
enyesalan atas publikasi film Fitna karya Geert Wilders disuarakan oleh para delegasi yang menghadiri "Phnom Penh Interfaith Dialogue for Peace and Harmony 2008" di Phnom Penh, Kamboja, pada 2-6 April. Tidak kurang Sekretaris Parlemen Australia untuk Bantuan Pembangunan Internasional Bob McMullan mengutarakan kecaman serupa. "Film tersebut menimbulkan luka mendalam bagi masyarakat Muslim. Sesungguhnya hal itu tidak seharusnya terjadi," ungkap Bob McMullan dalam perbincangan dengan wartawan SP, Elly Burhaini Faizal di sela-sela dialog, Kamis (3/4).
Namun, McMullan tetap optimistis masyarakat di kawasan punya kapasitas untuk bekerja sama lebih baik, terlepas dari perbedaan agama. Perubahan tersebut tidak bisa dimungkiri merupakan hasil dialog antaragama dan peradaban. "Ada insiden yang patut disayangkan. Tetapi secara umum, dialog antaragama mencapai banyak kemajuan," tandas McMullan.
Dialog antaragama ini sangat penting untuk mewujudkan saling pemahaman.Toleransi merupakan kebutuhan mutlak di masyarakat yang semakin global. "Tidak ada seorang pun yang boleh bertindak dengan tidak hormat terhadap agama lain, atau menggunakan pandangan keagamaan untuk merusak," ia menandaskan.
Phnom Penh Dialogue yang merupakan kelanjutan pertemuan Waitangi, Mei 2007, dihadiri oleh delegasi dari 15 negara yakni Australia, Brunei, Kamboja, Fiji, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Dialog dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Kamis (3/4).
McMullan berharap sikap saling menghargai antarpenganut agama dan kepercayaan bsia ditingkatkan. "Saya sepakat dengan PM Hun Sen bahwa masyarakat akar rumput hingga orang-orang berkedudukan paling tinggi di negara-negara dalam kawasan harus sepenuhnya mendorong keterbukaan dan partisipasi tanpa mempersoalkan apa latar belakang agamanya," ujarnya.
Pemimpin Agama
Bagi McMullan, komunitas akar rumput perlu menyadari pentingnya berdialog dengan agama lain dan bersikap terbuka. Dalam hal ini, peran pemimpin atau tokoh agama sangat penting. "Dialog antaragama di tingkat akar rumput tidak mudah. Maka para pemimpin agama harus mempersiapkan jalan ke arah itu," McMullan berharap.
Secara terpisah, PM Hun Sen menegaskan tidak ada kejahatan yang dilatarbelakangi agama. "Kejahatan adalah kejahatan. Kriminalitas tetaplah kriminalitas. Kita tidak perlu mengait-ngaitkannya dengan agama," tegas Hun Sen.
Ia yakin, hanya satu atau dua Muslim yang melakukan kekerasan, seperti terorisme. "Tetapi apakah akibat perbuatan mereka itu lantas semua kesalahan harus ditimpakan kepada seluruh umat Islam? Kita harus bicara jujur tentang hal ini," ungkap Hun Sen. Pertimbangan serupa juga harus diberlakukan terhadap umat Buddha, Hindu, Kristen, Konghucu. Inilah perlunya para pemimpin hingga komunitas-komunitas di tingkat yang terendah, bersikap netral dalam memandang semua agama.
Pemerintah Australia, McMullan menandaskan, hingga kini berupaya keras menciptakan kesetaraan bagi seluruh rakyatnya yang beragam. Dua dari lima warga Australia lahir di luar negeri.
Sehingga tempat tanggal lahir warga Australia tersebar di 200 negara. Sepertiga penduduk Australia bukan beragama Kristen dan Buddha merupakan agama yang berkembang pesat di sana. Kepedulian dan pengakuan PM Kevin Rudd atas keragaman masyarakat terlihat jelas. Baru-baru ini, ia menyampaikan maaf atas perlakuan menyimpang terhadap masyarakat asli Australia, Aborigin. u