SUARA PEMBARUAN DAILY

Sekilas

Menlu Kehilangan Kopor

Seorang menteri luar negeri (menlu) kehilangan kopor di Terminal 5 di Bandara Heathrow. Tidak disebutkan siapa menlu tersebut dan asal negaranya. Menurut Menlu Inggris David Miliband, Senin (31/3), menlu yang bersangkutan mengadukan kabar tidak menyenangkan tersebut ketika Miliband sedang menuju pertemuan di Slovenia. "Beliau meminta saya untuk menyampaikan kepada BA/BAA (maskapai penerbangan Inggris) sambil mengatakan segeralah," tambah Miliband.

Departemen Luar Negeri (Deplu) dan Kantor Persemakmuran Inggris tidak bersedia membeberkan nama menlu tersebut. Tetapi Juru Bicara Deplu Slovenia memperkirakan menlu dari salah satu negara Baltik.

Juru Bicara Menlu Lithuanian Petras Vaitekunas memperjelas pihaknya tidak mendapat masalah di Heathrow. Pejabat-pejabat Latvia dan Estonia pun tidak terbang lewat London. Memang pembukaan Terminal 5 yang baru dibuka beberapa hari lalu mengakibatkan sekitar 15.000 kopor dan tas tertimbun. [BBC/IGK/Y-2]

Oposisi dan Mugabe Bantah Sepakat

Oposisi Zimbabwe menegaskan bahwa mereka berada di ambang kekuasaan untuk memimpin Zimbabwe setelah menyangkal spekulasi yang menyebutkan mereka telah bernegosiasi mencari jalan terbaik untuk Presiden Robert Mugabe mundur. Baik pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai maupun pemerintahan Mugabe dengan tegas menyangkal spekulasi di media asing yang mengatakan, perjanjian telah dicapai untuk mengatur kepergian Mugabe setelah 28 tahun berkuasa, tanpa tergoyahkan.

"Tidak ada diskusi seperti itu dan ini hanya berita spekulatif. Hari ini kami menghadapi tantangan baru, dari pemerintah," kata Tsvangirai pada konferensi pers ketika ditanya tentang adanya kesepakatan antara kubunya dan partai Mugabe, ZANU-PF.

Spekulasi bahwa Mugabe akan turun sukarela daripada mengikuti pemilihan putaran kedua, beredar setelah sumber-sumber di ZANU-PF dan pemantau independen mengatakan, walaupun menang Tsvangirai tidak akan mendapat 51 persen suara yang dibutuhkan untuk dinyatakan menang. Juru Bicara Mugabe, George Charamba menilai spekulasi adanya kesepakatan merupakan berita tak berdasar. [Reuters/MRS/Y-2]


Last modified: 2/4/08