SUARA PEMBARUAN DAILY

Autisme Bukanlah Cacat Mental atau Sakit Jiwa

SP/Asni Ovier DP

Penyandang autis, Salvatore Andio (5) tengah belajar di rumahnya yang berada di Depok Timur, Depok, Jawa Barat, Selasa (1/4). Penanganan anak autis harus dilakukan secara dini, tetapi pemerintah pun diharapkan memberi perhatian kepada para penyandang autis yang memerlukan terapi dan sekolah khusus.

[JAKARTA] Anak yang menyandang autis harus ditangani secara dini dan diberi perhatian seperti layaknya anak biasa. Karena autisme bukanlah cacat mental atau sakit jiwa, melainkan gangguan perkembangan otak pada anak-anak yang menyebabkan komunikasinya terhambat.

Terkait dengan itu, Yayasan Autisma Indonesia (YAI) dalam peringatan hari Autisme Sedunia di Jakarta, Rabu (2/4) mengampanyekan pentingnya kepedulian khusus bagi anak penyandang autis. Melalui acara ini, yayasan yang beranggotakan orangtua para anak penyandang autis itu, mereka mengimbau pemerintah dan kalangan swasta agar berpartisipasi dalam membantu penanganan terhadap anak-anak autis, terutama di daerah.

Menurut Ketua Kampanye Peduli Autisme 2008, Stanley Bratawira, partisipasi tersebut dapat terwujud dengan penyediaan sarana pendidikan yang tepat bagi anak-anak autis itu agar dapat mandiri. Dalam peringatan tersebut, Dyah Puspita, ibu dan psikolog, ikut membagi pengalamannya dalam mendampingi dan merawat anaknya yang menyandang autisme, Ikhsan Priatama berikut penjelasan lainnya dari Melly Budhiman tentang autis.

Terapi Khusus

Sementara itu, Regina Diniary, salah seorang ibu dari anak penyandang autis kepada SP Rabu pagi, menjelaskan bagaimana menangani anaknya, Andio (5), selama ini. Mengenai hubungan komunikasi, kata Regina, telah mengikutkan anaknya dengan terapi khusus bagi anak autis.

"Sekarang, Andio dapat mengerti apa yang disampaikan oleh orang yang berbicara dengannya. Namun ia tidak dapat merespons dengan ekspresi bahasa seperti anak lain," katanya.

Melalui terapi komunikasi itu, anak autis diajak untuk berkomunikasi dan bagaimana untuk merespons suatu percakapan. Hasilnya mereka dapat merespons percakapan tersebut menggunakan isyarat, seperti melakukan gerakan-gerakan. "Jika anak saya lapar, maka ia akan pergi ke dapur untuk mengambil piring atau mengusap perutnya," ucap Regina.

Ia juga mengatakan pendidikan yang mahal menjadi kendala bagi orangtua. Pendidikan anak autis yang menggunakan program khusus, seperti pendampingan atau guru bayangan, menyebabkan beberapa sekolah khusus untuk anak penyandang autis memasang harga "tinggi" bagi calon muridnya itu.

Untuk makanan, ibu yang tinggal di Perumahan Cenning Ampe, Depok, Jawa Barat itu mengakui, hanya mengurangi konsumsi makanan yang mengandung protein dan kasein untuk anaknya. Karena kedua zat tersebut tidak dapat diserap dengan baik dan menjadi racun dalam tubuh anak autis. Hal terpenting adalah menjaga kondisi anak tetap baik dan sehat, jangan sampai kekurangan gizi. [RRS/M-15]


Last modified: 1/4/08