4) pagi, sekitar pukul 10.00 WIB, ruang UGD RSCM dipenuhi wajah-wajah panik, baik itu para suster, perawat, dokter dan keluarga dari Resti dan Rais yang tengah menunggu. Resti dan Rais sendiri tengah kritis. Seorang dokter berhenti sejenak dengan mata membelalak melihat keadaan Resti.
Ia kemudian melihat ke layar monitor, sekadar memastikan kondisi pasiennya itu. Dahinya kemudian berkerut, menggelengkan kepala dan berkata, "Berat Mbak, kondisinya sangat kritis." Hampir seluruh tubuh Resti terbakar. Nafasnya tersendat. Wajahnya hitam karena gosong. Darah segar terus merembes dari perban tangan kirinya.
Resti dan Rais dirawat berdampingan. Kedua sejoli itu ditempatkan di ruangan yang sama. Keduanya tidak bisa diajak bicara. Hanya Resti yang sesekali merintih.
Sedangkan, Rais yang terbujur kaku di sebelahnya, belum juga sadarkan diri. Kondisi luka bakar yang diderita Rais tidak jauh berbeda dengan yang dialami Resti. Hanya saja Rais, belum sadar. Matanya tertutup, begitu pun dengan bibirnya. Tidak satu respons pun yang bisa diberikan pria yang memiliki postur badan tinggi dan besar itu.
Keluarga Rais dan Resti di kampung sudah mengetahui kejadian itu. Saat ini, Rais hanya ditunggu oleh salah satu kerabatnya yang sedari pagi sibuk mengurus administrasi. "Permisi Mbak, silakan tunggu di luar dulu, pasien ingin diperiksa," kata salah satu petugas UGD RSCM. Beberapa dokter langsung mengerubuti. Selang satu jam kemudian, pintu ruang UDG dibuka lagi.
Resti ditungguin oleh kakak kandungnya, Hendrian yang terlihat cemas. Wajah pucat, mencerminkan beban hidup yang begitu berat. "Ibu dan Bapak saya belum tahu keadaan Resti yang gawat ini. Saya belum berani bilang. Sekarang ibu lagi dalam perjalanan," kata Hendrian.
Tepat pukul 11.00 WIB, orang tua Resti tiba. Sang Ibunda menangis pilu melihat keadaan putri bungsunya. Lututnya gemetar dan tubuhnya lemas seketika. Tetapi ia tabah melihat kondisi anaknya. Sesekali ia membisikan kata-kata penghiburan dan doa ke telinga sang anak sembari menitikkan air mata. Sedangkan ayah Resti memilih keluar ruangan untuk menenangkan diri. Resti hanya menggerakkan tangan kirinya sebagai respons atas pesan dan doa sang ibu.
Ringan Tangan
Hendrian menuturkan, mereka sangat mengenal sosok Dodi. Pria itu tinggal tak jauh dari kontrakan Resti. Dodi memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Namun baru-baru ini, kepada sang kakak, Resti berkeluh kesah, ternyata Dodi merupakan pemuda yang ringan tangan.
Tak tahan diperlakukan dengan kasar, Resti pun akhirnya berpaling pada Rais yang sehari-hari bekerja di kawasan Pasar Pagi, Mangga dua, Jakarta. Resti memang tidak pernah bercerita bagaimana kisah asmaranya ini dimulai. Sama seperti Dodi, Resti dikenal tertutup pada keluarga perihal kisah cintanya.
Hendrian hanya mengetahui bahwa Resti telah putus baik-baik dengan Dodi. Dan sejauh ini tidak ada masalah. Entah setan apa yang merasuk kepala Dodi sampai ia tega membakar wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Sekalipun mereka tidak lagi memiliki tali kasih asmara, bukan berarti tidak memiliki hubungan baik. Jauh di dalam lubuk hati Resti, masih menurut Hendrian, ia masih menganggap Dodi sebagai sahabat yang setiap saat bisa saling bercerita dan melempar canda.
Hendrian mengaku benar-benar terpukul melihat kulit wajah dan tubuh adiknya yang gosong dan terkelupas. Resti selama ini bekerja sebagai office boy di salah satu SD di Bekasi. Sedangkan Hendrian, kakaknya hanya seorang sopir. "Kita mah orang kecil Mbak, selain adik saya yang akan menderita, kita mana sanggup untuk melunasi biaya rumah sakit," katanya.
Kesulitan keuangan menjerat keluarga ini ketika dokter UGD RSCM mengatakan bahwa Resti butuh perawatan serius, karena akibat luka bakar Resti terkena gangguan ginjal dan pernapasan. Resti butuh alat pernafasan yang lebih maksimal. RSCM hanya bisa memberikan bantuan pernapasan buatan jika sewaktu-waktu keadaan kritis. Karena itu, disarankan sebaiknya Resti dibawa ke RS M Thamrin, Jakarta Pusat yang letaknya tak jauh dari RSCM. Biayanya sekitar Rp 14 juta. Ayah Resti yang duduk lemas, hanya terdiam.
"Saya ini orang susah Pak," kata ayah Resti lesu. "Saya mengerti, karena itu silakan bapak berunding dengan keluarga dulu," jawab dokter itu, kemudian berlalu.
Hendrian mengaku pusing. Untuk bayar uang muka sebesar Rp 14 juta saja ia tidak punya. Adiknya tidak memiliki asuransi. Belum lagi gaji yang tidak seberapa. Dalam kebingungan, Hendrian hanya bisa memeluk ayah dan ibunya yang juga bingung membiayai perawatan Resti. [Donita G Tolioe]