Oleh Ki Supriyoko
elum lama ini Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pimpinan Universitas Indonesia (UI) untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikannya, sehingga dapat dijadikan sebagai universitas berkelas dunia yang menjadi benchmark atau rujukan di antara negara-negara di kawasan Asia. Wapres mengingatkan UI agar tidak main-main dengan kualitas serta tidak mudah meluluskan mahasiswa. UI diminta menjaga kualitas dan menetapkan standar mutu bersama dengan universitas di negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Hal itu disampaikan Pak Kalla ketika menerima delegasi UI yang terdiri dari pimpinan lembaga pendidikan tinggi kebanggaan Indonesia itu di Istana Wakil Presiden. Pesan Pak Kalla tersebut kiranya sejalan dengan tekad UI, sebagaimana yang pernah dinyatakan Rektor Gumilar Rusliwa Somantri. Setelah dilantik menjadi nakhoda UI, Gumilar menyatakan akan membawa UI sebagai universitas berkelas dunia yang sanggup bersaing dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan di mancanegara.
Membawa UI sebagai universitas berkelas dunia jelas konstruktif serta perlu didukung, apalagi hal ini diperuntukkan bagi sebuah perguruan tinggi yang oleh masyarakat internasional sering dijadikan referensi keindonesiaan yang aktual. Namun, membawa universitas berkelas dunia saja tidak cukup bagi UI, tetapi akan lebih lengkap kalau di samping berkelas dunia juga sekaligus sebagai universitas berkarakter.
Adakah contoh universitas yang berkarakter sekarang ini? Tentu saja ada, salah satu di antaranya adalah Universitas Tokyo (University of Tokyo) atau Tokyo Daigaku atau Todai di Jepang.
Sebenarnya di Jepang banyak universitas ternama dan diminati masyarakat dunia seperti Universitas Kyoto yang berstatus PTN, Universitas Waseda, Universitas Keio, dan Universitas Meiji yang berstatus PTS. Meskipun universitas-universitas tersebut sangat dikenal, tapi Universitas Tokyo tetap memiliki kredibilitas lebih. Mengenai hal ini diakui oleh masyarakat Jepang sendiri.
Apakah buktinya? Suatu hari saya berkunjung ke Universitas Showa yang berada di pinggiran Tokyo. Tiga pertanyaan pertama yang keluar dari dosen penerima kami adalah Bapak berasal dari negara mana? Ketika saya jawab Indonesia, dia bertanya mengapa memilih berkunjung ke Universitas Showa? Ketika saya jawab ingin mengetahui manajemen yang bagus, dia bertanya lagi, apakah Bapak sudah berkunjung ke Universitas Tokyo? Pertanyaan ini merupakan pengakuan tidak langsung dari orang Jepang, termasuk civitas perguruan tinggi, atas kehebatan Universitas Tokyo.
Di Tokyo, yang terletak di Pulau Honshu dengan luas 2.187,08 km2, berpenduduk 12,36 juta dengan kepadatan 5.655 orang/km2, terdapat tiga jenis universitas; masing-masing state university alias PTN seperti Universitas Tokyo, Universitas Tokyo Gakugei, dan Universitas Ochano-mizu; private university alias PTS, seperti Universitas Keio, Universitas Showa, dan Institut Teknologi Musashi; serta perfecture university atau PTP seperti Universitas Metropolitan Tokyo. Di antara ketiga jenis universitas tersebut, Universitas Tokyo tetap mampu berdiri di depan.
Seperti Universitas Tokyo, UI juga berpotensi menjadi universitas terbaik di Indonesia dalam skala nasional. Bahwa UI harus berjuang keras menghadapi kompetitor ketat, yaitu UGM Yogyakarta dan ITB Bandung, kiranya merupakan hal yang tidak terelakkan. Di Jakarta sendiri UI tetap berdiri di depan di antara PTN dan PTS yang "bertaburan" di Kota Metropolitan ini.
Kalau jumlah mahasiswa Universitas Tokyo sekitar 28.000, jumlah mahasiswa UI jauh lebih banyak, sekitar 39.000 orang. Kalau Universitas Tokyo menghasilkan banyak tokoh yang duduk di pemerintahan, seperti Nobusuke Kishi, Eisaku Sato, Takeo Fukuda, Yasuhiro Nakasone, dan Kiichi Miyazawa, maka UI pun demikian, seperti Sumitro Djojonegoro, Emil Salim, Farid Anfaza Moeloek, dan Meuthia Hatta.
Membangun Karakter
Dalam skala internasional, Universitas Tokyo yang memiliki lima kampus, di Hongo, Komaba, Kashiwa, Shirokane, dan Nakano, juga menjadi universitas terbaik di Asia. Di dalam The Best of Asia's Best versi pengamat perguruan tinggi terkenal, seperti Murakami Mutsuko (Japan), Ian Jarrett (Australia), Law Siu-lan (Hong Kong), Andrea Hamilton (Singapora), dicantumkan Universitas Tokyo sebagai universitas terbaik di antara 10 universitas terbaik di Asia.
Dalam hal prestasi berskala internasional inilah UI yang masih harus mengakui keunggulan Universitas Tokyo. Memang oleh Majalah Times, tepatnya dalam dokumen Top 400 Universities: World University Rank-ings 2007 edisi November 2007, UI didudukkan di peringkat ke-395, tetapi Universitas Tokyo berada jauh di atasnya.
Kekurangan lain dari UI adalah soal karakter. Kalau kita mendengar nama Universitas Tokyo akan tergambar masyarakat Jepang dengan etos kerja dan budayanya. Universitas Tokyo dianggap mewakili masyarakat Jepang dalam etos kerja yang serba serius dan aneka budaya yang selalu dijunjung tinggi. Di sinilah kuatnya karakter Universitas Tokyo dan UI jelas belum memilikinya.
Jadi, kalau Pak Gumilar akan membawa UI Jakarta sebagai universitas berkelas dunia, jangan lupa karakternya pun harus dibangun. Ke depan kelak, kalau masyarakat internasional mendengar nama Universitas Tokyo dan tergambarkan masyarakat Jepang dengan etos kerja dan budayanya maka kalau mendengar nama UI Jakarta akan tergambar masyarakat Indonesia dengan kesantunan dan budayanya.
Selamat berjuang Pak Gum.
Penulis adalah mantan Rektor Univer sitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta; staf pengajar pada UGM Yogyakarta, UNY, dan lainnya