[MEDAN] Pencapaian pemberdayaan masyarakat Nias, Sumatera Utara (Sumut) setelah tiga tahun bencana gempa di Nias, Maret 2005, dinilai masih cenderung statis atau tidak bergerak ke arah lebih baik meski proses rehabilitasi dan rekonstruksi telah menghabiskan dana triliunan rupiah.
"Hal itu dikarenakan selama ini pendekatan yang dilakukan berupa konsep pemberian bantuan sehingga tidak jarang terjadi bantuan itu salah sasaran, tidak efektif dan efisien. Itu terjadi karena tanpa perencanaan yang aspiratif dan melibatkan partisipasi masyarakat," kata Ketua Badan Pengurus Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB), Esther Pormes Telaumbanua melalui siaran persnya yang diterima SP, Selasa (1/4), di Medan, Sumut.
Pemerintah pusat, tambahnya, melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias dinilai cukup banyak menyumbang bagi tumbuhnya mentalitas ketergantungan tersebut. Perlu ditegaskan bahwa pemulihan Nias belum selesai.
Dengan berakhirnya tugas BRR di Nias 2009, bukan berarti berakhirnya rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias karena kondisi keterpurukan dan ketertinggalannya yang selama ini dihadapi masyarakat, mesti menjadi agenda berkelanjutan guna mengeluarkan masyarakat dari kondisi kemapanan dalam keterpurukannya, katanya.
Diperlukan evaluasi bagi kepentingan keberlanjutan Nias terhadap semua kerja BRR dan lembaga swadaya masyarakat yang selama ini melakukan kegiatan penanganan masyarakat korban gempa dan tsunami. [151]