SUARA PEMBARUAN DAILY

Inflasi Maret 0,95 Persen

BI Rate Berpeluang Naik 0,25 Persen

Abimanyu

Deputi Bidang Statistik Distribusi, Ali Rosidi (ketiga dari kiri), memberikan penjelasan tentang tingkat inflasi di gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta Pusat, Selasa (1/4).

[JAKARTA] Inflasi Maret 2008 yang mencapai 0,95 persen, akan menyulitkan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga dari level 8 persen. Bahkan ada peluang BI menaikkan suku bunga (BI Rate) sebesar 25 basis poin atau 0,25 persen menjadi 8,25 persen.

"Jika tekanan inflasi pada April 2008 masih tetap tinggi akibat lonjakan harga bahan makanan dalam negeri dan kenaikan harga minyak dunia, BI sulit menurunkan suku bunga," kata ekonom senior PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Ryan Kiryanto, kepada SP, di Jakarta, Selasa (1/4).

Dari sisi moneter, lanjutnya, solusi untuk mengendalikan lonjakan inflasi yang efektif adalah dengan menaikkan suku bunga. Hal itu juga dilakukan negara-negara lain, seperti Tiongkok, Eropa, dan Asutralia, yang saat ini tengah dihadapkan pada inflasi yang tinggi.

Namun di sisi lain, kenaikan BI Rate akan mendera pelaku usaha, sehingga akan menyebabkan perlambatan ekonomi dan permintaan kredit akan merosot. "Makanya koordinasi dari BI dan tim ekonomi pemerintah harus ditingkatkan untuk mengontrol inflasi agar terkendali," ujar Ryan.

Dia menilai, inflasi Maret yang mencapai 0,95 persen, atau 8,07 persen (year on year) juga akan membuat pemerintah dan BI sulit mencapai target inflasi sebesar 6,5 persen sesuai asumsi dalam APBN 2008. Hal itu bukan hanya disebabkan tekanan dari harga bahan makanan, tetap juga akibat masih tingginya harga komoditas dan minyak dunia. Apalagi, pemerintah baru saja menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan nonsubsidi.

"Upaya mencapai inflasi 6,5 persen, hanya bisa dilakukan apabila tekanan harga terhadap bahan makanan dapat dikurangi, sehingga terjadi keseimbangan di sisi pasokan dan permintaan," jelasnya.

Dia menambahkan, tingginya inflasi Maret 2008 di luar estimasi para ekonom, bahkan BI yang memperkirakan akan lebih rendah daripada inflasi Februari 2008. Para ekonom memproyeksikan inflasi Maret akan berkisar pada angka 0,6-0,8 persen. BI memperkirakan inflasi Maret 2008 di bawah 0,65 persen pada Februari 2008.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S Goeltom mengatakan, BI tidak akan merespons tingginya inflasi Maret 2008 secara berlebihan. Hal itu disebabkan tekanan inflasi yang tinggi memang sudah diperkirakan.
"Tekanan inflasi belum hilang, jadi kita masih mengawasi. Tentunya, kita juga menyadari bahwa inflasinya berasal dari harga komoditas dunia, jadi tidak perlu direspons terlalu berlebihan," ujarnya.

Menurut dia, tekanan inflasi masih bersumber dari tekanan harga pangan dan komoditas atau dari sisi penawaran. Untuk itu, BI akan meresponsnya dengan membuat kebijakan yang dapat mengendalikan tekanan inflasi.

Fenomena Global

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Ikhsan Modjo menuding ketidakberesan pemerintah dalam menjaga stabilitas moneter sebagai penyebabkan tingginya inflasi.

"Angka 0,95 persen terbilang tinggi. Ada yang tidak beres dengan stabilitas moneter kita. Hal ini akan mempengaruhi inflasi hingga April jika tidak ada pengendalian moneter," katanya kepada SP, Selasa malam.

Indikasinya dapat dilihat dari tingginya inflasi komponen inti Maret 2008 sebesar 0,87 persen. Komponen inti ini, menyumbang andil inflasi 0,49 persen terhadap inflasi bulanan.

Angkanya tertinggi, setelah komponen yang harganya diatur pemerintah sebesar 0,16 persen, dan komponen bergejolak sebesar 0,30 persen. "Komponen inti ini merupakan tanggung jawab Bank Indonesia (BI) karena menyangkut persoalan moneter. Ini pertama kalinya inflasi komponen inti lebih tinggi dibanding komponen bergejolak. Padahal, biasanya komponen inti selalu lebih rendah dari komponen inti. Kalau komponen bergejolak itu kan soal harga beras, dan produk-produk pertanian. Artinya, persoalan moneter lebih berpengaruh daripada harga barang komoditas," ujar Ikhsan.

Meski demikian, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ali Rosidi mengklaim, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas bahan pangan. Inflasi tinggi saat ini juga menjadi fenomena global yang dialami juga oleh beberapa negara.

"Memang, inflasi Maret 2008 cukup tinggi jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, 2006 dan 2007, walaupun Maret 2005 inflasi sempat menembus angka di atas satu karena kenaikan BBM. Tetapi, faktor global ikut mempengaruhi. Saat ini, beberapa negara juga mengalami hal serupa. Inflasi di Jepang juga sedang tinggi," katanya.

Ali menolak mengomentari target inflasi yang akan dicapai pemerintah. Dia berpendapat, institusinya hanya mengolah angka sesuai data. "Saya enggan mengomentari, target inflasi pemerintah itu tercapai atau tidak," ucap Ali singkat.

Hal serupa diungkapkan pengamat ekonomi Faisal Basri. Sebagai negara "perkasa," pukulan karena tingginya inflasi ternyata dialami juga oleh Tiongkok. "Inflasi memang fenomena global. Tiongkok, negara yang segitu hebatnya saja kena inflasi. Inflasi mereka saat ini sudah di atas tujuh persen. Apalagi, kita yang kondisi negaranya seperti ini," ujar Faisal.

Faisal khawatir, laju inflasi tahunan 2008 mencapai tujuh persen. Apalagi, inflasi year on year dua bulan terakhir memang berkisar di angka tujuh persen. [CNV/J-9]


Last modified: 2/4/08