SUARA PEMBARUAN DAILY

Menafsir Ulang Kesucian Cinta Dewi Shinta

SP/Fuska Sani Evani

Dalang muda asal Bantul Ki Catur Kuncoro (33) mengolah epos Ramayana dengan kekinian dan membuka konsep seni mini wayang kulit di Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) Minggu lalu. Dalang muda ini tidak sepaham dengan pendapat stereotip perwatakan para tokoh pewayangan.

Kelir selebar satu meter, 10 tokoh pewayangan dalam epos Ramayana serta lima pengrawit, membeberkan proses kelahiran tokoh jahat Prabu Rahwana. Seorang tokoh resi yang sakti manderaguna, Begawan Wisrawa (ayah Rahwana) tergoda oleh paras jelita Dewi Sukesi (Ibu Rahwana) seorang putri kerajaan Alengka yang diceritakan sebagai kekasih Prabu Danapati (putra Begawan Wisrawa).

Akibat syarat harus mengubah sosok kedua orangtua Dewi Sukesi yang ternyata berasal dari golongan raksasa, menjadi wujud manusia, Begawan Wisrawa harus mentransfer ilmunya ke calon mantunya. Namun, dalam proses transfer ilmu di dalam ruangan yang amat sangat rapat tertutup, walau sudah tua renta Begawan Wisrawa hasratnya kepada Dewi Sukesi tiba-tiba bangkit. Maka terjadilah hubungan di antara mereka.

Dari hubungan itu, lahirlah bayi bersosok raksasa, seperti Prabu Sumali, Raja Alengka, ayahanda Dewi Sukesi. Kejahatan menciptakan kejahatan. Begitulah cerita asal mulanya tokoh Rahwana, si raja kejahatan berwajah sepuluh yang sangat angkara murka dalam epos pewayangan Ramayana.

Oleh sang ayah, anak raksasa itu lantas diberi hukuman bertapa hingga dewasa. Tanpa ada sisi kasih sayang orangtua, anak raksasa itu tumbuh menjadi sosok super jahat dan super kejam. Ki Catur Kuncoro (33) dalang muda kelahiran Bantul, ternyata tidak sepaham dengan pendapat stereotipe itu. Di tangan sang dalang, Rahwana disulap menjadi sosok sentral yang menggemparkan dan Dewi Shinta, istri Prabu Rama Wijaya, ternyata tidaklah sesuci yang dibayangkan.

Dalam program reguler pergelaran dan apresiasi karya seni pertunjukan yang digulirkan Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK), Ki Catur sengaja menampilkan inovasi karya seni pertunjukan yang menghadirkan pentas wayang kulit dalam sebuah bentuk sajian baru.

Minggu (30/3) malam lalu, pentas wayang kulit mini berdurasi satu jam itu, mendobrak kesadaran apa pun itu, akan dimenangkan jika sesuai dengan aroma kekuasaan. Dewi Shinta bukan lagi diculik oleh Rahwana sang Raja Alengkadiraja. Tragedi penculikan istri Rama itu disponsori oleh Dewi Shinta sendiri. Dikisahkan, karena marah kepada suaminya, Dewi Shinta mengarang cerita penculikan itu dan hatinya tertambat pada sosok Rahwana.

Pada fragmen Ramayana berjudul Pertaruhan Cinta, digarap bersama Bondan Nusantara (tokoh ketoprak yang membidani munculnya ketoprak plesetan) dan Pardiman Djoyonegoro yang telah banyak dikenal dengan Acapella Mataraman-nya, Dewi Shinta tak lagi berjiwa suci. Namun, Rahwana pun tak lagi bengis dan sok kuasa. Bahkan Rahwana sengaja menantang duel Rama agar tidak melibatkan negara dalam urusan asmaranya.

Menurut Ki Catur, karya terbaru ini adalah hasil dari pengembangan konsep sederhana yang disebutnya Memanusiakan Wayang dan Mewayangkan Manusia, yaitu sebuah dasar pewacanaan untuk menemukan relevansi kejadian-kejadian di dalam cerita pewayangan, dikaitkan dengan situasi saat ini secara kontekstual dan aktual.

Perspektif Berbeda

Karena itu, walaupun lakon Pertaruhan Cinta ini diambil dari kisah pada epos Ramayana, namun akan lebih mengupas peristiwa dan sikap para tokoh di dalamnya, melalui tafsir baru dan perspektif yang berbeda. Begitu pula pada bentuk pertunjukan dan penyajiannya, Ki Catur Kuncoro menyebutnya dengan nama Wayangmu Wayangku, yaitu konsep penyajian pertunjukan yang menyertakan pemusik sebagai bagian dari konsep pertunjukan yang menyatu dan berada di dalam tema dan cerita yang dimainkan.

Selain itu, konsep ini juga merupakan perwujudan sebuah tatanan baru dalam penyajian pertunjukan wayang yang dikemas secara ringkas, yaitu pemusik dan instrumen musik dalam jumlah minimal, cerita dikisahkan dengan atraktif, padat dan komunikatif, serta membuka ruang interaksi antara wayang, dalang, pemusik, dan penonton.

Ki Catur dengan gesit menciptakan asal muasal kemarahan Rahwana. Dalam dialog antara Rahwana dan Jatayu, tampak jelas bahwa Rahwana murka karena sosok ayahnya dijadikan bahan tertawaan. Selama ini, kata Ki Catur, Rahwana menjadi ikon kekejaman, karena yang membuat adalah pihak yang berkuasa. Jika saja Rahwana menang, maka tentunya epos ini akan punya makna yang berbeda.

Ki Catur Kuncoro yang menekuni dunia perdalangan sejak tahun 1991 itu memaparkan, dia tidak ingin konservatif, tapi juga tak ingin terlalu naïf. Dalam berkesenian, tetap juga harus mengandalkan resepsi pada masa di mana dia berada.

Maka dari itu, konsep penjungkirbalikan para tokoh Ramayana ini merupakan sebuah resepsi seni semata. Prihatin? Mungkin saja. Dalam benak dalang muda ini, kemunculan tokoh yang tidak sekadar ikon menyebabkan dirinya harus berproses untuk memerdekakan pikiran. Pertentangan? Hidup ini adalah pertentangan, namun asal muasal pun tak bisa luput dari tujuan.

Ki Catur Kuncoro, sengaja memunculkan dialog "goro-goro" dengan sedikit satire. Dewi Shinta yang diperdebatkan oleh Gareng dan Bagong ditampilkan sebagai sosok perempuan muda yang tidak puas dengan keadaan. Sisi kekecewaannya, urung menjadi permaisuri Rama di kerajaan, harus hidup di tengah hutan, tak setimpal dengan pengorbanannya. Namun yang membuat Shinta naik pitam, Rama selalu runtang-runtung dengan adiknya, Laksmana. [SP/Fuska Sani Evani]


Last modified: 2/4/08