
Mudji Sutrisno SJ
akna atau meaning merupakan arti asli atau awal ketika teks ditulis oleh pengarangnya. Ketika perbincangan makna dituliskan oleh komunitas bahasa maka pencarian atau penafsiran makna tempatnya di teks tertulis itu dan teks-teks yang sezaman (perhitungan waktu) serta yang se asal lokasi (ruang lokasi).
Sebelum untuk makna diberikan arti dalam konsensus komunitas bahasa dan sebelum ditulis, Gadamer (filsuf hermeneutika: ilmu tafsir teks), menamainya sebagai pre-text (Truth and Methods, 1960). Artinya, pra-teks adalah hiruk-pikuk wacana pra-tulisan yang harus ditukik pembaca untuk menangkap makna awal untuk kemudian dijernihkan dalam tatap temu dengan teks.
Yang dimaksud teks adalah tulisan yang merupakan wujud tertulis pengarang dengan "makna" di dalamnya. Yang paling pokok dari proses penafsiran adalah menemukan makna teks. Untuk itu, dibedakan lagi antara makna dengan relevansi kontekstual yang menjawab pertanyaan manfaat, atau guna, atau konteks relevannya untuk zaman kini atau ke depan. Jadi, relevansi kontekstual menaruh makna dalam gugatan pertanyaan pentingnya diacu makna teks itu dalam situasi kontekstual saat ini, bahkan ke depan. Dalam istilah Gadamer, disebut sebagai significance, semacam signifikansi konstektual yang hanya akan ditemukan dan dipahami setelah menemukan makna teks lebih dulu.
Maka, kerja menafsirkan secara bertahap adalah menangkap makna lalu mencari signifikansinya, sehingga penafsiran berjalan terus dan kehidupan dengan maknanya dari zaman ke zaman lewat teks tulis diteruskan karena makna tiap kali menemukan signifikansinya dalam perubahan zaman.
Di mana rancu-rancu penafsiran makna dan konteks signifikansi berlangsung? Dalam pseudo-teks, yaitu, teks "semu" yang merupakan perbincangan yang ditulis, makna dan signifikansi masih campur-baur dengan kabar bohong; atau makna seolah-olah wacana rumor, "gosip" yang seakan-akan menuju makna dan relevansinya, tetapi masih semu benar dan harus dicek dalam segi tiga kata kunci, teks; pra-teks dan pseudo-teks (teks pseudo). Dalam wacana Jawa bisa dicontohkan ungkapan yang merangkum ketiganya yaitu, "perbincangan para tukang warung atau penjual kelontong keliling yang menyebarkan ke mana-mana apa yang dianggap benar.
Horison Kehidupan
Prinsip-prinsip penafsiran dalam mendekati makna lalu berada dalam teks yang memuat meaning, dicari, dan didekati lewat kesediaan peleburan cakrawala si pembicara dan cakrawala beradanya makna dalam teks itu seturut waktu dan lokasi. Maka jangan mencari makna penulisan sejarah proklamasi 17 Agustus 1945 di teks-teks abad 16 atau abad 10. Tetapi, maknanya harus dicari dalam teks-teksnya Bung Hatta berjudul Sekitar Proklamasi dengan membandingkannya dengan teks tulisan Ahmad Soebardjo dari periode waktu semasa dan lokasi dekat.
Peleburan cakrawala adalah sikap kerendahan hati penafsir yang dengan kesadarannya menyadari keberadaan teks pada "dasein" kehidupan di mana peristiwa yang terjadi berada dalam satu horison kehidupan manusia dan bukan di luar bumi kehidupan ini. Dalam dialog makna bertemu makna lalu ditangkap relevansinya, yaitu signifikansi makna yang menugasi penafsir untuk melanjutkan tugas memuliakan kehidupan dengan menyajikan kebenaran makna dan kebenaran signifikansi pada generasi-generasi berikutnya.
