SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Paket Kiriman Hilang di Pesawat Lion Air

Pelayanan markapai penerbangan yang semakin kurang berkualitas tidak saja melanda para penumpang, tetapi juga barang-barang yang dikirim melalui jasa pengiriman (paket kiriman). Jika nyawa para penumpang semakin tidak aman, maka hal yang sama juga terjadi pada kehilangan barang yang dikirim. Buruknya pelayanan tersebut seakan-akan menjadi trend tersendiri di Indonesia. Sayangnya, perhatian untuk memperbaiki pelayanan tersebut sangat minim dari pemerintah maupun dari pengelola bisnis jasa penerbangan itu sendiri.

Lion Air sebagai salah satu maskapai penerbangan di Indonesia juga termasuk di dalamnya. Pada tanggal 20 Agustus 2007 lalu, kami selaku pengelola ekspedisi (Mitra Express Jaya/MEJ), melakukan pengiriman barang dari Jakarta ke Jayapura melalui agen PT Bina Alam Shah selaku agen Lion Air, menggunakan Lion Air nomor penerbangan JT 784 dan barang yang dikirim melalui MEJ itu hilang. Setelah menanyakan beberapa kali ke petugas Lion Air dengan waktu yang cukup lama, akhirnya diakui dokumen panduan sertifikasi guru milik Departemen Pendidikan Nasional seberat 38 kg itu hilang. Nomor surat muatan udara (SMU) dokumen tersebut adalah 990 8601 198777 3 dan nomor manifest cargo 07 068298.

Tanggal 3 Desember 2007, pihak Lion Air melalui Manager Cargo, Gunawan Tardan, memberitahukan bahwa dokumen milik Departemen Pendidikan Nasional RI itu tidak ditemukan tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Lion Air hanya memberikan kompensasi Rp 4,5 juta, padahal kerugian yang dialami pihak MEJ karena hilangnya dokumen tersebut sangat besar hingga menimbulkan ketidakpercayaan dari klien. Pelayanan yang selama ini diberikan MEJ pun terhenti karena ketidakjelasan tanggung jawab Lion Air. Sebaliknya, Lion Air sendiri tidak pernah terbuka untuk menjelaskan aturan-aturan terkait dengan kehilangan barang yang menggunakan maskapai tersebut. Beberapa kali kami tanyakan tanggung jawab dan standar operasional prosedur terkait dengan kehilangan kiriman barang melalui maskapai penerbangan Lion Air, tetapi tidak ada tanggapan.

Pelayanan yang diberikan oleh Lion Air tersebut menjadi cermin dan pembenaran betapa masih banyak sekali pembenahan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas di bidang ini. Kondisi seperti ini semakin memperburuk situasi dan jasa penerbangan di Indonesia yang sudah berada pada titik terendah.

Gideon Ketaren

Slipi - Jakarta

Anarkisme Massal, Kapan Berakhir?

Demonstrasi atau unjuk rasa yang kerap terjadi di mana-mana, entah itu demo mahasiswa sampai demo buruh sekalipun, sering diwarnai tindak kekerasan. Massa yang melakukan demo tidak puas sekadar berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan poster saja, tapi juga melakukan perusakan bahkan pembakaran.

Anarkisme massal tidak hanya terjadi di kota-kota, tetapi juga menjangkiti daerah-daerah pemukiman. Tawuran antar desa atau antar warga kampung marak terjadi di mana-mana, seolah melengkapi tawuran yang sudah kerap terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ingin melampiaskan kebencian dan meluapkan kemarahan seakan-akan hanya kekerasan yang menjadi jalan keluar. Ada yang lebih serius dan lebih terencana dalam menggunakan kekerasan, yang mempunyai proyek skala besar, yaitu untuk menggoyang penguasa.

Keran keterbukaan dan kebebasan pers tampaknya belum bisa disikapi secara bijaksana, baik langsung maupun tidak, turut pula memberi andil. Berita-berita amuk massal diekspos besar-besaran. Saking seringnya, lama-kelamaan masyarakat akan merasa bahwa anarkisme sesuatu yang biasa, bukan yang seharusnya dihindari dan dijauhi. Kekerasan akan dipandang sebagai suatu yang biasa, bukan penyimpangan.

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi di beberapa tempat di Tanah Air belakangan ini sungguh memprihatinkan karena semakin menambah beban masyarakat dan bangsa ini. Penyebab terjadinya kekerasan massal, antara lain karena kesenjangan sosial, lemahnya wibawa hukum, tersendatnya proses demokrasi, dan tersumbatnya komunikasi politik. Namun akan sangat berbahaya jika kesemua itu dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Hambatan-hambatan tersebut pada dasarnya akan selalu terjadi di dalam kehidupan.

Reza Sanubari

Jl Bukit Duri Selatan No 21 Tebet, Jakarta Selatan


Last modified: 2/4/08