SUARA PEMBARUAN DAILY

Pameran Lukisan "Murni and Mondo"

Insting Erotis Gaya Bali dan Italia

SP/Ferry Kodrat

Lukisan berjudul "Make Love" karya IGAK Murniasih menyita perhatian para pengunjung pameran lukisan "Murni and Mondo" di Institut Kebudayaan Italia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/4).

Dinding di sebuah ruangan Institut Kebudayaan Italia di Menteng, Jakarta Pusat, mulai Kamis (3/4) hingga Senin (28/4) mendatang, akan terpajang sebanyak 35 lukisan karya dua pelukis yang ber- lainan budaya, I Gusti Ayu Kadek (IGAK) Murniasih dari Bali dan Mundo dari Italia.

Pameran dengan tema "Murni and Mondo" tersebut, menampilkan karya-karya yang diambil dari hasil perjalanan hidup kedua pelukis. Baik kehidupan yang getir dan menyakitkan, maupun yang membahagiakan karena memberikan sebuah kenikmatan sebagai manusia yang berlainan jenis kelamin.

Murni, demikian IGAK Murniasih biasa dipanggil, telah meninggal dunia akibat penyakit kanker pada 11 Januari 2006. Akan tetapi, Mondo, yang mengaku sudah 14 tahun hidup bersama Murni di Ubud, Bali, menganggap bahwa perempuan yang sangat disayanginya itu masih hidup.

"Murni telah banyak memberikan inspirasi bagi saya. Dia merupakan guru, istri, teman, dan segala-galanya buat saya. Saya selalu bahagia hidup bersama dia selama 14 tahun. Bahkan, kalau boleh saya sebutkan, hubungan kami lebih dari sebuah pernikahan," demikian kata Mondo kepada SP di sela-sela pameran hari pertama, Kamis (3/4) malam.

Di mata Mondo, Murni adalah pelukis besar. Meskipun dia bukanlah pelukis jebolan dari sebuah sekolah seni, karya-karya Murni telah memberikan inspirasi yang hakiki dalam kehidupan manusia.

Murni adalah manusia yang memiliki lembaran hitam dalam kehidupannya sebagai seorang perempuan. Pengalaman-pengalaman buruk itulah yang mampu diinspirasikan di atas kanvas. Sebagai pelukis otodidak, Murni memiliki permainan warna yang tajam, serta sapuan garis kuas yang kuat dalam mengekspresikan mimpi-mimpi buruknya tanpa pretensi.

Dari karya-karya yang ditampilkan di Institut Kebudayaan Italia tersebut, Murni membeberkan insting erotis, daya fantasi, dan kekuatan personal yang begitu kuat. Kalau diamati, karya-karyanya kadang liar, penuh kesakitan, tetapi ada juga yang penuh fantasi.

Karakter karya yang dimiliki Murni itu jangan lantas menyebut bahwa dia adalah pelukis pornografi. Meskipun banyak simbol seks, Murni telah berhasil mendeskripsikan bahwa seks dan tubuh adalah sesuatu yang sangat alami dan penuh logika. Dikotomi dan absolutisme fungsi tubuh inilah yang pada akhirnya membawa herarki dalam kehidupan sosial di berbagai kebudayaan yang mendominasi warisan nilai-nilai di dunia sekarang ini.

Tertarik

Daya inspirasi Murni itulah yang membuat seorang Mondo sangat tertarik dan akhirnya menjadikan dirinya sebagai orang yang paling dalam untuk mengerti perasaan Murni. "Murni telah memberikan sebuah gambaran bahwa perempuan di seluruh dunia ini selalu menjadi korban. Perempuan selalu hidup dalam bahaya," ujar dia.

Kepada SP, Mondo menjelaskan beberapa karyanya yang dipamerkan dalam "Murni and Mondo" ini. Kebetulan sekali, ketika berbicara dengan SP, posisi Mondo dekat dengan dua lukisan dengan ukuran yang sama 70x150 cm yang berjudul Bambinone in Processione dan Under the Table 4.

Pada dua lukisan itu, Mondo menjelaskan bahwa sosok bayangan perempuan yang erotis dalam Bombinone in Processione, maupun perempuan yang berada di bawah kekuasaan dalam Under the Table 4, dia ambil dari hasil jepretan fotografi.

"Ya, saya mengambil objek pada dua lukisan itu dari hasil fotografi yang kemudian saya tampilkan di atas kanvas melalui permainan tangan saya," ujar dia.

Meskipun banyak orang yang mengakui karya-karya Mondo, dia mengaku karta-karya Murni tetap lebih baik dari darinya. Itulah sebabnya, dia ingin membangun sebuah museum untuk menampung seluruh karya Murni yang kini jumlahnya tinggal tersisa 1.370 lukisan.

"Membangun museum lukisan bernama Murni di sebuah pulau kecil di dekat Ubud yang telah dibeli Murni, merupakan cita-cita saya, setelah sebelumnya saya bersama teman-teman telah membentuk yayasan. Tetapi, sampai sekarang cita-cita itu belum terwujud karena kami sulit mendapat izin dari pemerintah," kata dia. [F-4]


Last modified: 4/4/08