Prinsip berikutnya adalah kesadaran menafsirkan teks dalam bahasa baik tulisan (harafiah teks tertulis) maupun "teks simbolik", yaitu kehidupan yang dibahasakan dalam tanda, simbol-simbol semiotika, dan yang diteruskan lewat ikon-ikon, kode-kode, kisah narasi mitis lisan dan gambar-gambar simbolik tak tertulis lainnya. Menafsirkan teks tertulis sudah jelas harus secara sadar menapaki pengakuan teks sebagai bentukan (konstruksi) bahasa aksara yang merangkum pengalaman dan peristiwa hidup di alam dan dengan sesama dalam saling memaknai dan memberikan arti pada realitas, sehingga kehidupan bisa dijalani terus dan tidak krisis acuan makna.
Menafsirkan teks tulisan sekaligus juga membuka kesadaran bahwa amat banyak sisi realitas hidup yang tidak mampu dirumuskan tertulis sebagai teks. Apalagi wilayah bawah sadar manusia, ranah dan wilayah hati intuisi manusia yang tidak berbahasa logis, rasional.
Wacana Intelektual
Jacques Lacan meneliti wilayah ini dalam wacana-wacana yang mengungkap ketidaksadaran dan bawah sadar dari hasrat manusia yang kadang kala, bahkan kerap kali, jauh lebih menentukan jalan hidup dan makna simboliknya daripada bahasa tulis. Lacan dalam teks L'Ecrits (1970) membagi ragam wacana yang bersumber dari hasrat yang dalam wacana justru membentuk dan menentukan konstruksi makna dan signifikansinya lebih dari teks-teks formal, resmi tertulis.
Wacana itu adalah pertama, wacana intelektual, bawah sadar hasrat cendekiawan mau mendominasi arah hidup dan makna dengan kebenaran akademik yang mau sok resmi ilmiah mengatur dan menyingkatkan wacana yang tidak sekolahan. Kedua, wacana penguasa, yang dengan hasratnya mau mendominasi arah wacana, menguasai makna menurut kepentingannya yang dilawan dengan wacana hasrat lawan penguasa. Sedang ketiga, yang campuran, terjadi dalam wacana histeria, di mana kesadaran dan ketidaksadaran rancu tercampur; antara bawah sadar hasrat dan kesadaran berubah menjadi satu dalam histeria yang sulit ditangkap makna dan relevansinya oleh logika bahasa nalar dan sadar.
Untuk itulah proses menafsirkan akhirnya membutuhkan keahlian kejiwaan dengan kemampuan membingkai konstruksi bawah sadar super ego dan naluri manusia serta kesadaran egonya untuk memilah-milah yang histeria dari yang akademik serta penguasa, sehingga baik bahasa teks tertulis maupun bahasa wacana "lisan" menjadi ranah proses menafsir buat si penafsir-penafsir itu sendiri.
Dengan kata lain, ruang beradanya proses penafsiran sebelum menjadi teks tertulis atau masih dalam wacana atau rancu campur antara wacana, omong-omong, obrolan atau gosip sejatinya adalah wilayah luas kaya bernama kehidupan itu sendiri.
Bila kita sampai pada kesadaran ini, Anda yang penyair akan menafsir kehidupan ini dengan bahasa puisi (bahasa tulis simbolik) dan Anda yang seniman lukis akan menafsirkannya dalam bahasa warna atau garis. Sementara kehidupan yang ditarikan oleh seniman tari akan disuguhkan dalam tari dan disyukuri dalam tari ritual yang memuliakan kehidupan itu sendiri.
Bagi sang Sokrates, filsof akan difilsafatkan dengan mengatakan, hidup yang tidak direnungi dalam refleksi maknanya yang mendalam dan tidak dihayati dalam signifikansinya arti, sebenarnya, hidup itu tidak layak untuk ditapaki atau dijalani. Namun, Anda-andalah si penafsir "makna" dan signifikansi kehidupan ini dalam wacana yang mencari yang lebih benar, lebih indah, dan lebih baik meski belum dirumuskan tertulis dalam teks. Anda semua tetap sang pemberi sah akan makna itu.
Penulis adalah budayawan