[JAKARTA] Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak menemukan satu pun bakteri sakazakii (Enterobacter sakazakii), setelah menguji 96 sampel produk susu formula dari 58 merek dengan berbagai kemasan dan rasa dari seluruh Indonesia. Informasi itu diperoleh SP dari BPOM, Rabu (2/4), terkait dengan respons lembaga tersebut atas hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menemukan bakteri tersebut dalam beberapa produk susu formula.
Pengujian itu dilakukan di laboratorium mikrobiologi pusat di Jakarta oleh 10 dokter ahli. Tiap sampel dalam kondisi yang baik, tidak cacat, dan telah teregistrasi, diuji dalam laboratorium steril. Pengujian itu dilakukan sejak 26 Februari 2008 dan ditargetkan selesai dalam waktu tiga minggu. Tetapi proses pengujian yang sangat rumit membuat hasilnya baru bisa dipublikasikan ke publik saat ini.
Meski menolak menyebutkan nama merek susu formula yang telah diuji, seorang pejabat BPOM yang meminta namanya tidak disebut, mengimbau masyarakat tetap mengonsumsi susu formula dan tidak resah atas pemberitaan sebelumnya. "Setelah hasil ini, susu-susu yang telah teregistrasi tersebut dapat terus dikonsumsi. Kami juga akan terus melakukan pengujian acak setiap tahun, meski tidak mendapat laporan lagi dari masyarakat," katanya.
Hasil penelitian BPOM soal susu formula ini diumumkan secara resmi Rabu siang ini oleh Kepala BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib di Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo).
Menanggapi hal itu, salah satu peneliti IPB Dr drh Sri Estuningsih hanya menyatakan bersyukur atas hasil penelitian BPOM yang menunjukkan produsen susu formula balita di Indonesia sudah meningkatkan kualitas produknya.
"Kalau memang hasilnya negatif, saya tidak bisa berkomentar banyak, Karena saya tidak tahu metode dan sampel yang digunakan BPOM. Kami meneliti sampel susu formula tahun 2003 sampai 2006," katanya.
Yang jelas, lanjut Sri, kalau penelitian dilakukan dengan metode dan standar yang sama, sesuai ketentuan WHO, hasilnya mungkin bisa diperdebatkan. Tetapi kalau metode dan sampelnya berlainan, hasilnya juga akan berbeda. Namun, dia menegaskan, hasil penelitian IPB bisa dipertanggungjawabkan. "Hikmahnya, para produsen atau pembuat susu formula balita menjadi ekstra hati-hati dan memang hal ini yang diharapkan peneliti IPB, sehingga aman dikonsumsi balita di Indonesia. Kalau produk di Indonesia memang masih buruk kualitasnya, jangan sampai Indonesia mengimpor susu formula sehingga harga di pasarannya pun akan mahal," ujarnya.
Seperti dilansir situs ipb.ac.id, laporan peneliti Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Sri Estuningsih, menyebutkan sebanyak 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara April-Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii.
Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menilai, pernyataan BPOM soal tidak adanya bakteri dalam susu formula terlalu terburu-buru dan cenderung menyesatkan. Karena, baru dua hari lalu dia mendapat informasi bahwa ada bayi berumur 28 hari di Padang yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula.
"Saya melihat bahwa sampel penelitian yang dipakai BPOM berbeda dengan yang dipakai oleh IPB, sehingga hasilnya jelas berbeda. Seharusnya sampel yang diteliti oleh BPOM sama dengan yang digunakan oleh IPB," tegas Arist. [MRS/126/M-15/E-7]