SUARA PEMBARUAN DAILY

Romantika Kelam di Tengah Perang

Foto-foto:Working Title Films

Film: Atonement

Sutradara: Joe Wright

Pemain: Saoirse Ronan, Romola Garai, Vanessa Redgrave, James McAvoy, Keira Knightley

Skenario: Christopher Hampton & Ian McEwan

Genre: Drama

Produksi: Working Title Films

Atonement memiliki semua kekuatan pada unsur filmnya. Wajar saja jika film ini masuk pada 14 nominasi dalam ajang British Academy of Film and Television Arts (BAFTA).

Jika Anda pernah menyaksikan Pride and Prejudice, tidak salahnya jika kemudian menyaksikan Atonement. Sekadar membandingkan dua film karya sutradara muda Joe Wright. Dua film yang cukup menggambarkan bakatnya sebagai sineas.

Atonement diangkat dari kisah novel yang ditulis oleh Ian McEwan. Sebuah novel yang cukup laris di Inggris. Hal ini sama ketika Joe Wright membuat Pride and Prejudice yang juga diangkat dari sebuah novel. Namun, kali ini Wright bekerja sama dengan Christopher Hampton untuk menulis skenario.

Atonement mengisahkan se- orang gadis bernama Briony Tallis yang berumur 13 tahun. Ia adalah anak dari keluarga kaya dan tinggal di sebuah rumah yang besar. Kegemarannya adalah menulis cerita dan naskah drama. Di rumah itu, Briony mempunyai seorang kakak yang cantik Cecilia (Keira Knightley). Cecilia jatuh cinta terhadap Robbie (James McAvoy), anak dari pelayan rumah itu Grace Turner.

Tetapi ternyata Briony yang masih 13 tahun itu juga jatuh cinta dengan Robbie. Briony tenggelam dengan fantasi dan kasmaran ala kanak-kanak. Ia menuangkan perasaannya dalam cerita yang ditulisnya.

Briony cemburu kepada Cecilia karena Robert lebih memilih kakaknya dibanding dirinya. Ia pun benci kepada Robert. Hingga suatu kali terjadi peristiwa perkosaan yang menimpa Lola, sepupu Briony. Namun, Briony mengaku melihat si pemerkosa itu, dan ia menunjuk Robert. Hingga akhirnya Robert pun diusir dari rumah itu.

Sementara itu, Cecilia yang merasa yakin bukan Robbie pelakunya, kabur dari rumahnya. Sebenarnya Briony pun tidak yakin benar bahwa Robbie pelakunya. Apa yang dilakukannya hanyalah sebagai luapan emosional kekesalannya saja.

Pada masa Perang Dunia II, Inggris ikut mengirim pasukannya ke berbagai negara di Eropa, dan Robbie pun ikut dikirim sebagai tentara di Perancis. Cecilia pun menyusul dengan menjadi perawat sukarela di rumah sakit. Rupanya hubungan Cecilia dan Robbie tetap terjalin meskipun perang terus berlangsung. Tetapi mereka akhirnya tewas dalam tugas.

Mengetahui pasangan itu tewas, rasa bersalah Briony semakin tidak dapat dihilangkan. Dialah yang menyebabkan pasangan itu berpisah dan menjalin kembali cinta mereka di medan pertempuran. Bahkan hingga keduanya tewas. Untuk menebus dosanya, Briony pun menuliskan kisah cinta mereka ke dalam sebuah cerita.

Sekilas kisah yang diangkat Atonement sekadar drama percintaan dengan seting Perang Dunia II saja. Namun, di balik itu banyak hal yang bisa menarik perhatian, seperti misalnya prasangka negatif yang akhirnya membuat orang lain menjadi korban, atau kekuatan cinta yang dimiliki oleh pasangan Cecilia dan Robert.

Para pemain film ini, James Mc Avoy dan Kiera Knightley menentukan jalinan cerita menjadi hidup. James McAvoy yang pernah bermain di The Last King of Scotland dan Becoming Jane, sangat menarik ketika memainkan karakter Robert, mahasiswa kedokteran yang jatuh cinta pada anak majikan ayahnya. Dalam beberapa adegan pesona Mc Avoy terlihat jelas sebagai aktor yang berkualitas.

Keira Knightley pun tidak kalah menariknya. Ia yang dikenal cocok dengan gaya puitis, dalam film ini ia terlihat sangat pas. Semua nuansa puitis dari Joe Wright berhasil ditampilkan oleh Knightley.

Namun, di antara dua aktor yang berhasil mencuri perhatian itu, sinematografi dan tata musiknya juga tidak kalah hebat. Bahkan mesin ketik tempo dulu pun menjadi alat musik yang menghasilkan suara yang tidak kalah menggetarkan dengan dentaman bass modern.

Film itu dibuka dengan Briony kecil yang asyik mengetik naskah drama. Suara ketikan itulah yang sepanjang film berbaur dengan musik latar film. Dario Marianelli yang pernah membuat original score untuk Pride and Prejudice dan The Brave One, dipercaya untuk menangani musik Atonement.

Namun begitu, Atonement juga tidak bisa lepas dari ketidakjelian. Pada beberapa sisi Atonement terasa dipadatkan. Hal ini mungkin untuk menjaga durasi film agar tidak terlalu panjang. Hal lain yang luput dari perhatian sutradara adalah adegan pada saat tiga orang tentara (termasuk Robbie) sedang berjalan menyusuri pinggiran kali kecil di mana bayangan pesawat terbang terlihat di air. Bayangan pesawat itu bisa tiba-tiba muncul dalam bayangan air, padahal pesawat aslinya tidak terdeteksi sebelumnya.

Namun, bagi para pencinta drama yang menguras rasa, Atonement bisa jadi film yang harus ditonton. Sekali lagi, tidak hanya cerita, hampir semua unsur dalam film ini memiliki keunggulan tersendiri. [SP/Kurniadi]


Last modified: 3/4/08