SUARA PEMBARUAN DAILY

Masih Ada Kejutan dari Krisis Ekonomi AS

[JAKARTA] Bank Dunia memperkirakan krisis ekonomi Amerika Serikat (AS) akibat kasus subprime mortgage (kredit perumahan berisiko tinggi) masih akan memberi kejutan bagi perekonomian global. Dampak dari krisis di AS yang sudah mulai terlihat, akan semakin dalam dan meluas, sehingga dapat menyebabkan keruntuhan pasar finansial (saham) dunia.

Bagi Asia Timur, meski dampak krisis subprime relatif kecil, namun dampak segera yang sudah jelas terlihat adalah penurunan tajam di pasar surat berharga lintas Asia Timur, terutama pasar saham.

Menurut Vikram Nehru, Chief Economist Bank Dunia untuk Asia Timur, penurunan tajam di pasar saham didorong oleh ketidakpastian dan likuidasi portofolio aset lembaga keuangan asing. Penururan juga dipicu oleh revaluasi risiko yang lebih realistis di pasar keuangan global secara keseluruhan dan penyesuaian perkiraan pendapatan dari investasi yang mendasar.

"Yang mengkhawatirkan jika penurunan harga saham memiliki efek menular melalui neraca perusahaan atau bank. Ini akan menjadi salah satu masalah sektor keuangan yang harus diawasi dengan ketat oleh pemerintah negara-negara Asia Timur," kata Vikram, dalam teleconference dengan wartawan media massa Indonesia, di Kantor Bank Dunia-Indonesia, Jakarta, Selasa (1/4).

Dia mengungkapkan, krisis di AS mulai menyebar ke negara-negara industri lain yang mengakibatkan penurunan nilai dolar AS, perlambatan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global. Untungnya, negara-negara yang terkena dampak menunjukkan tanggapan cepat terhadap krisis dengan menurunkan suku bunga secara agresif.

"Namun, gangguan keuangan AS masih akan memberi kejutan jika penularan krisis menyebar ke negara-negara industri secara besar-besaran," ujar Vikram.

Dampak

Sementara itu, Lead Economist Bank Dunia Indonesia, William E Wallace mengatakan, gejolak keuangan global akibat krisis AS mulai terasa dampaknya di Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami pertumbuhan hingga 52 persen pada 2007, cenderung mengalami koreksi pada triwulan I 2008. Bahkan selama Maret 2008, BEI mengalami koreksi cukup signifikan.

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) yang pada akhir 2007 ditutup di level 2.739,704 poin, terus terkoreksi hingga berada di bawah level psikologis 2.500. Pada perdagangan Selasa (1/4), IHSG ditutup melemah 70,553 poin (2,88 persen) ke level 2.376,746.

"Dengan kondisi perekonomian global yang tidak menentu, sangat penting bagi pemerintah Indonesia untuk membuat kebijakan moneter dan fiskal yang dapat melindungi kestabilan perekonomian, termasuk pasar keuangan," ujar William.

Saat ini, lanjutnya, AS sedang berusaha meningkatkan likuiditas di pasar finansial melalui kebijakan finansial dan moneter untuk menyelamatkan sistem perekonomian AS. Beberapa kebijakan yang dilakukan antara lain dengan beberapa kali memangkas suku bunga The Fed hingga kini menjadi 2,25 persen.

"Hal tersebut, dilakukan agar masalah resesi bisa selesai enam bulan dari sekarang. Selama jangka waktu tersebut, kita harus hati-hati karena ancaman dari resesi AS tidak boleh diremehkan," kata William. [J-9]


Last modified: 2/4/08