[JAKARTA] Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi (PE) pada triwulan I 2008 berada di bawah enam persen. Hal itu, disebabkan tingginya inflasi akibat tekanan harga pangan dalam negeri dan perlambatan ekonomi global.
"Kami awalnya memproyeksikan PE triwulan I 2008 sebesar 6,05 persen. Tapi dengan tingginya inflasi selama tiga bulan ini, pasti sekarang di bawah enam persen," kata Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S Goeltom, dalam jumpa pers seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Jakarta, Kamis (3/4).
Menurut dia, turunnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan melambatnya pertumbuhan ekspor karena adanya perlambatan ekonomi global. Selain itu, tingginya inflasi akibat tekanan harga pangan dalam negeri pada triwulan I 2008, juga menyebabkan daya beli masyarakat menurun.
Selama kurun waktu Januari hingga Maret 2008, tingkat inflasi telah mencapai 3,41 persen atau 8,17 persen secara tahunan. BI memperkirakan ke depan tekanan inflasi masih cukup tinggi, terutama akibat tingginya harga komoditas dunia (imported inflation).
Memperberat
Ketika ditanya apakah kondisi tersebut akan membuat BI merevisi target PE, Miranda mengatakan, hal itu sudah dilakukan. Pasalnya, BI menilai ketidakpastian kondisi perekonomian global dan tekanan inflasi yang masih tinggi memperberat upaya pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan.
Pada asumsi APBN 2008, BI menargetkan PE berkisar antara 6,2 persen sampai 6,8 persen. Namun dengan mempertimbangkan tekanan inflasi dan kondisi perekonomian global yang kurang kondusif sejak awal 2008, BI telah merevisi kisaran PE menjadi 6,2 persen sampai 6,5 persen dalam APBN-P 2008.
Hal itu menyebabkan nilai tengah (mid point) pertumbuhan ekonomi juga bergeser dari 6,5 persen pada awalnya menjadi 6,35 persen. "Kalau ditanya apakah kita akan melakukan revisi lagi, tentu harus melihat perkembangan ekonomi global dan dalam negeri selama beberapa bulan ke depan," ujar Miranda.
Dia menambahkan, tidak tertutup kemungkinan bagi BI untuk kembali merevisi target PE karena banyak negara yang melakukan revisi beberapa kali akibat kondisi perekonomian global yang tidak menentu. "India dan Tiongkok sudah dua kali lakukan revisi pertumbuhan ekonominya," kata Miranda.
"BI Rate"
Menyikapi tekanan inflasi dan mempertimbangkan prospek ekonomi global yang kurang kondusif, RDG BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 8 persen.
Menurut Miranda, BI senantiasa mengelola ekspektasi inflasi masyarakat, diantaranya dengan menjaga agar tidak terjadi kelebihan likuiditas di pasar uang. Selain itu, BI akan tetap berupaya mempertahankan kestabilan nilai tukar rupiah untuk menahan laju inflasi akibat barang-barang impor (imported inflation) yang harganya tinggi.
Selama triwulan I 2008, BI mencatat nilai tukar rupiah rata-rata sebesar Rp 9.258 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis, rupiah ditutup di Rp 9.210 per dolar AS.
"Kami akan tetap berupaya menjaga kestabilan rupiah dan memenuhi asumsi nilai tukar dalam APBN seperti yang telah disetujui dengan pemerintah, yakni Rp 9.100 per dolar AS," ujar Miranda.
Dia menambahkan, koordinasi dan kerja keras dari semua pihak terkait harus ditingkatkan untuk meminimalisir dampak ketidakpastian perekonomian global, sehingga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dipelihara. [J-9]